Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Restrukturisasi Utang Krakatau Steel Segera Disepakati

Farid Firdaus, Senin, 15 Juli 2019 | 19:30 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menandatangani perubahan dan pernyataan kembali perjanjian pokok utang dengan lima bank dalam negeri. Dari kesepakatan tersebut, perseroan juga meraih pinjaman senilai US$ 200 juta untuk kebutuhan modal kerja.

Bank yang ikut terlibat dalam kesepakatan ini adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Penandatanganan ini turut disaksikan oleh perwakilan dari bank swasta yang terdiri atas PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank ICBC Indonesia, Standard Chartered Bank Indonesia, dan PT Bank DBS Indonesia.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, kesepakatan dengan lima bank ini merupakan bagian dari restrukturisasi utang perseroan yang mencapai US$ 2,2 miliar. Hal ini dilakukan agar kinerja perseroan mampu kembali sehat dan berdaya saing.

“Detail skema restrukturisasi masih dalam proses pembahasan dengan para kreditur. Hasilnya tunggu seminggu lagi,” jelas Silmy kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (15/7).

Krakatau Steel pun memperoleh pinjaman untuk tambahan modal kerja senilai US$ 200 juta dari kerja sama pembiayaan dengan para bank tersebut.

Menurut Silmy, dalam memenuhi perjanjian kerja sama ini, Krakatau Steel berkomitmen untuk menjaga kelangsungan operasional perseroan dan anak usaha. Restrukturisasi yang dilakukan melibatkan anak-anak usaha Grup Krakatau Steel. Program ini diharapkan membuat unit-unit kerja di internal Krakatau Steel akan lebih optimal, sehingga mampu menjalankan bisnis secara efisien dan lebih produktif.

Silmy menambahkan, dalam restrukturisasi bisnis dan organisasi, langkah-langkah yang dilakukan Krakatau Steel adalah penjualan aset-aset non-core, perampingan organisasi, mencari mitra bisnis strategis, dan spin-off.

Perseroan juga akan melakukan pelepasan unit kerja yang semula bersifat cost center yang hanya melayani induk perusahaan menjadi bagian dari pengembangan bisnis anak perusahaan sehingga bersifat profit center. Perseroan menyebut program ini sebagai cost to profit center.

“Perjanjian kerja sama perbankan yang merupakan restrukturisasi utang ini perlu dilakukan guna menyelamatkanperseroan sebagai produsen baja nasional yang memiliki aspek strategis dalam pembangunan ekonomi nasional,” kata dia.

Sebelumnya, Silmy mengatakan pihaknya terus melakukan due dillgence terhadap aset-aset non-core perseroan yang bisa dilepas. Salah satu aset non-core yang potensial untuk dilepas adalah pembangkit listrik.

“Divestasi itu butuh waktu, maksimal tiga tahun. Karena saya juga mencari harga terbaik. Selain pembangkit listrik, aset dermaga (port) juga kami kaji,” jelas dia, belum lama ini,

Menurut Silmy, aset non-core pada anak-anak usaha juga diperhitungkan untuk dilepas. Selain dermaga, anak usaha perseroan juga memiliki aset di bidang rumah sakit, perhotelan, serta lahan industri. Tak hanya aksi divestasi, perampingan juga dilakukan pada anak-anak usaha tersebut. Pihaknya mencatat setidaknya Krakatau Steel memilki lebih dari 50 entitas usaha.

Namun, Silmy menegaskan, perampingan tersebut bukan dalam arti pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebab, sebagian karyawan pada induk akan dialihkan kepada entitas usaha perseroan.

Sebagai contoh, perseroan memiliki anak usaha yang bergerak di sektor logistik, yakni PT Krakatau Bandar Samudera. Secara bisnis, anak usaha ini termasuk perusahan yang menjanjikan dari sisi valuasi. Di sisi lain, perseroan sebagai induk juga memiliki divisi logistik sendiri. Supaya efisien, divisi logistik pada induk ini bisa dialihkan ke anak usaha seperti Krakatau Bandar Samudera.

“Idenya itu juga termasuk memperkuat anak-anak usaha ini dengan membuat grup atau kluster. Anak serta cucu usaha KS yang berserakan ini akan kami gabung sesuai dengan klaster atau satu grup yang bisnisnya sama. Misalnya pelabuhan dan logistik,” kata Silmy.

Dia menambahkan, divestasi juga bisa diartikan dengan mencari mitra strategis yang ingin mengambil sebagian saham pada entitas usaha. Sebagai contoh, pihaknya mencari mitra strategis yang berminat dalam menyempurnakan produksi blast furnace maupun hot strip mills.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN