Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembentukan holding ultra mikro

Pembentukan holding ultra mikro

ASET BRI JADI RP 1.515 TRILIUN

Rights Issue BRI Terbesar di Asia

Jumat, 23 Juli 2021 | 11:12 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Novy Lumanauw (novy@investor.co.id) ,Jauhari Mahardika (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRI menyetujui aksi korporasi rights issue yang akan dilakukan dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD). Ini menjadi mega rights issue terbesar di Indonesia bahkan Asia. Aksi koorporasi ini merupakan bagian dari rencana pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi).

Holding Ultra Mikro (UMi) antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM akan membuat kinerja keuangan BRI sebagai induk holding semakin berkilau. Total aset BRI meningkat dari Rp 1.411 triliun menjadi Rp 1.515 triliun sedangkan laba bersih konsolidasi pada kuartal I-2021 akan naik dari Rp 6,86 triliun menjadi Rp 8 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan, aksi korporasi ini bakal berdampak kepada laporan keuangan konsolidasian BRI pada tanggal 31 Maret 2021. Total aset BRI meningkat dari Rp 1.411 triliun menjadi Rp 1.515 triliun. Total liabilitas BRI per Maret 2021 juga meningkat dari Rp 1.216 triliun menjadi Rp 1.289 triliun setelah holding.

“Kemudian, laba bersih konsolidasian BRI meningkat dari Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun,” kata Sunarso usai RUPSLB BRI secara virtual di Jakarta, Kamis (22/7/2021).

Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso (dua dari kanan) bersama jajaran komisaris dan direksi masing-masing (dari kiri) Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, Komisaris Utama BRI Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno K, dan Komisaris Independen BRI R. Widyo Pramono saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) secara daring di Jakarta, Kamis (22/7/201). Bank BRI menggelar RUPSLB dalam rangka mendapatkan persetujuan aksi korporasi right
issue yang akan dilakukan BRI dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) terkait rencana pembentukan Holding Ultra Mikro. Right Issue ini berpotensi menjadi right issue terbesar di Indonesia,bahkan dapat menjadi salah satu right issue terbesar di Asia. RUPSLB menyetujui Right Issue 28 Miliar lembar saham.. Foto: IST
Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso (dua dari kanan) bersama jajaran komisaris dan direksi masing-masing (dari kiri) Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, Komisaris Utama BRI Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno K, dan Komisaris Independen BRI R. Widyo Pramono saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) secara daring di Jakarta, Kamis (22/7/201). Bank BRI menggelar RUPSLB dalam rangka mendapatkan persetujuan aksi korporasi right issue yang akan dilakukan BRI dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) terkait rencana pembentukan Holding Ultra Mikro. Right Issue ini berpotensi menjadi right issue terbesar di Indonesia,bahkan dapat menjadi salah satu right issue terbesar di Asia. RUPSLB menyetujui Right Issue 28 Miliar lembar saham.. Foto: IST

Perseroan merencanakan penerbitan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan  nilai nominal sebesar Rp 50 atau 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Adapun jumlah lembar saham dan harga pelaksanaan akan disampaikan kemudian. Setelah rights issue, porsi public mencapai 43,18% atau setara 65,65 miliar saham.

Dalam righst issue ini, pemerintah akan mengeksekusi haknya secara nontunai, yakni menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya dalam Pegadaian dan PNM kepada BRI atau inbreng.

“Setelah transaksi, BRI akan memiliki 99,99% saham Pegadaian dan PNM. Di samping itu, pemerintah akan tetap memiliki satu lembar saham Seri A Dwiwarna pada Pegadaian dan PNM,” ungkap Sunarso

Adapun dana hasil dari aksi korporasi ini akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan Holding UMi yang dilakukan melalui penyertaan saham BRI dalam Pegadaian dan PNM, sebagai hasil dari inbreng pemerintah.

Selebihnya akan digunakan sebagai modal kerja BRI dalam rangka pengembangan ekosistem ultra mikro, serta bisnis mikro dan kecil. Berdasarkan data Kemenkop UKM RI, Asian Development Bank (ADB), dan hasil analisis BRI, pada tahun 2018, terdapat sekitar 45 juta usaha ultra mikro yang membutuhkan pendanaan tambahan. Sejauh ini, hanya sekitar 15 juta usaha ultra mikro yang tersentuh pendanaan dari lembaga keuangan formal.

“Dengan menjangkau potensi ultra mikro, aksesibilitas layanan keuangan di segmen tersebut dapat dioptimalkan,” urai Sunarso.

Direktur Utama BRI Sunarso. Foto: IST
Direktur Utama BRI Sunarso. Foto: IST

Lebih lanjut, Sunarso mengungkapkan, perseroan terus melakukan eksplorasi sumber-sumber pertumbuhan baru yang selaras dengan aspirasi perseroan untuk menjadi Champion of Financial Inclusion. Segmen ultra mikro telah diidentifikasi sebagai sumber pertumbuhan baru melalui pembentukan ekosistem ultra mikro.

Ekosistem ini akan menyediakan layanan keuangan yang terintegrasi bagi para pengusaha segmen ultra mikro sehingga memungkinkan mekanisme naik kelas ke nasabah mikro lebih tertata dengan baik. Rencana tersebut juga selaras dengan visi pemerintah dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020- 2024 yaitu untuk mendorong inklusi keuangan.

Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno mengatakan, manajemen belum menetapkan harga pelaksanaan dari aksi korporasi tersebut.

“Penetapan harga kami lakukan setelah proses registrasi di Otoritas Jasa Keuangan dan akan dipublikasikan dalam prospektus, jadi mohon bersabar untuk penetapan harganya,” ujar dia.

Menurut dia, dalam menentukan harga pelaksanaan rights issue, BRI melihat sejumlah faktor sehingga masih perlu waktu.

“Kami perhatikan banyak faktor, seperti kondisi makro dan industri, kinerja perseroan, dan masukan pemegang saham,” tambah dia.

Sinergi Luar Biasa

Kinerja keuangan BRI sebelum dan sesudah pembentukan holding ultra mikro
Kinerja keuangan BRI sebelum dan sesudah pembentukan holding ultra mikro

Sunarso menekankan bahwa terbentuknya Holding UMi akan menciptakan sinergi luar biasa tiga kekuatan intitusi keuangan ini. BRI dengan lebih dari 100 juta nasabah memiliki 9.493 jaringan kantor, 27.450 tenaga pemasar mikro, serta 466.864 agen Brilink.

Adapun Pegadaian memiliki 4.087 outlet, 1.564 tenaga pemasar, dan 9.764 agen. Kemudian PNM mempunyai 3.291 jaringan kantor dan 32.480 tenaga pemasar.

Berdasarkan laporan keuangan Pegadaian, sampai dengan posisi Maret 2021, total aset yang dihimpun sebesar Rp 72,19 triliun, meningkat 1,02% (ytd) dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 71,46 triliun. Kemudian, pinjaman yang disalurkan Pegadaian sebesar Rp 58,30 triliun.

Di tengah kenaikan aset, Pegadaian justru mencatatkan penurunan liabilitas. Dalam tiga bulan pertama tahun 2021, jumlah liabilitas perusahaan turun 0,38% (ytd) menjadi Rp 46,68 triliun.

Adapun, jumlah ekuitas Pegadaian sebesar Rp 25,51 triliun per Maret 2021. Laba Pegadaian turun 12,80% dari Rp 809,07 miliar menjadi Rp 705,46 miliar di akhir Maret 2021. Pendapatan usaha tercatat Rp 5,45 triliun dengan beban usaha Rp 4,52 triliun.

Sementara itu, PNM sampai dengan akhir Maret 2021 membukukan laba bersih Rp 186 miliar. Sedangkan pendapatan sebelum diaudit sebesar Rp 1,76 triliun. Adapun total aset PNM sampai akhir Maret 2021 tercatat Rp 35,3 triliun dengan total liabilitas Rp 29,5 triliun. Kemudian, total ekuitas tercatat Rp 5,8 triliun.

Pada kuartal I-2021, total penyaluran pinjaman PNM sebesar Rp 11,7 triliun dengan baki debet Rp 26,4 triliun. PNM juga mencatat peningkatan nasabah dalam waktu 3 bulan naik 1,1 juta menjadi 9 juta nasabah, naik 38,1%.

Porsi Mikro 45%

Pemberdayaan usaha dan pengembangan usaha oleh PNM, BRI, dan Pegadaian
Pemberdayaan usaha dan pengembangan usaha oleh PNM, BRI, dan Pegadaian

Menurut Sunarso, Holding Ultra Mikro ini tidak saja memberikan manfaat bagi BRI, Pegadaian, dan PNM namun juga bagi pelaku usaha Ultra Mikro dan perekonomian nasional.

“PNM akan berperan di fase Empowerment. Pinjaman kelompok yang disalurkan PNM selain bernilai sebagai pembiayaan, juga berfungsi dalam pemberian asistensi dan peningkatan kapabilitas. Kemudian, di fase Integration, BRI dan Pegadaian dapat membantu pelaku usaha di segmen tersebut dengan berbagai produk gadai maupun KUR,” jelas Direktur Utama BRI Sunarso dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/7/2021).

Selanjutnya, pada tahap terakhir adalah pada fase Upgrade, Holding UMi memungkinkan pelaku usaha ultra mikro naik kelas menjadi nasabah mikro BRI yang berbasis komersial. Proses dimaksud akan terjadi dalam satu ekosistem sehingga lebih efektif dan efisien.

Dyah Ayu Retno juga menjelaskan bahwa perseroan memiliki target komposisi mikro sebesar 45% dari total kredit BRI pada tahun 2025. Integrasi antara BRI, Pegadaian, dan PNM akan memberikan pelayanan keuangan kepada pengusaha ultra mikro terintegrasi. Sampai dengan kuartal I-2021, komposisi segmen mikro sebesar 40,2% berjalan sesuai rencana, atau naik dari kuartal I-2020 sebesar 36,2%.

Target mencapai 45% porsi mikro diproyeksikan bisa dicapai tahun 2025, namun bisa lebih cepat dengan adanya Pegadaian dan PNM. Dalam lima tahun terakhir, terlihat adanya kenaikan komposisi segmen mikro BRI. Pada tahun 2016 porsinya 33,3%, meningkat ke 34,1% pada tahun 2017, lalu menjadi 34,3% pada 2018. Sedangkan tahun 2019 kembali naik porsi mikro menjadi 35,8% dari total kredit BRI, lalu meningkat ke 39,9% pada akhir tahun 2020.

Perseroan bersama Pegadaian dan PNM memberikan layanan end-to-end kepada masyarakat dalam satu ekosistem, sehingga terjadi peningkatan kapasitas holding.

“Nasabah juga bisa lebih dimonitor lebih baik dan kita layani dengan baik. Hal ini tentunya berdampak positif dalam jangka panjang,” imbuh dia.

Viviana juga mengaku, holding akan berdampak pada peningkatan kinerja keuangan hingga kenaikan harga saham BBRI ke depan. Meski demikian, pihaknya tidak menyebutkan target terkait harga saham maupun kapitalisasi pasar pasca-holding.

“Dalam jangka panjang ada peningkatan portofolio mikro, ini tentu berdampak pada peningkatan harga saham yang juga berdampak ke market cap BRI,” ucap Viviana.

Catur Budi Harto. Foto: IST
Wakil Direktur Utama BRI. Foto: IST

Sedangkan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah untuk persiapan integrasi holding BUMN Umi.

“Ada value proposition yang kita bentuk. Sinergi ini menawarkan pilihan produk keuangan yang lebih lengkap untuk memenuhi kebutuhan segmen ultra mikro,” imbuh Catur.

BRI mulai merintis dan menyiapkan beberapa titik serta pemanfaatan yang lebih optimal jaringan Agen BRI Link sebagai channel dari ketiga entitas yakni BRI, Pegadaian, dan PNM. Catur juga menyebut, BRI melakukan integrasi data yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi bisnis, termasuk dalam konteks apabila nanti diperlukan untuk penyaluran program-program bantuan sosial.

“Kita juga melakukan proses akuisisi nasabah secara bersama dan platform yang telah kita susun kita namakan adalah UMi Corne. Ini bisa digunakan oleh beberapa tenaga marketing kita dan ke depan juga kepada customer kita untuk mengakses beberapa bentuk layanan dari kami,” papar dia.

Selain itu, BRI juga melakukan penyediaan aset terhadap ekosistem micro payment untuk memperkuat layanan keuangan holding. “Dan kita harapkan dengan adanya ekosistem yang terintegrasi akan memudahkan segmen ultra mikro dapat naik kelas ke segmen mikro,” tandas Catur.

Harga Saham akan Melesat

Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir
Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir

Investment Information Head Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger menjelaskan, tujuan rights issue BRI untuk memperkuat permodalan dan pengembangan usaha. “Tentu saja, setelah rights issue, performanya akan semakin baik dan berdampak positif pada harga sahamnya,” kata dia.

Tahun ini, Roger memperkirakan pendapatan BRI mencapai Rp 117 triliun dan laba bersih Rp 29 triliun. Tahun lalu, BRI meraup laba bersih Rp 18,66 triliun dan pendapatan bersih (pendapatan bunga dan klaim) Rp 80,09 triliun.

Mengenai harga saham, menurut Roger, akan terkonsolidasi menjelang tanggal rights issue dan setelah diketahui harga pelaksanaannya. Meski demikian, harga saham BRI akan kembali terapresiasi setelah rights issue rampung. “Harganya bisa menembus Rp 4.450,” ungkapnya.

Selain harga saham, nilai kapitalisasi pasar (market cap) saham BRI juga akan meningkat setelah rights issue. Roger memperkirakan, dengan asumsi harga rights issue Rp 3.900 per saham, maka kapitalisasi pasar BRI akan bertambah Rp 90 triliun dan menjadi sekitar Rp 580 triliun.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana

Secara terpisah, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, dengan adanya rights issue, harga saham BRI akan terkonsolidasi pada kisaran Rp 3.300-3.400 dari penutupan perdagangan kemarin pada harga Rp 3.900. Meski demikian, dengan mengonsolidasikan Pegadaian dan PNM, pendapatan dan aset BRI akan meningkat. Harga saham BRI bisa menguat menuju level Rp 5.500 dalam 12 bulan ke depan.

Sementara itu, analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengungkapkan, BRI akan memiliki sumber pertumbuhan baru setelah pembentukan holding BUMN ultramikro, yang akan diawali dengan rights issue bernilai super jumbo. Nilai rights issue diperkirakan sebesar Rp 96,5 triliun.

Dari sisi kapitalisasi pasar (market cap), saham BRI berpotensi mencapai Rp 600 triliun. BRI akan menerbitkan saham baru dengan skema memasukkan (inbreng) Pegadaian dan PNM ke dalam perseroan. Valuasi dua perusahaan itu mencapai Rp 54,77 triliun atau masih dalam nilai yang wajar.

Berdasarkan perhitungan MNC Sekuritas, pembauran kedua perusahaan ke dalam holding merefleksikan PBV 1,75 kali. Menurut Victoria, rights issue BRI akan membangun ekosistem ultramikro di Indonesia. Aksi ini akan memperbesar kemampuan perseroan untuk menjangkau lebih banyak lagi nasabah UMKM yang belum tersentuh institusi perbankan.

Bank BRI. Foto:  Investor Daily/DAVID
Bank BRI. Foto: Investor Daily/DAVID

“Berdasarkan perhitungan kami, rights issue BRI bisa mencapai Rp 96,5 triliun dengan asumsi harga pelaksanaan Rp 3.365 per saham,” tulis Victoria dalam risetnya.

Nilai rights issue itu terdiri atas inbreng saham Pegadaian Rp 48,67 triliun dan PNM senilai Rp 6,1 triliun. Totalnya mencapai Rp 54,77 triliun. Sisanya Rp 41,74 triliun merupakan potensi dana yang bisa diperoleh BRI dari investor publik.

Mega aksi korporasi ini akan mempermudah BRI bersama dengan Pegadaian dan PNM untuk menggarap 30 juta ultramikro dan UMKM yang selama ini belum tersentuh bank. Pembentukan holding ultramikro ini berpeluang mendongkrak pendapatan BRI hingga 23%. Laba bersih diperkirakan tumbuh 13%. Begitu juga dengan total aset diperkirakan tumbuh 12,22% menjadi Rp 1.583,55 triliun.

“Tidak hanya itu, penggabungan Pegadaian dan PNM ke dalam holding yang dipimpin BRI akan tercipta sinergi dan efisiensi biaya dalam membangun ekosistem ultramikro,” jelas dia.

Sebab itu, MNC Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap mega aksi korporasi BRI. MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.800. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV tahun 2021 sekitar 2,8 kali dan 2,62 kali pada 2022.

Adapun laba bersih BRI tahun ini diproyeksikan bertumbuh menjadi Rp 28,03 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 18,65 triliun. Begitu juga dengan pendapatan bunga perseroan diperkirakan bertumbuh dari Rp 116,93 triliun menjadi Rp 129,46 triliun.

Pandangan positif juga diungkapkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo, Hariyanto Wijaya, dan Rizkia Darmawan. Menurut mereka, rights issue dalam rangka mengakuisisi Pegadaian dan PNM akan menjadi katalis positif bagi BRI dalam jangka panjang. Sebab aksi tersebut akan menjadikan BRI sebagai grup perbankan paling besar di Asia Tenggara dan paling baik dalampenerapan inklusi keuangan.

Konsolidasi tersebut juga mempermudah fokus segmen ultra mikro dan bisnis kecil untuk menjadi sumber utama pertumbuhan kinerja keuangan dalam jangka panjang. Segmen ultra mikro mencapai 63 juta usaha atau setara dengan 99% dari total usaha di Indonesia. Sementara itu, dengan potensi market cap Rp 600 triliun setelah rights issue, BRI bakal semakin mendekati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi puncak nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Suria Dharma dalam diskusi serangkaian acara Tokoh Finansial Indonesia 2020 live di BeritaSatu TV, Kamis (17/12/2020). Sumber: BSTV
Suria Dharma   Sumber: BSTV

Menurut Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, selain mendongkrak market cap, CAR BRI berpotensi meningkat menjadi 23% dibandingkan posisi pada kuartal I-2021 sekitar 19,8%.

Di lain pihak, Equity Analyst Sucor Sekuritas Edward Lowis juga mengungkapkan bahwa rights issue berpotensi besar mengangkat market cap BRI menuju Rp 600 triliun. “Market cap saat ini sudah Rp 480 triliun. Dengan ditambah rights issue sebesar Rp 96 triliun, maka akan mendekati Rp 600 triliun,” ujarnya. (hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN