Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Astra International. Foto: DEFRIZAL

Astra International. Foto: DEFRIZAL

Pulihnya Kinerja Astra International

Senin, 20 Januari 2020 | 23:43 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Kinerja keuangan PT Astra International Tbk (ASII) diproyeksikan mulai pulih didukung pulihnya penjualan mobil nasional tahun ini. Sedangkan realisasi volume penjualan mobil perseroan sepanjang tahun lalu sudah sesuai ekspektasi.

Hal ini mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan perkiraan kenaikan laba bersih Astra International menjadi Rp 21,94 triliun pada 2020, dibandingkan perkiraan 2019 senilai Rp 20,64 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 21,67 triliun.

Pendapatan perseroan juga diharapkan meningkat menjadi Rp 246,16 triliun sepanjang 2020, dibandingkan harapan tahun 2019 senilai Rp 235,73 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 239,20 triliun.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, faktor utama pendongkrak penjualan mobil tahun ini datang dari penurunan tingkat suku bunga perbankan, seperti diketahui BI rate telah turun sebesar 100 basis poin tahun lalu.

“Kenaikan permintaan juga didukung kebijakan relaksasi uang muka pembelian kendaraan bermotor,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan penjualan mobil tahun 2020 akan kembali pulih dengan perkiraan kenaikan sebanyak 3% menjadi 1,08 juta unit. Pemulihan penjualan ditopang perkiraan pertumbuhan ekonomi moderat dalam kisaran 5,08-5,18% tahun depan.

Peningkatan penjualan juga didukung oleh penurunan tingkat suku bunga sekitar 100 bps pada 2019 dan relaksasi kredit kendaraan bermotor dengan pemangkasan uang muka.

Pemangkasan suku bunga ditambah relaksasi kredit kendaraan bermotor diharapkan meredam dampak negatif berlanjutnya penurunan harga komoditas dan sengitnya persaingan usaha penjualan mobil. Hal ini mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 8.000.

Terkait realisasi penjualan mobil sepanjang 2019 mencapai 1,03 juta unit atau menunjukkan penurunan 10,8% dari realisasi tahun 2018. Realisasi tersebut sudah sesuai ekspektasi.

“Realisasi penjualan mobil tersebut setara dengan 97,7% dari target kami. Penurunan penjualan dipengaruhi atas pelaksanaan pemilu April 2019, penurunan harga komoditas, dan kenaikan tingkat suku bunga,” terangnya.

Meski penjualan mobil nasional turun, dia mengatakan, Astra International mampu mencetak pangsa pasar (market share) solid mencapai 52,2% sepanjang 2019 atau meningkat dari realisasi tahun 2018 sebesar 50,6%. Bahkan, penurunan penjualan mobill perseroan cenderung rendah, Toyota hanya turun 5,7% tahun 2019.

Dibandingkan kompetitornya, seperti Suzuki, Honda, dan Mitsubishi turun berkisar 14,9-16,8%. Dengan perkiraan penurunan volume penjualan mobil tersebut dan penurunan margin keuntungan penjualan mobil bersamaan dengan berlanjutnya penurunan volume penjualan alat berat melalui PT United Tractors Tbk (UNTR), kinerja keuangan Astra International tahun 2019 akan berada di bawah tahun 2018.

Laba bersihnya diproyeksikan hanya mencapai Rp 20,6 triliun sampai akhir 2019. Hingga September 2019, Astra International mengumumkan realisasi pendapatan sebesar Rp 177,04 triliun, naik 1% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 174,88 triliun. Laba bersih turun 7% menjadi Rp 15,86 triliun dari Rp 17,07 triliun.

Keseimbangan Portofolio

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Selvi Ocktaviani memberikan pandangan positif terkait kian seimbangnya portofolio Grup Astra. Menurut dia, kontribusi segmen otomotif terhadap total pendapatan perseroan mengalami penurunan secara perlahan dengan perkiraan menjadi 44,6% tahun 2019 dan menjadi 43% tahun 2020, dibandingkan realisasi tahun 2017 mencapai 46,8%.

Penyumbang besar kedua berasal dari bisnis alat berat dan pertambangan disusul bisnis keuangan. “Penurunan kontribusi otomotif tersebut sejalan dengan harapan Astra International untuk menurunkan ketergantungan pendapatan dari prinsipan tertentu,” ungkapnya dalam riset tahunan Samuel Sekuritas.

Faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas Indonesia untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.500. Target tersebut juga merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitaar 13,9 kali. Perkiraan ini juga mempertimbangkan peluang pulihnya kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Samuel Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih Astra International menjadi Rp 21,78 triliun pada 2020 dibandingkan perkiraan tahun lalu Rp 20,27 triliun dan realisasi tahun 2018 sebesar Rp 21,67 triliun.

Pendapatan diharapkan meningkat menjadi Rp 255,21 triliun pada 2020 dibandingkanperkiraan tahun 2019 sebesar Rp 235,02 triliun.

Grup Astra sebelumnya melalui anak usahanya, PT Astra Tol Nusantara (Astra Infra) bersama mitra strategisnya Canada Pension Plan Investment Board (CPPIB) menyelesaikan akusisi 55% saham PT Lintas Marga Sedaya (LMS), pengelola ruas tol Cikopo-Paliaman (Cipali) dari PLUS Expressways International Bhd, anak usaha dari UEM Group Bhd.

Dengan selesainya proses akuisisi ini, maka saham LMS kini seluruhnya dimiliki oleh ASTRA Infra 55% dan CPPIB 45%. Group CEO Astra Infra Djap Tet Fa mengatakan, Astra Infra memiliki hubungan yang sangat baik dengan PLUS Expressways sebagai mitra sebelumnya dalam mengelola jalan tol Cipali. Kini CPPIB masuk sebagai mitra baru perseroan dalam mengelola jalan tol Cipali.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN