Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Foto: Perseroan.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Foto: Perseroan.

'Refinancing' Utang, Adaro Jajaki Pinjaman US$ 400 Juta

Jumat, 5 Februari 2021 | 05:31 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dikabarkan tengah menjajaki pinjaman sebesar US$ 400 juta dari sindikasi bank. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk melunasi (refinancing) utang.

Global Capital Asia melaporkan, perusahaan batu bara tersebut telah menyampaikan proposal kepada sejumlah grup kreditur. Para kreditur yang berminat mengucurkan pinjaman diberikan waktu hingga pertengahan Februari untuk menyampaikan penawaran.

Terkait laporan tersebut, Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira mengatakan, perseroan akan selalu berupaya memperkuat struktur permodalan, termasuk dari sumber pendanaan eksternal. “Sumbernya bisa dari bond atau loan,” kata dia kepada Investor Daily, Kamis (4/2).

Adapun salah satu utang terbesar perseroan adalah pinjaman sindikasi dengan plafon hingga US$ 1 miliar dari 14 bank internasional yang diraih pada 25 Agustus 2014. Ketika itu, pinjaman ini digunakan untuk melunasi obligasi dan refinancing pinjaman sindikasi lama. Jatuh tempo pinjaman ini pada 25 Agustus 2021.

Sementara itu, hingga kuartal III-2020, Adaro telah melakukan pembayaran cicilan sebesar US$ 108 juta. Saldo pinjaman yang terutang dari fasilitas pinjaman ini sebesar US$ 448 juta atau turun dari periode akhir Desember 2019 yang sebesar US$ 556 juta. 

Perseroan tetap mempertahankan arus kas bebas yang solid US$ 428 juta hingga kuartal III-2020, naik 10% dibandingkan periode sama 2019 yang sebesar US$ 437 juta. Perseroan terus menerapkan efisiensi operasional dan memperkuat struktur permodalan di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi.

Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings memperkirakan kinerja emiten pertambangan batu bara domestik lebih baik pada 2021, seiring dengan perbaikan harga batu bara. Selain itu, volume penjualan batu bara dari emiten pertambangan Indonesia diprediksi turut meningkat, yang juga akan mendukung sedikit peningkatan dalam metrik kredit setiap emiten.

Fitch mengasumsikan pemulihan harga batu bara Indonesia berkalori 4.200 kcal pada 2021 menjadi US$ 32,5 per ton dibandingkan 2020 sebesar US$ 27 per ton. Perbaikan harga juga mulai tampak pada akhir 2020 seperti yang diestimasikan.

Fitch mengestimasikan volume produksi industri batu bara bisa tumbuh 6% pada 2021 dibandingkan dengan penurunan sebesar 3% pada 2020. Kenaikan produksi akan membantu emiten batu bara untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik pada 2021, mengingat sebagian besar emiten telah berhasil menekan biaya produksi pada 2020.

Per November lalu, Fitch Ratings masih mempertahankan outlook stabil terhadap PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), serta Golden Energy and Resources Ltd (GEAR) yang merupakan bagian dari Grup Sinarmas.

Keunggulan

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, Adaro Energy merupakan perusahaan pertambangan batu bara dengan cadangan terbesar. “Cadangan yang besar ini akan menjadi keunggulan kompetitif bagi perseroan dalam jangka panjang,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Dengan mengasumsikan produksi batu bara perseroan yang mencapai 52 juta ton per tahun, jangka waktu penambangan (life time) tambang perseroan lebih dari 20 tahun. Adaro juga memiliki mesin pertumbuhan ke depan, yaitu tambang batu bara Kestrel di Australia. Hal itu menjadi nilai tambah bagi perseroan.

Andy memprediksi harga jual batu bara pada kisaran US$ 70 per ton pada 2021 dan diharapkan meningkat menjadi US$ 75 per ton pada 2022. Namun, tren kenaikan harga jual tersebut tidak diimbangi dengan produksi yang stabil. Hal itu membuat estimasi kinerja keuangan Adaro Energy pada 2021 dan 2022 lebih rendah dari perkiraan semula.

Volume produksi batu bara perseroan tahun 2021 direvisi turun dari 54 juta ton menjadi 52 juta ton. Sedangkan harga jual diperkirakan bertahan pada level US$ 70 per ton. Dengan asumsi tersebut, perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021 diturunkan dari US$ 2,68 miliar menjadi US$ 2,54 miliar. Estimasi laba bersih juga dipangkas dari US$ 338 juta menjadi US$ 323 juta.

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas menaikkan rekomendasi saham ADRO menjadi beli dengan target harga Rp 1.765. Katalis jangka pendek penguatan harga ADRO berasal dari kenaikan harga jual batu bara global.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN