Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto:  Investor Daily/DAVID

Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID

Prospek Wika Setelah Kinerjanya di Atas Ekspektasi

Parluhutan Situmorang, Jumat, 27 Maret 2020 | 07:08 WIB

JAKARTA, investor.id - Realisasi laba bersih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sepanjang 2019 telah melampaui ekspektasi analis. Pertumbuhan laba tersebut diharapkan berlanjut pada tahun ini, yang didukung oleh peningkatan perolehan kontrak baru.

Wijaya Karya atau Wika membukukan kenaikan laba bersih sebesar 32,1% menjadi Rp 2,28 triliun tahun lalu dibandingkan pencapaian tahun 2018 yang sebesar Rp 1,73 triliun.

Sedangkan pendapatan turun 12,7% menjadi Rp 27,21 triliun pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya Rp 31,15 triliun.

“Realisasi laba bersih tersebut setara dengan 101% dari target yang ditetapkan Danareksa Sekuritas, namun melampaui konsensus analis atau mencapai 112%. Pertumbuhan laba bersih tersebut didukung oleh keuntungan dari perusahaan patungan (joint venture/JV) kereta api cepat Jakarta-Bandung,” tulis analis Danareksa Sekuritas Maria Renata dalam risetnya, baru-baru ini.

Wika mencatatkan laba dari JV kereta api cepat Jakarta- Bandung melonjak 76% pada tahun lalu, seiring realisasi pembangunan proyek telah mencapai 58% menjadi Rp 939 miliar hingga akhir 2019.

Pertumbuhan laba bersih juga ditopang oleh penurunan beban bunga dari Rp 973 miliar pada 2018 menjadi Rp 884 miliar pada 2019. Perseroan juga berhasil mencetak kenaikan margin laba kotor sebesar 1,2% menjadi 12,8%. Begitu juga dengan margin laba bersih bertumbuh 2,8% menjadi 8,4% pada 2019.

wijaya karya
wijaya karya

Terkait penurunan pendapatan, menurut Maria, dipengaruhi oleh rendahnya raihan kontrak baru perseroan tahun lalu akibat pemilihan umum. Total kontrak baru tahun lalu senilai Rp 41,6 triliun atau menunjukkan penurunan sebesar 17,7% dari pencapaian tahun 2018. Hal ini membuat total kontrak proyek yang dibukukan perseroan tahun lalu hanya mencapai Rp 123,9 triliun.

“Dengan demikian pencapaian pendapatan tersebut hanya merefleksikan 76,1% dari target Danareksa Sekuritas dan setara dengan 78,5% dari perkiraan konsensus analis,” jelas Maria.

Selain kenaikan laba bersih, Danareksa Sekuritas memberikan pandangan positif atas keberhasilan perseroan mempertahankan DER tetap stabil sekitar 0,78 kali pada 2019 dibandingkan tahun 2018 mencapai 0,79 kali. Penurunan DER didukung atas peningkatan ekuiti perseroan. Perseroan juga mencatatkan arus kas operasional positif senilai Rp 833 miliar hingga akhir 2019 dibandingkan hingga September 2019 yang negatif Rp 3,8 triliun.

Hal tersebut mendorong Danareksa Sekuritas tetap optimistis terhadap pertumbuhan keuntungan Wika tahun ini. Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham WIKAdengan target harga Rp 1.900. Target tersebut merefleksikan PE tahun ini sekitar 2,1 kali. Pandangan serupa juga diungkapkan analis Mirae AssetSekuritas Indonesia Joshua Michael. Menurut dia, realisasi kinerja keuangan Wika tahun 2019 melampaui ekspektasi atau setara dengan 117% dari proyeksi Mirae Asset Sekuritas dan mencerminkan 113% dari konsensus analis.

Menurut Joshua, lonjakan laba bersih tersebut didukung oleh peningkatan keuntungandi luar operasional yang mencapai Rp 627 miliar tahun 2019, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 486 miliar. Hal ini membuat margin keuntungan laba bersih perseroan naik menjadi 8,4% sepanjang 2019.

Wijaya Karya,
Wijaya Karya,

Terkait pendapatan perseroan, Joshua menegaskan bahwa perolehannya di bawahperkiraan atau hanya merefleksikan 81% dari target Mirae Asset Sekuritas dan 79% dari konsensus analis. Hal ini terlihat dari penurunan pendapatan dari segmen infrastruktur dan bangunan sekitar 14,6% menjadi Rp 17,6 triliun.

Begitu juga pendapatan dari proyek EPC turun dari Rp 5,1 triliun menjadi Rp 3,9 triliun. Tahun ini, kinerja keuangan Wika diproyeksikan lebih baik ditambah dengan dukungan posisi keuangan perseroan yang tetap sehat.

“Meski demikian, kami memangkas turun target pertumbuhan pendapatan perseroan tahun ini sebesar 6%. Sedangkan perkiraan laba bersih direvisi naik hingga 6%,” ungkapnya.

Mirae Asset Sekuritas merevisi turun target pendapatan Wika tahun ini dari Rp 32,66 triliun menjadi Rp 30,76 triliun.

Adapun estimasi laba bersih direvisi naik dari Rp 1,63 triliunmenjadi Rp 1,72 triliun tahun ini. Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham WIKA dengan target harga direvisi turun dari Rp 1.950 menjadi Rp 1.500. Pemangkasan target harga mengindikasikan penundaan pembangunan sejumlah proyek akibat pandemik Covid-19. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PE tahun ini sekitar 4,3 kali.

Sebelumnya, analis Maybank Kim Eng Sekuritas Arnanto Januri dan Isnaputra Iskandar dalam risetnya, mengungkapkan, Wika merupakan perusahaan konstruksi BUMN yang memiliki prospek tingkat pertumbuhan paling tinggi dan paling rendah dalam risiko keuangan. Hal ini didukung atas tesis perseroan mendapatkan keuntungan pesat dari proyek kereta api cepat Jakarta- Bandung, neraca keuangan yang sehat untuk mendukung investasi dan mengejar kontrak baru, dan mulai gencar untuk menghasilkan pendapatan berulang.

“Kami memperkirakan recurring incomes akan berkontribusi di atas 15% terhadap pendapatan tahun 2023 dibandingkan posisi saat ini masih di bawah 10%,” ungkap Arnanto dan Isnaputra.

Salah satu proyek Wijaya Karya.
Salah satu proyek Wijaya Karya.

Maybank Kim Eng Sekuritas memproyeksikan peningkatan laba bersih Wika menjadi Rp 2,15 triliun tahun 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 2,10 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 1,72 triliun.

Pendapatan juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 38,58 triliun tahun 2020 dibandingkan proyeksi tahun 2019 senilai Rp 30,74 triliun dan perolehan tahun 2018 yang sebesar Rp 31,15 triliun. Proyeksi kenaikan kinerja keuangan tersebut didasarkan atas perkiraan perolehan kontrak baru perseroan mencapai Rp 61 triliun tahun 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 54 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 50,56 triliun.

Sedangkan total kontrak yang ditangani (order book) diproyeksikan naik menjadi Rp 168,64 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 mencapai Rp 142,16 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 123,45 triliun.

Target Laba

Sebelumnya, manajemen Wika menargetkan laba bersih tahun ini tumbuh 11,41% menjadi Rp 2,92 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 2,62 triliun. Salah satu strategi perseroan adalah mengejar target kontrak baru 2020 sebesar Rp 65,5 triliun, melonjak 59,7% dibanding realisasi 2019 sebesar Rp 42 Terkait pandemic Covid-19,

Wika - wijaya karya
Wika - wijaya karya

Sekretaris Perusahaan Wika Mahendra Vijaya mengatakan, perseroan mengevaluasi sejauh mana dampaknya terhadap target-target perseroan, utamanya target kontrak baru tahun ini.

Perseroan belum merilis nilai kontrak baru yang telah diraih sepanjang tahun berjalan ini (year to date/ytd). Namun, per Januari 2020, perseroan baru mengantongi nilai kontrak baru Rp 822,43 miliar, yang sebanyak 52,27% berasal dari swasta, 43,97% pemerintah, dan sisanya 3,77% BUMN.

Sembari mengejar target kontrak baru, Wika pun mulai merealisasikan pekerjaan dari kontrak yang telah diraih perseroan pada tahun lalu. Salah satunya adalah proyek luar negeri, yakni gedung tertinggi Tour de Goree di Senegal, Afrika Barat. Kesepakatan terkait proyek ini telah ditandatangani Wika dengan lembaga yang dikendalikan pemerintah Senegal, yakni L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE) pada 2 Desember 2019..

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN