Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melintas di lobi BEI, Jakarta. Foto:  B1/UTHAN A RACHIM

Pengunjung melintas di lobi BEI, Jakarta. Foto: B1/UTHAN A RACHIM

Saham Borneo Lumbung Energi Resmi 'Delisting'

Minggu, 19 Januari 2020 | 22:10 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham (delisting) PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN). Delisting ini berlaku efektif pada 20 Januari 2020.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis BEI, penghapusan saham Borneo Lumbung Energi dan Metal menyusul penghentian perdagangan saham (suspensi) Borneo Lumbung Energi dan Metal sejak 4 Mei 2015. Kemudian, suspensi kembali diberlakukan di pasar negosiasi pada 9 Mei 2019.

"Bursa menghapus saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi dalam 24 bulan terakhir," tulis BEI.

Dengan dicabutnya status perseroan sebagai perusahaan tercatat, perusahaan tidak lagi memiliki kewajiban untuk sebagai perusahaan tercatat. Namun, mengingat status perseroan sebagai perusahaan publik, perseroan tetap wajib memperhatikan kepentingan pemegang saham publik dan memenuhi ketentuan mengenai keterbukaan informasi dan pelaporan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Penghapusan pencatatan efek tidak menghapus kewajiban yang belum dipenuhi perseroan kepada Bursa," jelas BEI.

Kemudian, apabila perseroan ingin melakukan pencatatan saham kembali (relisting) di BEI, maka proses pencatatan paling cepat dilakukan dalam enam bulan sejak delisting. Hal ini bisa dilakukan sepanjang memenuhi ketentuan BEI untuk melakukan relisting.

Sementara itu, BEI sudah memberikan indikasi akan mencabut saham Borneo Lumbung Energi dan Metal pada 6 Desember 2019. Pasalnya, Borneo Lumbung Energi dan Metal memenuhi kriteria untuk diberlakukan delisting.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir, perseroan membukukan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 8,06 juta per kuartal III-2018. Padahal per kuartal III-2017, perseroan masih membukukan laba US$ 56,75 juta. 

Hal ini seiring dengan penjualan bersih yang merosot ke US$ 16,11 juta per kuartal III-2018. Sementara pada kuartal III-2017, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 194,64 juta.

Nilai aset juga menurun ke angka US$ 964,93 juta per kuartal III-2018 dari US$ 989,08 per akhir 2017. Meski, liabilitas bisa ditekan ke angka US$ 1,68 miliar dari US$ 1,7 miliar per akhir 2017. Liabilitas paling banyak berasal dari pinjaman jangka pendek sebesar US$ 744,32 juta dan utang jangka panjang yang direstrukturisasi sebesar US$ 813,05 juta.

Borneo Lumbung Energi dan Metal juga terkena sengketa Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B). Kementerian Energi dan Sumber dan Mineral mencabut izin PKP2B anak usaha Borneo Lumbung Energi dan Metal, PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT) karena menjadikannya sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari Standard Chartered Bank. Hal ini membuat kegiatan eksplorasi AKT terhenti dan berdampak pada pendapatan perseroan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN