Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rizal Yulian Pribadi diwawancarai Beritasatu TV di Dealing Room BNI, Senin (12/8/2019)

Rizal Yulian Pribadi diwawancarai Beritasatu TV di Dealing Room BNI, Senin (12/8/2019)

LAPORAN DARI DEALING ROOM BNI

Rupiah Melemah 35 Poin di 14.225

Senin, 12 Agustus 2019 | 10:03 WIB

JAKARTA, investor.id- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak melemah 35 poin atau 0,25% menjadi Rp14.225 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.190 per dolar AS.

Head of Currency Trading Bank BNI Irzal Yulian Pribadi dalam wawancaranya dengan BeritasatuTV di Dealing Room Bank BNI di Jakarta, Senin (12/8/2019) mengatakan, pelemahan rupiah karena investor mencerna data-data ekonomi minggu lalu terutama data defisit neraca pembayaran dan juga CAD.

“Kita juga bisa melihat rupiah sudah menguat selama tiga hari berturut-turut. Ini sebenarnya ada aksi profit taking di pasar. Kita lihat juga obligasi hari ini mengalami koreksi,” katanya.

Dari sisi rupiah sendiri sebenarnya masih memiliki sentiment positif ketika hari ini indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dibuka menguat.

Selain itu ada perkembangan global yang membuat ruiah hari ini terkoreksi. Yakni cuitan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa dirinya belum siap bertemu dengan Tiongkok. Belum ada niatan Trumpo untuk melakukan kesepakatan dagang dengan Tiongkok.

Mengenai dampak pelemahan yuan terhadap dolar AS bagi rupiah, Irzal mengatakan bahwa cukup signifikan. Tiongkok adalah satu dari Negara-negara yang mengalami surplus ketika yang lainnya negatif.

“Artinya dengan Tiongkok menurunkan nilai yuannya maka dia akan memiliki keuntungan kompetitif dari sisi barang-barang yang diekspor. Ini akan membahayakan Negara-negara lain termasuk Indonesia, jika ternyata barang-barang diekspor Tiongkok ini lebih murah dari barang yang kita produksi sendiri,” katanya.

Mengenai suku bunga acuan The Fed, Irzal mengatakan bahwa pasar memang mencermati hal tersebut. Apakah hal itu masih merupakan siklus dovish-nya The Fed.  

“Sebenarnya inflasi di Amerika itu masih rendah. Apakah Amerika itu akan menjaga di level sekarang atau menurunkan atau menaikkan. Kalau Amerika merasa ekonomi melambat mereka bisa menurunkan suku bunga. Karena dengan suku bunga rendah industri dan ekonomi akan  bisa lebih bergerak fleksibel,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, lanjut Irzal, pasar juga melihat ada risiko-tisiko resesi. Tidak hanya di Amerika tetapi juga Inggris dan Negara lainnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN