Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Ilustrasi. Foto: Pixabay

Proyeksi Emisi Surat Utang Korporasi Direvisi Jadi Rp 116,9 Triliun

Thereis Love Kalla, Senin, 11 Mei 2020 | 10:04 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merevisi proyeksi penerbitan surat utang korporasi tahun ini menjadi Rp 116,9 triliun dari semula Rp 158 triliun. Revisi tersebut mengacu pada target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 1,2% tahun ini akibat terdampak pandemi Covid-19.

“Target awalnya Rp 158 triliun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,2%. Jadinya berubah karena adanya pandemi, karena ada peningkatan risiko. Kami melihat pertumbuhan ekonomi tahun ini mungkin akan jauh dari target, sehingga kami asumsikan pertumbuhan ekonomi hanya 1,2%,” papar Head of Economist Pefindo Fikri Permana dalam konferensi pers virtual, akhir pekan lalu.

Dia menegaskan, target baru sebesar Rp 116,9 triliun terbilang moderat, dengan asumsi pandemi Covid-19 berakhir pada Agustus 2020. Namun, jika pandemi berakhir lebih lama, semisal pada Oktober, secara pesimistis target penerbitan surat utang korporasi hanya sebesar Rp 96,4 triliun.

Revisi target tersebut juga mempertimbangkan biaya penerbitan surat utang yang diprediksi meningkat, seiring dengan kenaikan imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun menjadi 7,5% dari sebelumnya pada awal tahun sekitar 6,5%.

Dalam kesempatan yang sama, Senior Vice President Financial Institution Ratings Pefindo Hendro Utomo menyatakan, hingga 30 April 2020, pihaknya telah menerima mandat pemeringkatan surat utang dari 55 perusahaan dengan total nilai emisi sebesar Rp 71,2 triliun. Secara rinci, terdapat 30 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak perusahaannya dengan nilai emisi sebesar Rp 42,1 triliun. Sedangkan mandat pemeringkatan di luar perusahaan BUMN sebanyak 25 perusahaan dengan nilai emisi Rp 29,1 triliun.

Menurut Hendro, hingga kuartal I-2020, penerbitan obligasi BUMN terbilang stabil. Adapun realisasi penerbitan obligasi BUMN hingga Maret 2020 naik tipis menjadi Rp 10,1 triliun dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 10 triliun. “Dari sisi pendanaan, BUMN tetap ada kebutuhan, selain itu minat dari investor masih tinggi untuk berinvestasi di obligasi BUMN," ungkapnya.

Sementara itu, nilai penerbitan surat utang korporasi di luar perusahaan BUMN tercatat sebesar Rp 17,2 triliun hingga kuartal I 2020 atau turun 10,8% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 19,3 triliun.

Secara rinci, mandat pemeringkatan surat utang terdiri atas beberapa jenis instrumen surat utang. Penerbitan Penawaran Uumum Berkelanjutan (PUB) baru menjadi instrumen terbanyak dengan emisi sebesar Rp 30,65 triliun.

Kemudian, mandat obligasi dengan emisi senilai Rp 13,65 triliun, surat utang jangka menengah atau Medium Term Notes (MTN) senilai Rp 10,2 triliun, dan rencana realisasi PUB senilai Rp 6,48 triliun. Selain itu, nilai emisi dari mandat penerbitan sukuk sebesar Rp 5,75 triliun, sekuritisasi senilai Rp3,5 triliun, dan sisanya surat berharga komersial senilai Rp 1 triliun.

Menurut Hendro, Pefindo telah merealisasikan mandat pemeringkatan surat utang dengan nilai emisi Rp19,1 triliun hingga April 2020. “Penerbitan dari perusahaan BUMN mencapai Rp 10,2 triliun dan perusahaan non-BUMN senilai Rp 8,9 triliun,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN