Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Restrukturisasi Utang, Sritex Pastikan Penuhi 'Financial Covenant'

Kamis, 15 April 2021 | 22:37 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex memastikan perseroan masih memenuhi financial covenant yang diberikan oleh setiap kreditur perseroan berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2020. Upaya ini terkait proses restrukturisasi pinjaman sindikasi US$ 350 juta yang masih berlanjut.

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengatakan, proses restrukturisasi pinjaman sedang dalam diskusi dan pengkajian dengan financial advisor dan legal advisor perseroan. “Kami berharap Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat memberikan kami ruang dan waktu agar dapat mencapai keputusan yang terbaik untuk semua pihak,” jelas dia dalam surat kepada BEI, Kamis (15/4).

Kronologi proses perpanjangan pinjaman sindikasi perseroan bermula saat perseroan mengirim surat ke facility agent pada 2 November 2020. Kemudian, pada 2 Februari 2021, mandated lead arranger and bookrunner (MLAB) meminta perpanjangan waktu proses selama satu bulan ke Maret.

Pada 2 Maret 2021, terkonfirmasi perpanjangan sebesar US$ 205 juta dan dalam proses dokumentasi dan legalisasi dengan rencana penandatanganan pada 19 Maret 2021. Namun, MLAB menunda penandatanganan tersebut. Alhasil, lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service memangkas peringkat Sritex ke B3 dari B1 pada 22 Maret.

Fitch Ratings pun menurunkan peringkat Sritex menjadi B- dari sebelumnya BB-. Faktor utama yang membuat Moody’s dan Fitch Ratings menurunkan peringkat adalah belum terselesaikannya perpanjangan sindikasi.

Sebagai informasi, pinjaman sindikasi US$ 350 juta diraih Sritex berdasarkan perjanjian pinjaman 2 Januari 2019 dan perubahan perjanjian 20 Maret 2019. Para kreditur yang terlibat sindikasi ini antara lain Citigroup Global Markets Asia Ltd, DBS Bank Ltd, PT Bank HSBC Indonesia serta HSBC Ltd. Sindikasi jatuh tempo pada 2 Januari 2022. Pinjaman ini merupakan pinjaman tanpa jaminan dan tanpa komitmen.

Dalam laporan keuangan Sritex dijelaskan, pandemi covid-19 membuat proses perpanjangan pinjaman menjadi lebih lama. Manajemen menilai, likuiditas perbankan menurun sehingga penambahan fasilitas bank maupun pinjaman baru menjadi lebih sulit.

Selain itu, pandemi juga membuat pelanggan perseroan meminta relaksasi untuk tagihan. Tak ketinggalan, perusahaan membeli bahan baku untuk kebutuhan yang lebih lama untuk menjamin ketersediaan bahan baku sekiranya ada lockdown di negara supplier.

Saat ini, permintaan pasar ekspor dan lokal dinilai mulai mengalami peningkatan ke arah normal karena penutupan sementara atau berkurangnya jam kerja sudah tidak diberlakukan di berbagai negara dan provinsi.

Sritex juga memproduksi produk yang dibutuhkan dalam menghadapi Covid-19 yaitu produk masker dan pakaian pelindung diri anti-virus. Manajemen mencatat saat ini permintaannya sangat tinggi sehingga perusahaan menambah jam kerja pada departemen-departemen terkait.

Tahun lalu, Sritex mengalami penurunan laba bersih sebesar 2,65% secara tahunan menjadi US$ 85,32 juta, dibanding 2019 sebesar US$ 87,65 juta.  Namun, pendapatan perseroan bisa meningkat sebesar 8,52% secara tahunan menjadi US$ 1,28 miliar, dari sebelumnya US$ 1,18 miliar. Sejalan dengan naiknya pendapatan, beban pokok penjualan juga naik menjadi US$ 1,05 miliar dari sebelumnya US$ 946,58 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN