Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di depan monitor saham di salah satu perusahaan sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan melintas di depan monitor saham di salah satu perusahaan sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Saham Bank Masih Atraktif dan Kompetitif

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:25 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com) ,Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Prospek saham emiten perbankan dinilai masih atraktif dan kompetitif, seiring masih tingginya minat investor terhadap sektor tersebut.

Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, saham sektor perbankan dianggap masih menarik di pasar modal, karena sejumlah bank masuk top 20 market cap. Sebagaimana diketahui, terdapat saham empat bank yang berada di lima besar, yaitu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Jago Tbk (ARTO).

“Yang menarik, di tengah masih tingginya minat investor, terdapat pola investasi yang berbeda antara investor institusi dan ritel. Berdasarkan data, investor institusi lebih memilih saham bank besar, sedangkan investor ritel lebih memilih saham bank digital karena lebih menarik untuk milenial,” kata Suria dalam acara Emiten Expose 2021 dengan topik “Prospek Saham Perbankan & Digital”, yang diadakan secara virtual oleh majalah Investor-BSMH, Selasa (27/7).

Dia menegaskan, saham bank digital menjadi laris seiring pandemi Covid-19, karena transaksi secara online menjadi meningkat pesat. Namun, dia menilai, prospek saham bank digital ke depannya tidak semuanya akan bertahan, karena dari segi aset jauh lebih kecil dibandingkan bank big caps, sehingga hanya beberapa saja yang nantinya bisa masuk dan bersaing dalam daftar market cap terbesar. “Selain Bank Jago, yang saya lihat punya potensi adalah PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) dan beberapa lagi yang jumlahnya tidak begitu banyak,” ujar dia.

Ke depan, bank-bank konvensional tetap akan mendominasi. Persaingannya bukan hanya dengan bank digital saja, tapi juga dengan sejumlah perusahaan big tech, seperti Bukalapak, GoTo, dan lain-lain.

Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengemukakan, rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) BCA Digital masih akan terjadi pada satu sampai tiga tahun ke depan. Keputusan BCA Digital untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mesti lebih dulu menakar kapasitas dalam hal jumlah nasabah, permodalan, sumber daya manusia (SDM), produk atau layanan yang berkualitas, sampai peta persaingan bank digital di Indonesia.

Menurut Jahja, kelahiran BCA Digital sebagai anak bungsu BCA tentu melihat prospek baik dari bisnis bank digital. Secara umum, perkembangan dari bank digital di Indonesia baru bisa dilihat mulai saat ini sampai dengan tiga tahun mendatang, termasuk rencana BCA Digital melangsungkan IPO.

Hal itu bukan tanpa alasan, kata dia, setidaknya bank digital mesti tuntas dalam beberapa indikator. Pertama, pihaknya mengacu pada perkembangan jumlah nasabah di BCA Digital. Namun, jumlah nasabah bukan menjadi faktor utama jika hanya tercatat secara kuantitas. Pihaknya berharap akuisisi nasabah yang dilakukan memenuhi aspek kualitas.

BCA telah berkaca pada fenomena kartu kredit di masa lalu. Banyak bank yang mengklaim memiliki jutaan nasabah kartu kredit, tapi tidak begitu mendatangkan hasil bagi bank. Sebab itu, jumlah nasabah bukan yang utama, tapi para pengguna aktif yang disasar sehingga bisa memberikan keuntungan bagi bank.

"Jadi ini (BCA Digital) baru lahir, maka kita coba dulu. Sanggup berapa? Bagaimana mendorong transaksi, mendorong ekosistem? Kalau itu sudah oke, saya baru berani lakukan planning (IPO). Jadi, kita harus berbasis data dan fakta yang ada. Beberapa bulan jalan barulah kita bisa lihat hitungannya. Sebelum ada fakta, saya belum berani bicara (waktu IPO)," ungkap Jahja.

Dia memang belum mengemukakan secara rinci perkembangan akuisisi nasabah di BCA Digital. Tapi, pihaknya meyakini akuisisi nasabah bisa cepat dengan menargetkan segmen yang sesuai bagi bank digital tersebut, yakni segmen milenial dan generasi muda lain. Apalagi, saat ini BCA sendiri sudah mampu mengakuisisi 10 ribu nasabah per hari melalui kanal online banking, dengan total nasabah tercatat lebih dari 20 juta.

"Nah, berapa banyak milenial yang berpindah dan berapa banyak milenial yang terpecah dengan offering yang ada? Itu akan dibagi dengan berapa banyak (bank digital) yang akan bersaing. Kalau belajar dari fintech, bersaing kalau tidak bakar duit itu susah. Promotion is the king of results," beber dia.

Selain menyangkut jumlah nasabah, BCA Digital juga mesti mengakselerasi ekosistem seperti menambah mitra merchant. Produk harus bagus, unggul, dan sesuai untuk melayani segmen yang disasar. Bank digital seperti BCA Digital juga mesti punya permodalan yang mumpuni. Hal itu sebagai antisipasi persaingan saat ini dan di masa mendatang.

"Kita harus lihat persaingan. Jadi, semua bank digital juga menawarkan hal yang sama. Apakah Anda mau bakar uang untuk membuka rekening, butuh biaya besar berapa? Kalaupun biasa-biasa saja, apa keunggulan sehingga bisa menarik customers," papar Jahja.

Dia pun memproyeksikan tidak lebih dari lima bank digital yang nantinya bakal memimpin pasar bank digital bagi 270 juta penduduk di Indonesia. "Memang siapa saja bisa buat digital bank, tapi nanti akan terseleksi oleh alam. Ini bisa kita lihat juga dari bank konvensional yang tadinya sampai dengan 200, sekarang sudah berkurang jauh, yang masuk LQ45 juga tidak banyak," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN