Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Luky Alfirman.

Luky Alfirman.

RI Butuh Investasi Rp 6 Triliun Bangun Infrastruktur Berkelanjutan

Selasa, 3 Desember 2019 | 20:05 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Membangun infrastruktur yang berkelanjutan menjadi salah satu prioritas tertinggi Indonesia dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) pada 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia membutuhkan investasi sebesar Rp 6 triliun dalam jangka 5 tahun mendatang.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementrian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, membangun infrastruktur yang berkelanjutan ini menjadi salah satu prioritas utama Presiden Joko Widodo saat ini.

“Percepatan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia tetap menjadi salah satu prioritas utama Presiden Joko Widodo pada periode kedua ini. Sekitar 37% dari total kebutuhan pembiayaan diambil dari APBN 2020. Sebab hal itu, adanya peran dan keterlibatan swasta dalam pembangunan menjadi krusial,” ujar Luky di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/12).

Menurut Luky, pihaknya akan selalu membuka kesempatan dalam mencari solusi terhadap pembiayaan infrastruktur berkelanjutan dengan menggandeng asuransi, pasar modal, serta mengidentifikasi potensi investasi domestik jangka panjang.

Sementara itu, Deputi Direktur Perizinan Pengelolaan Investasi OJK I Made Bagus Tirthayarta mengatakan, dalam 3 tahun terakhir minat investor terhadap produk pasar modal telah meningkat. “Hingga saat ini ada 2,7 juta investor, ini meningkat signifikan, tujuan kita ingin tinggi,” ujarnya.

Luky menambahkan, membangun infrastruktur berkelanjutan terdapat berbagai instrument, seperti menarik minat investor. menurutnya kontribusi swasta harus lebih besar sekitar 44%-45% yang datangnya dari para investor.

Untuk dapat menambah minat investor tersebut, pihaknya akan mendesain skema baru yakni PPP yang dapat melibatkan swasta dan membuat bahwa bisnis infrastruktur itu menarik.

“Jadi ini jangka panjang, karena tidak mudah untuk mengundang investor dalam pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu fokus kita mendesain ekosistem secara lengkap dan komprehensif skema PPP,” ujar Luky.

Indonesia masih memilik pekerjaan rumah yang cukup banyak untuk membangun infrastruktur. Dalam hal keuangan masih dinilai cukup rendah dan tingkat rating pun rendah dibandingkan dengan negara tetangga.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN