Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi Rupiah.

Ilustrasi Rupiah.

Rupiah Melonjak 105 Poin Didorong Rendahnya Inflasi AS

Kamis, 11 Agustus 2022 | 15:27 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Inflasi yang rendah di Amerika Serikat (AS) membuat The Fed dinilai bisa mengerem laju pengetatan moneter, sehingga memperkuat sinyal Bank Indonesia (BI) tetap akan menahan suku bunga acuan, karena inflasi juga masih terjaga. 

Alhasil, hal ini membuat daya beli masyarakat tetap stabil dan ekonomi nasional bisa to the moon. Ini bukti fundamental ekonomi stabil dan berimbas terhadap menguatnya mata uang rupiah.

Pada penutupan pasar sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 105 poin walaupun sebelumnya sempat menguat 110 poin di level Rp 14.765 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.870. 

Baca juga: Rupiah Berhasil Menguat Pagi Ini Ke Rp 14.817 Per Dolar AS

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatuf namun ditutup menguat di rentang  Rp 14.740-14.790,” kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis (11/8/2022).

Inflasi Amerika Serikat (AS) turun menjadi 8,5% di bulan Juli 2022. Namun, capaian inflasi ini masih mendekati level tertinggi selama beberapa dekade. Laju kenaikan harga turun di AS pada Juli karena harga gas menurun. Hal ini menurunkan tingkat inflasi tahunan menjadi 8,5%, masih mendekati level tertinggi multi-dekade tetapi lebih rendah dari puncak 4 dekade yang dicapai pada Juni 2022 sebesar 9,1%.  

Meski angka inflasi AS pada bulan Juli masih tinggi, tetapi menunjukkan penurunan signifikan dari tingkat tahunan sebesar 9,1% yang tercatat di bulan Juni dan akan meningkatkan harapan bahwa inflasi akhirnya mencapai puncaknya di AS. 

Baca juga: Rupiah Melemah Jelang Rilis Data Inflasi AS

Sedangkan, dolar AS jatuh semalam setelah harga konsumen AS tidak berubah pada Juli dibandingkan dengan Juni, ketika harga naik 1,3% bulanan. Hasil Juli lebih rendah dari ekspektasi karena penurunan tajam dalam biaya bensin, menyebabkan pasar memposisikan ulang di tengah harapan bahwa inflasi memuncak.

Jika kenaikan harga telah mencapai puncaknya, investor berharap Federal Reserve AS tidak perlu mempertahankan laju kenaikan suku bunga yang sangat curam, yang telah mendukung dolar.

Saham AS dan obligasi jangka pendek juga menguat karena berita tersebut, yang mendorong Nasdaq lebih dari 20% di atas level terendah Juni dan imbal hasil treasury dua tahun turun menjadi 3,2141%, tujuh basis poin lebih rendah dari penutupan sebelumnya. 

Pasar saat ini memperkirakan peluang 57,5% dari kenaikan suku bunga 50 basis poin pada pertemuan Fed berikutnya, menurut alat Fedwatch CME, meskipun kenaikan 75 basis poin lainnya tetap mungkin.

Pembuat kebijakan Fed juga memperingatkan dalam sambutan publik setelah data bahwa mereka akan terus memperketat kebijakan moneter sampai tekanan harga benar-benar pecah.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com