Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks. Foto ilusttrasi: dok Investor Daly

Indeks. Foto ilusttrasi: dok Investor Daly

Saham Big Caps Mulai Diburu

Farid Firdaus, Senin, 18 November 2019 | 14:50 WIB

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat terbatas, kendati minim sentimen selama pekan ini. Posisi IHSG yang tak banyak beranjak dari area 6.100 justru mulai menarik minat manajer investasi untuk berbelanja saham. Banyak manajer investasi menyiapkan strategi untuk membeli saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dengan valuasi murah.

Ekonom dan analis PT Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, penurunan IHSG sepanjang pekan lalu, yang sempat menyentuh posisi 6.000 terbilang wajar lantaran banyak investor, utamanya asing, menahan diri sebelum periode window dressing di Desember nanti. Malah, investor cenderung berharap ada koreksi supaya harga saham berada di posisi yang murah.

“Seringkali manajer investasi global seperti di Amerika Serikat (AS) yang mengelola reksa dana melakukan redemption pada November ini,” kata Lana kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (16/11).

Lana Soelistianingsih. Foto: IST
Lana Soelistianingsih. Foto: IST

Pada perdagangan Jumat (15/11), IHSG berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,48% ke posisi 6.128. Selama satu pekan lalu, IHSG berkurang 0,8% yang diikuti menyusutnya rata-rata nilai transaksi harian sebanyak 23,65% menjadi Rp 6,48 triliun dibanding pekan sebelumnya Rp 8,49 triliun.

Sepanjang tahun berjalan (year to date), posisi beli bersih (net buy) investor asing sebesar Rp 44,44 triliun. Sementara pada akhir pekan lalu, investor asing mencatatkan net buy sebanyak Rp 64,85 miliar.

Mayoritas bursa-bursa acuan di Asia kompak menguat pada penutupan perdagangan Jumat menandakan kekhawatiran pasar yang mereda terkait perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Pejalan melintas di depan papan pergerakan bursa Tokyo.  Foto ilustrasi: Investor Daily/AFP
Pejalan melintas di depan papan pergerakan bursa Tokyo. Foto ilustrasi: Investor Daily/AFP

Indeks Kospi ditutup melonjak 1,07%, kemudian disusul indeks Nikkei menguat 0,7%, indeks Straits Times naik tipis 0,07%, dan indeks Hang Seng cenderung stagnan dengan hanya naik 0,01%. Hanya indeks Shanghai yang anjlok 0,64%.

Di New York, Wall Street juga terbawa optimisme membaiknya hubungan dagang AS-Tiongkok. Pada akhir pekan waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) mengalami penguatan 0,80% menjadi 28.004,89. Indeks S&P 500 meningkat 0,77% menjadi 3.120,46. Indeks komposit Nasdaq bertambah 0,73% menjadi 8.540,83.

Menurut Lana, pekan ini IHSG berpeluang bergerak di kisaran 6.120-6.220. Dia memperkirakan, banyak manajer investasi menyiapkan strategi untuk membeli saham-saham big caps dengan valuasi murah.

“Kalaupun terdapat koreksi sehari atau dua hari dalam satu pekan, hal tersebut dinilai wajar. Jika mau masuk pasar, ya sekarang ini supaya nanti gain maksimal,” ujar dia.

Nafan Aji Gusta. Sumber: BCTV
Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV

Senada, analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta mengungkapkan, secara teknikal IHSG berpeluang melaju di rentang 6.086-6.217 sepanjang pekan ini. Indikator stochastic dan RSI berada di area netral, namun terlihat pola bullish harami candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi penguatan lanjutan.

Dari global, kata Nafan, negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok masih menjadi perhatian utama. Sementara terkait suku bunga acuan The Fed, pasar sudah berekspektasi tak akan ada pelonggaran dalam waktu dekat. Asumsi ini setelah Gubernur The Fed Jerome Powell menyampaikan pidatonya pada Joint Economic Committee di Washington, 13 November lalu.

Powell menyatakan, kebijakan moneter sepertinya tidak banyak berubah karena sejauh ini ekonomi AS masih tetap konsisten dengan prospek pertumbuhan ekonomi moderat.

Sementara di domestik, investor terlihat mengapresiasi peran pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi yang berkesinambungan. Selain itu, investor juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada 20-21 November 2019.

“IHSG sebenarnya sudah meninggalkan area jenuh jual, dan mungkin para manajer investasi memiliki trading plan untuk menyongsong periode window dressing. Saham-saham konstruksi dan mining juga sudah masuk di level paling murah,” kata Nafan.

Kinerja IHSG
Kinerja IHSG

Saham Pilihan

Nafan merekomendasikan saham big caps seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) untuk dikoleksi. Pihaknya mencermati, pergerakan harga saham TLKM telah menguji garis MA 200 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. Akumulasi beli disarankan pada area Rp 4.000-4.080, dengan target harga secara bertahap di level Rp 4.130, Rp 4.210 dan Rp 4.530.

Sedangkan untuk saham konstruksi, Nafan merekomendasikan saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) karena pergerakan harganya bertahan di atas garis bawah dari bollinger. Secara teknis juga terlihat pola hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. Adapun, akumulasi beli disarankan pada area level Rp 1.440-1.470, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.510, Rp 1.570, Rp 2.030 dan Rp 2.240.

Sementara itu, saham PT ADHI Karya Tbk (ADHI) juga mengindikasikan adanya potensi stimulus beli di area Rp 1.190-1.210. Target harga secara bertahap di level Rp 1.270, Rp 1.325, hingga Rp 2.000.

Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Secara terpisah, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya memilih saham big caps seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Keduanya memiliki forecast price earning ratio (PER) tahun ini masing-masing di level 13,9 kali dan 14,5 kali.

“Kami memproyeksikan net interest margin (NIM) BRI akan meningkat di kuartal IV-2019 hingga 2020 nanti. Selain itu, kami menilai pemulihan harga minyak sawit mentah akan menguntungkan emiten seperti Indofood beserta anak usahanya, PT PP London Sumatra Indonesia,” jelas dia.

Pasar Cermati Perang Dagang

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pekan ini IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.090 sampai 5.988 dan resistance di level 6.183 sampai 6.200.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Dia menjelaskan, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan perang dagang pada pekan ini. Hal ini karena akhir pekan lalu muncul optimisme terkait solusi perang dagang menyusul pernyataan penasihat ekonomi Pemerintah AS, Larry Kudlow, bahwa Washington dan Beijing sudah mendekati perjanjian perdagangan.

Dalam pernyataannya, Larry mengungkapkan bahwa pembicaraan sangat konstruktif dengan Beijing untuk mengakhiri perang dagang yang sudah berlangsung 16 bulan. Sedangkan juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng mengatakan, kedua negara menggelar diskusi "mendalam" tentang kesepakatan fase pertama, tetapi mencatat penarikan kembali beberapa tarif adalah kunci untuk mencapai kesepakatan.

Sebelumnya, pada pertengahan pekan lalu Beijing disebut-sebut menolak permintaan Gedung Putih untuk perlindungan kekayaan intelektual dan mengekang transfer teknologi dengan mekanisme penegakan hukum. Keinginan penegakan hukum terhadap pelanggaran kekayaan intelektual masih menjadi kendala kedua negara.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. ( Foto:  AFP / Nicholas Kamm )
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. ( Foto: AFP / Nicholas Kamm )

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa AS belum menyetujui desakan Tiongkok untuk menghapus tarif impor. Terkait perang dagang semua bisa berubah dengan sangat cepat dari optimis menjadi kekawatiran di pasar. Sudah sering pelaku pasar dikecewakan kegagalan perundingan kedua negara meski sebelumnya berita positif tentang perundingan dagang.

“Pasar juga akan kembali memperhatikan penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump, dengan audiensi televisi pertama yang menghubungkan pemimpin AS itu secara langsung dengan upaya untuk menekan Ukraina agar mengumumkan penyelidikan terhadap saingan politik domestiknya,” ujar Hans dalam keterangan tertulis.

Dalam pernyataannya, Ketua DPR AS Nancy Pelosi menyebutkan bahwa Trump telah mengakui suap dalam skandal Ukraina dan menuduhnya melakukan pelanggaran yang bisa berujung pada pemakzulan di bawah Konstitusi AS. “Tentu rencana pemakzulan presiden Trump akan menjadi sentimen negatif bagi pasar, karena akan menimbulkan ketidakpastian di AS,” ucap Hans.

Gubernur The Fed Jerome Powell. ( Foto:  Win McNamee/Getty Images/AFP )
Gubernur The Fed Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Sementara itu, harapan penurunan bunga di akhir tahun memudar setelah Chairman Federal Reserve Jerome Powell mengindikasikan kemungkinan penghentian penurunan suku bunga AS dalam kesaksian (testimoni) selama dua hari di depan Kongres AS. Powell kembali menegaskan bahwa gambaran pertumbuhan ekonomi AS terlihat berkelanjutan sehingga jalur penurunan suku bunga tidak akan berubah selama ekonomi terus bertumbuh. Dampak penuh dari penurunan suku bunga beberapa periode terakhir belum terasa mempengaruhi perekonomian.

Beberapa data ekonomi yang baik membuat peluang penurunan bunga dalam waktu dekat menjadi sangat kecil. Data CPI AS lebih baik dari perkiraan karena harga konsumen untuk periode Oktober naik 0,4%, melebihi ekspektasi. Data klaim pengangguran mingguan AS pekan lalu 225.000, tertinggi sejak Juni.

Sebelumnya, Trump membidik Federal Reserve dengan mengeluhkan bahwa suku bunga AS lebih tinggi daripada negara maju lainnya. “Kita tidak mungkin berharap ada penurunan bunga The Fed dalam waktu dekat menyusul baiknya data ekonomi AS,” katanya.

Sementara itu, pidato Trump mengkritik kebijakan perdagangan Uni Eropa. Washington memberi batas waktu hingga 14 November untuk memutuskan menaikkan atau tidak menaikkan tarif terhadap pabrikan otomotif Eropa dan Jepang. Ada harapan bahwa AS akan menunda keputusan penerapan tarif tambahan terhadap impor kendaraan dari Uni Eropa hingga enam bulan. Perang dagang bisa melebar ke Uni Eropa dan Jepang setelah AS hampir menemukan kesepakatan dengan Tiongkok. (jn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA