Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengangkutan batu bara di laut. Foto ilustrasi: Defrizal

Pengangkutan batu bara di laut. Foto ilustrasi: Defrizal

Saham Emiten Komoditas Menguat Seiring Meningkatnya Harga Komoditas

Kamis, 10 Juni 2021 | 11:23 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id) ,Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id –  Sejumlah saham emiten komoditas diproyeksikan menguat seiring dengan meningkatnya harga komoditas sampai saat ini. Penguatan harga komoditas ini dipengaruhi sejumlah sentimen terutama dari global.

Analis Teknikal PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), William Hartanto mengatakan, salah satu sentimen yang mempengaruhi harga komoditas datang dari Malaysia yang melakukan lockdown, sehingga pergerakan harga CPO berpeluang naik dan menguat selama masa pandemi.

Analis Teknikal PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), William Hartanto. Foto: IST
Analis Teknikal PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), William Hartanto. Foto: IST

“Dilakukannya lockdown membuat Malaysia berpotensi menurunkan produksi, karena produksi menurun maka akan terjadi kelangkaan yang mengarah pada kenaikan harga,” ujar William kepada Investor Daily, Rabu (9/6).

Adapun saham-saham komoditas yang dapat diperhatikan oleh investor adalah PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dengan target harga (TP) Rp 640, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) TP Rp 700, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) TP Rp 17,000 dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) TP 1,750.

Analis PT Henan Putihrai Sekuritas, Liza Camelia. Foto: IST
Analis PT Henan Putihrai Sekuritas, Liza Camelia. Foto: IST

Senada, Analis PT Henan Putihrai Sekuritas, Liza Camelia mengatakan, secara teknikal harga minyak mentah (crude oil) terlihat steady menapaki tren naik dan berpeluang kembali ke level tinggi sebelumnya pada tahun 2018, yakni US$ 75-77 per barel dan di atas US$ 80 per barel.

“Para trader crude oil diharapkan memonitor long positions mereka dengan trailing stop dan memperhatikan support terdekat di angka US$ 68,” ujar dia.

Liza menambahkan, harga minyak tengah menapaki tren naik di tengah tanda-tanda permintaan bahan bakar yang kuat di ekonomi Barat, sementara prospek kembalinya pasokan Iran memudar karena menteri luar negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan sanksi ekonomi terhadap Teheran tidak mungkin dicabut.

“Keyakinan luas bahwa pertumbuhan demand minyak akan cenderung meningkat secara signifikan pada paruh kedua tahun ini membuka peluang untuk reli harga,” ujar dia.

Hal tersebut ditopang oleh berbagai input, salah satunya adalah data lalu lintas terbaru menunjukkan para pelancong mulai kembali ke jalan karena pembatasan pergerakan alias lockdown mulai dilonggarkan.

Perkembangan harga komoditas dan pemulihan ekonomi
Perkembangan harga komoditas dan pemulihan ekonomi

Kemacetan lalu lintas di 15 kota di Eropa pun mulai mencapai level tertinggi sejak pandemi virus Corona. Melihat hal ini, pertumbuhan konsumsi bahan bakar di Amerika Serikat (konsumen minyak terbesar dunia) diperkirakan naik menjadi 1,49 juta barel per hari, meningkat dari estimasi sebelumnya yaitu 1,39 juta barel per hari. Data industri pun menunjukkan persediaan minyak AS turun pada minggu lalu.

Adapun investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat memperhatikan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang mulai terdeteksi pola bullish. Ditengarai pembentukan pattern cup dan handle pada chart MEDC, yang manakala mampu break out harga 800 akan membuka jalan menuju target ultimate di 1.300 (hampir setara dengan level tertinggi sebelumnya tahun 2018).

“Posisi pembelian boleh mulai dilakukan sejak hari ini , di mana candle hijau tinggi menembus resistance MA10 & 20 serta mengakhiri konsolidasi jangka pendek disertai volume tinggi. Rata-rata naik paling baik dilakukan di atas 850 untuk holding jangka panjang,” ujar dia.

Perkembangan harga komoditas Indonesia & dunia
Perkembangan harga komoditas Indonesia & dunia

Di sisi lain, Founder Traderindo. com, Wahyu Laksono mengatakan, kenaikan harga komoditas tidak selalu berbanding lurus dengan emiten terkait. Kenaikan harga bisa menjadi beban ekonomi secara umum dan akhirnya berdampak kurang bagus bagi pasar finansial dan emiten.

Menurut dia, khusus di Indonesia, kenaikan harga komoditas tidak korelatif dengan bursa dan juga tidak korelatif dengan rupiah. Di saat komoditas naik, dolar AS tertekan, sementara IHSG dan rupiah pun masih sulit menguat, bahkan IHSG sempat di bawah 5.800 beberapa waktu lalu.

“Investor disarankan jangan berpatokan pada harga komoditas, ada faktor domestik dimana Indonesia kali ini kalah menarik dibanding AS, Eropa dan negara emerging market lainnya,” ujar dia.

Investor juga harus memperhatikan strategi dan kapital serta target waktu trading-nya, dalam artian untuk jangka pendek harus memperhatikan support level masing-masing emiten dan kemampuan margin kapitalnya untuk menghindari ancaman koreksi yang bisa menekan equity.

Adapun saham yang dapat diperhatikan adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan TP Rp 6,000 untuk jangka menengah, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) TP Rp 3,000, PT Timah Tbk (TINS) TP Rp 2,000, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menguji target tertinggi Rp 16,000, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) TP 3,000 dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) TP Rp 1,500.

Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas

Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, prospek harga saham komoditas saat ini belum ada sinyal untuk kembali ke tren naik meskipun secara harga komoditas batu bara (coal) atau minyak mentah (crude oil) dalam tren kenaikan.

Sedangkan untuk CPO, harga CPO sedang turun akibat kekhawatiran kasus Covid-19 di India, karena India sebagai salah satu konsumen besar, jadi permintaannya dinilai akan turun terlebih dahulu.

“Jadi untuk saham-saham yang bersangkutan wait and see atau yang sudah menyiapkan cash bisa lakukan buy on weakness di area support yang dianggap kuat,” ujar dia.

Adapun saham yang dapat diperhatikan adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Menurut dia, masing-masing emiten ada potensi kenaikan 10% sampai 15% dari harga saat ini. (rap/jn)

Baca juga

https://investor.id/market-and-corporate/kenaikan-harga-komoditas-diprediksi-hingga-akhir-2021

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN