Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Manajemen BRI saat opening bell perdagangan saham di BEI, Rabu (29/9).

Manajemen BRI saat opening bell perdagangan saham di BEI, Rabu (29/9).

Rights Issue BRI Sukses Besar

Kamis, 30 September 2021 | 07:12 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sukses besar dalam pelaksanaan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sebesar Rp 41,2 triliun dalam bentuk cash proceed dari pemegang saham publik, termasuk Rp 27,9 triliun yang diserap investor asing. Sementara dalam bentuk partisipasi non tunai pemerintah (inbreng) sebesar Rp 54,7 triliun, sehingga totalnya Rp 95,9 triliun.

Pencapaian ini menorehkan sejarah. Rights issue BRI menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, menduduki peringkat ketiga di Asia, dan peringkat ketujuh di seluruh dunia. Hal ini diharapkan dapat memberikan angin segar bagi transaksi pasar modal di Indonesia.

Kesuksesan rights issue BRI yang mencapai kelebihan permintaan (oversubscribed) menjadi salah satu indikator bahwa pasar modal Indonesia menjadi perhatian dunia. Investor lokal masih tetap kuat, sementara investor asing yang menyerap sebesar Rp 27,9 triliun menandakan kepercayaan investor asing terhadap masa depan BRI dan ekonomi Indonesia. BRI sebagai bank konvensional sedang mengembangkan anak usahanya, PT Bank Raya Tbk (AGRO), sebagai bank fully digital.

“Aksi korporasi penerbitan 28,2 miliar saham baru (rights issue) yang dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam rangka pembentukan Holding Ultramikro telah terserap seluruhnya dan bahkan mengalami oversubscribed,” kata Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara IDX Opening Bell di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/09).

Juga hadir pada acara tersebut yakni Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirdjoatmodjo, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, Wakil Direktur Utama BRI sekaligus Ketua PMO (Project Management Office) Catur Budi Harto, serta Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Koeswiyoto.

Dalam sambutannya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan sebuah prestasi dikarenakan terjadi pada saat market sedang turbulence, sehingga diharapkan rights issue ini akan membuat pasar modal kembali bergairah.

Menteri BUMN Erick Thohir di acara rights isssue BRI di BEI, Rabu pagi (29/9/2021). Sumber: BSTV
Menteri BUMN Erick Thohir di acara rights isssue BRI di BEI, Rabu pagi (29/9/2021). Sumber: BSTV

“Melalui Holding Ultramikro (UMi), UMKM bisa menjadi pertumbuhan ekonomi yang sangat penting. Saat ini 60% ekonomi ditopang UMKM, dan UMKM bukan objek tapi subjek yang harus diperjuangkan bersama sama. Sinergi UMi akan membuat pelaku usaha ultra mikro mendapat akses dana lebih mudah, mendapatkan pendampingan serta akses lebih mudah untuk naik kelas,” imbuh Erick.

Senada dengan Erick Thohir, Sunarso menambahkan, dengan hasil rights issue tersebut, maka kepemilikan saham publik masih dapat terjaga di atas 40% sesuai dengan target BRI.

“Tingginya minat terhadap rights issue BRI ini mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap visi yang dibangun pemerintah melalui BRI untuk semakin fokus pada penetrasi keuangan dengan mengamankan sumber pertumbuhan baru di segmen mikro yang pada akhirnya menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham,” ujar Sunarso.

Menurut dia, pencapaian tersebut tidaklah mudah, mengingat proses rights issue BRI dan pembentukan Holding Ultramikro dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang masih berjuang untuk bangkit akibat pandemi Covid-19. Keberhasilan ini akan mengobarkan semangat BRI dan Holding Ultramikro untuk membawa jutaan pelaku usaha ultramikro naik kelas dan memberikan kontribusi positif bagi para stakeholders, dan perekonomian nasional.

Menjawab Keraguan

Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menjelaskan, kesuksesan ini menjawab keraguan dari para investor, keraguan dari para pengamat dan keraguan terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan, bahkan keraguan terhadap pemulihan ekonomi di Indonesia.

Base ekonomi kita pertumbuhannya ke depan akan lebih bertumbuh pada pertumbuhan di UMKM. Dan ini juga merupakan hal yang akan terus kita dorong dari OJK, dan kami akan sangat support terhadap pengembangan daripada UMKM ini. Ternyata di Indonesia ini banyak sekali masyarakat yang ekonominya bertumpu dari kegiatan sehari-hari. Kami menyambut baik bahwa kegiatan ini merupakan selebrasi kita semua. Kami di OJK juga tentunya sangat mendukung bagaimana UMKM ini bisa terus tumbuh” tambah Hoesen.

Acara rights isssue BRI di BEI, Rabu pagi (29/9/2021). Sumber: BSTV
Acara rights isssue BRI di BEI, Rabu pagi (29/9/2021). Sumber: BSTV

Sedangkan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi mengungkapkan, pencapaian membanggakan ini tak lepas dari upaya dan kerja keras BRI terutama dalam menjaga kinerja dan fundamental perusahaan. Saham BBRI merupakan saham dengan kinerja luar biasa dan selalu masuk konstituen LQ45.

“Sampai saat ini, sejak Februari 2005 BBRI juga masuk LQ45, BBRI juga termasuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia serta menjadi saham yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan nilai. Dengan adanya rights issue ini dan potensi bisnis yang besar karena terdorong Holding BUMN Ultramikro, saham BBRI tentu akan bertambah menarik dan meningkatkan optimisme investor untuk terus mengapresiasi saham BBRI,” pungkas Inarno.

Kepercayaan Pasar Tinggi

Menanggapi keberhasilan rights issue BRI, Equity Analyst PT Sucor Sekuritas Edward Lowis menjelaskan, rights issue yang tereksekusi penuh oleh investor menunjukkan pasar memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap saham BBRI. Selain itu, tekanan yang terjadi pada pergerakan saham BBRI dalam satu bulan terakhir seharusnya akan mereda, sehingga harga saham akan berangsur meningkat.

"Kami masih cukup optimis dengan kinerja BRI dengan penggabungan Pegadaian dan PNM disinyalir akan mempercepat BRI untuk penetrasi ke masyarakat yang masih memiliki keterbatasan akses ke perbankan," jelas dia kepada Investor Daily.

Kekuatan jaringan BRI, Pegadaian dan PNM
Kekuatan jaringan BRI, Pegadaian dan PNM

Dengan melihat hal tersebut, Edward merekomendasikan buy untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.720. Sementara dalam penutupan perdagangan, Rabu (29/9), saham BBRI ditutup menguat 0,54% ke level Rp 3.740 dari perdagangan hari sebelumnya.

Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mencermati prospek saham BBRI ke depan akan bergerak positif seiring bersinerginya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) membentuk holding ultra mikro.

“Kalau kita lihat, dana yang berhasil dihimpun dari rights issue mencapai sekitar Rp 91 triliun untuk sinergi PT PNM dan PT Pegadaian yang tidak lain keduanya merupakan pemain mikro yang fokus menyalurkan kredit mikro. Sehingga apabila disinergikan dengan BBRI, tentu akan menciptakan ekosistem baru terkait pembiayaan mikro,” jelas Nico kepada Investor Daily, Rabu (29/9).

Selain itu, dengan dibentuknya holding tersebut juga akan mengurangi cost dan memperkuat penetrasi pasar. Menurut Nico, ketika sumber pendanaan lebih besar, otomatis daya dorongnya juga akan semakin besar sehingga hal ini dapat menciptakan opportunity tersendiri bagi BBRI.

Terkait tingginya serapan asing, dia melihat hal itu karena dipengaruhi return on equity (RoE) bisnis bank di Indonesia yang tergolong tinggi di dunia. Artinya, bisnis bank di Indonesia menguntungkan terutama dilihat dari net interest margin (NIM). Bahkan, fakta ini pernah diakui sendiri oleh mantan gubernur Bank Indonesia.

“Binis bank di Indonesia sangat menggiurkan. Faktor inilah yang membuat asing berbondong-bondong masuk investasi perbankan,” imbuhnya.

Namun, di luar itu, bisnis bank juga bukan sekadar bicara funding, melainkan juga lending. Pembiayaan BBRI tercatat sebagai salah salah satu leading bank kredit mikro di Indonesia. Dengan sinergi, kinjera BBRI tentu akan semakin baik ke depan. Untuk itu, Nico menyebut, saham BBRI layak masuk pilihan dengan target di level Rp 4.500.

Tidak jauh berbeda dengan Nico, Head of Research BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin menargetkan harga saham BBRI berada di kisaran Rp 4.800. Target tersebut di luar dampak sinergi BBRI dengan PT PNM dan PT Pegadaian. Kim melihat, tingginya partisipasi para investor asing terhadap rights issue BBRI karena dipengaruhi prospek BBRI yang masih bagus.

“Kita lihat, belakangan ini foreign investors terus menambah kepemilikan di saham-saham Indonesia karena mereka melihat valuasi menarik dan prospek membaik seiring dengan kasus Covid-19 yang terus menurun,” ujar Kim kepada Investor Daily, Rabu (29/9).

Hal senada juga disampaikan Analis dan Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee. Dia berpendapat, tingginya minat asing terhadap rights issue BBRI karena sejalan dengan prospek bisnis yang menjanjikan terutama pasca bersinergi dengan PT Pegadaian dan PT PNM.

“Dengan kolaborasi tersebut, BBRI dapat memperkecil persaingan, memperluas pasar pendanaan yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan profit,”kata dia kepada Investor Daily, Rabu (29/9).

Selain itu, rights issue tersebut juga menjadi kesempatan bagi asing untuk meningkatkan penetrasi pada pasar ritel yang saat ini porsinya masih rendah. Menurut dia, sinergi ketiga perusahaan yang memiliki pangsa pasar besar tersebut akan memberikan prospek bisnis positif dan posisi strategis di pasar.(jn)


 


 


 

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN