Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Bank BNI. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Revisi Rencana Bisnis BNI dan Dampaknya terhadap Harga Saham

Parluhutan Situmorang, Rabu, 27 Mei 2020 | 04:51 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bakal menghadapi ujian berat sepanjang tahun ini, seperti potensi penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), perlambatan pertumbuhan kredit, kenaikan biaya kredit, dan penurunan kualitas aset.

Hal tersebut sebagai dampak perlambatan ekonomi Indonesia akibat pandemic Covid-19. Perseroan pun harus merestrukturisasi kredit dengan perkiraan nilai Rp 146,7 triliun atau setara 27% dari total kredit yang telah disalurkan hingga Maret 2020.

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri memperkirakan, tahun ini, laba bersih Bank Negara Indonesia atau BNI turun 86,5% menjadi Rp 2,1 triliun dibandingkan perolehan tahun lalu yang senilai Rp 15,38 triliun.

“Kami merevisi sejumlah asumsi kinerja keuangan perseroan berdasarkan kinerja keuangan hingga kuartal I-2020 dan data yang dipaparkan manajemen BNI terkait prospek perseroan di tengah pandemi Covid-19,” tulis Eka dalam risetnya, baru-baru ini.

Dia memproyeksikan penurunan NIM BNI tahun ini seiring dengan asumsi lonjakan biaya kredit menjadi 352 bps akibat penurunan kualitas aset dalam beberapa kuartal mendatang. NIM perseroan diperkirakan turun ke level 3,9% tahun ini dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4,9%.

Proyeksi itu juga berdasarkan perkiraan manajemen BNI bahwa perseroan kemungkinan hanya mampu mencetak pertumbuhan kredit berkisar 2-4% tahun ini. Sedangkan NIM diestimasi turun ke level 3,7-4%, NPL kotor berkisar 3,7-4%, dan biaya kredit mencapai 300-350 bps tahun ini.

Transaksi mobil banking BNI meningkat
Transaksi mobil banking BNI meningkat

“Kami memperkirakan NPL kotor BNI bisa mencapai 4,2% atau di atas perkiraan manajemen BNI. Hal ini akibat perlambatan PDB sejalan dengan pandemi,” jelas Eka.

Terkait restrukturisasi kredit BNI hingga April 2020 senilai Rp 69,9 triliun dan didominasi oleh kredit usaha kecil senilai Rp 27,4 triliun, menurut Eka, berpeluang menaikkan biaya kredit perseroan tahun ini.

“Kondisi tersebut mendorong kami untuk memperkirakan  peningkatan biaya kredit perseroan menjadi 350 bps tahun ini. Kondisi ini akan membuat loan loss coverage naik menjadi 195,7% pada akhir Desember 2020,” ungkap dia.

Sementara, NIM perseroan diperkirakan turun ke level 3,9% tahun ini. Perkiraan ini didasarkan atas asumsi penurunan yield aset perseroan menjadi 6,8% atau sesuai dengan perkiraan manajemen BNI. Angka tersebut juga didasarkan atas ekspektasi kredit yang direstrukturisasi senilai Rp 146,7 triliun tahun ini akibat pandemi Covid-19.

Target tersebut setara dengan 27% dari total kredit yang disalurkan perseroan hingga Maret 2020.

BNI siapkan promo untuk nasabah di masa pandemi
BNI siapkan promo untuk nasabah di masa pandemi

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk menurunkan target harga saham BBNI dari Rp 6.500 menjadi Rp 5.000. Meski demikian, BBNI tetap direkomendasikan beli. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV tahun ini sekitar 0,86 kali.

Di lain pihak, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun mengungkapkan, BNI menghadapi tantangan berat di tengah pandemi Covid-19. Hal itu berpotensi memicu pe- nurunan laba bersih perseroan sebesar 11,2% tahun ini. Pihaknya juga memperkirakan bahwa risiko kredit perseroan terus meningkat, pelambatan pertumbuhan kredit juga bakal terjadi, dan penurunan NIM.

Kondisi tersebut mendorong Mirae untuk merevisi rekomendasi saham BBNI dari buy menjadi sell dengan target harga Rp 3.080. Target tersebut menggambarkan perkiraan PBV sekitar 0,5 kali.

Target tersebut juga merefleksikan perkiraan penurunan laba bersih BNI menjadi Rp 13,66 triliun tahun ini dibandingkan pencapaian tahun 2019 yang senilai Rp 15,38 triliun. Sedangkan laba operasional sebelum provisi perseroan diperkirakan naik menjadi Rp 30,13 triliun tahun ini dibandingkan tahun 2019 yang mencapai Rp 28,46 triliun.

Pendapatan bunga diestimasi turun dari Rp 51,52 triliun menjadi Rp 50,8 triliun.

Sebelumnya, Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BNI Tambok Simanjuntak mengatakan, di tengah pandemic Covid-19, perseroan akan melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB) 2020 karena target awal dinilai sudah tidak relevan.

“Dengan melihat proyeksi ekonomi yang melambat, kredit kami tahun ini bisa tumbuh 2-4% (yoy). Saat ini, kami fokus dengan perbaikan kualitas aset. Pada semester II, penyaluran pinjaman lebih selektif dan fokus perbaikan kinerja yang terdampak Covid-19,” jelasnya.

Bank BNI. Foto: DAVID
Bank BNI. Foto: DAVID

Di segmen korporasi, sektor yang masih tumbuh adalah informasi dan komunikasi, consumer goods, dan kebutuhan pokok seperti food and beverage, serta alat sanitasi. Untuk kredit kepada BUMN yang masih potensial adalah sektor telekomunikasi.

“Di segmen menengah memang menjadi perhatian khusus, kami lakukan asas konservatif. Kalau segmen kredit kecil melambat, kami akan selektif di perdagangan,” tutur Tambok.

Dia juga mengungkapkan, sampai akhir April 2020, realisasi pinjaman yang direstrukturisasi naik signifikan menjadi Rp 69,8 triliun dengan total 103.447 debitur. Sektor terbesar yang terdampak adalah perdagangan, restoran, dan hotel sebesar 38,4% atau Rp 26,8 triliun; sektor perindustrian 18,4% atau Rp 12,8 triliun; sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi 16,2% atau Rp 11,3 triliun.

“Korporasi terdapat 53 debitur dengan nilai Rp 19,9 triliun, segmen menengah Rp 16,7 triliun dari 538 debitur. Segmen kecil 74.940 debitur senilai Rp 27,4 triliun,” tutur dia.

Tambok menambahkan, potensi kredit yang direstrukturisasi akan mencapai Rp 146,7 triliun dari 495.834 debitur yang terdampak pandemic.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN