Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat posisi saham teraktif melalui ponsel di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat posisi saham teraktif melalui ponsel di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Saham Gocap Ini Mulai Menggeliat

Minggu, 29 November 2020 | 09:44 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id - Di tengah reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, sejumlah saham gocap mulai menggeliat. Bahkan beberapa di antaranya memberikan cuan menggiurkan kepada investor.

Namun perlu diwaspadai karena geliat saham gocap yang memberikan gain spektakuler tersebut bisa dengan cepat harganya rontok dalam sekejap terkena auto reject bawah (ARB), atau kembali tertidur pulas di level gocapan.

Meskipun demikian, banyak juga yang berhasil keluar dari level gocapan dan aktif diperdagangkan secara normal, seiring meningkatnya sentimen kepercayaan masyarakat terhadap saham tersebut.

Belakangan ini, makin banyak perburuan terhadap saham-saham gocapan karena harapan dapat memberikan cuan hingga puluhan persen dalam waktu singkat. Ada baiknya investor memperhitungkan risiko dan keuntungan sebelum membeli saham gocapan.

Keuntungannya, investor tidak perlu khawatir terhadap penurunan harga karena level gocapan adalah level terendah dalam perdagangan bursa . Selain itu, saham gocap dapat menjanjikan gain besar karena kenaikan satu pon nilainya 2%. Jadi jika harga saham tersebut naik 10 poin, kenaikannya sudah 20%.

Di sisi lain, investor perlu mewaspadai risiko besar jika saham gocapan tujuannya hanya sekedar mengundang investor ritel datang. Tak jarang saham-saham tersebut bangkit sebentar kemudian kembali ke level gocapan yang membuat investor terjebak tidak bisa menjual kembali sahamnya.

Berdasarkan pengamatan Investor Daily, sejumlah saham gocapan yang dalam beberapa minggu ini berhasil menggeliat antara lain.

1. PT PP Properti Tbk (PPRO)

Saham ini telah berhasil bangun dari tidurnya yang panjang pada 19 November 2020 dan ditutup pada Rp 53. Hari berikutnya saham ini kemudian "mengamuk" dan terus melakukan reli hingga ke level tertinggi Rp 104 pada 25 November 2020.

Bayangkan, jika investor berhasil mendeteksi geliatan saham ini dan mengakumulasi pada level gocap, cuan yang diperoleh sudah mencapai lebih dari 100% dalam waktu sepekan. Pada Jumat (27/11/2020), PPRO ditutup pada level Rp 98.

Perlu diketahui, harga IPO saham PPRO adalah Rp 185 pada 19 Mei 2015. Saham ini pernah mencapai level tertinggi di 1.440 pada tahun 2016, dan terjun bebas pada Maret 2020 ke level gocapan seiring kasus Jiwasraya.

2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Dalam perdagangan pekan ini, saham BUMI menarik perhatian investor karena tiba-tiba menggeliat pada Senin (23/11/2020) dan terus melakukan reli hingga mencapai level tertinggi Rp 80.

Bayangkan, investor yang berhasil membeli saham ini pada harga gocapan telah mendapat untung 37,5% hanya dalam waktu tak sampai sepekan. Sayang, pada hari Jumat harga BUMI terkoreksi dalam dan terkena ARB turun 6,58% ke level Rp 71.

Saham BUMI bangkit dari level gocapan karena katalis Indonesia mendapat tambahan kontrak batubara di Tiongkok. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) baru saja menandatangani kesepakatan kerja sama dengan China Coal Transportation and Distribution Association (CCTDA) untuk meningkatkan ekspor batu bara dari Indonesia ke Tiongkok senilai US$ 1,46 miliar atau senilai Rp 20,6 triliun.

BUMI yang merupakan saham unggulan group Bakrie ini pernah mencapai kejayaan dan sempat diperdagangkan di atas Rp 8000 pertengahan tahun 2008. Aksi korporasi yang menyebabkan tumpukan utang dan mekanisme restrukturisasi yang mengecewakan investor menyababkan saham ini jatuh ke level gocapan.

3. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Diantara saham Group Bakrie, ENRG terbilang saham yang sering bangkit dan kemudian pingsan lagi. Namun, pekan lalu ENRG mengalami reli memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak yang menembus level US$ 48 per barel untuk patokan minyak internasional, Brent.

Selain itu, ENRG melalui perusahaan terafiliasi, Kinross International Group Ltd, berencana mengakuisisi 25% kepemilikan pada Blok Kangean Psc di Jawa Timur dari Mitsubishi Corporation. Aksi tersebut akan membuat kepemilikan emiten Grup Bakrie ini pada Blok Kangean bertambah menjadi 75%.

Pekan ini, saham ENRG reli dari harga level Rp 60 ke Rp 90 karena berita bahwa lumpur lapindo bisa diproses menjadi baterai. Saham ini kemudian terkoreksi dalam dua hari berturut-turut dan ditutup Rp 81 pada Jumat (27/11/2020).

4. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)

Gairah saham gocapan juga menyengat BIPI. Anggota klub gocapan ini pada perdagangan Kamis sempat menggeliat di level Rp 55, namun kemudian pingsan kembali di level Rp 50.

Secara fundamental, BIPI cukup lumayan untuk dipertimbangkan karena selama empat tahun berhasil mencatatkan laba. Kinerja kuartal ketiga 2020 lumayan mencuri perhatian. Pendapatan naik 6,35% YoY menjadi $ 51,13 juta yang didapat 60% lebih bersumber dari sewa pelabuhan.

Risiko yang pantas disimak antara lain sumber pendapatan tergantung pada dua pelanggan saja, yakni Arutmin dan KPC.

Yang lebih menonjol naiknya laba bersih bertumbuh 56,85% pada kuartal ketiga 2020 dari US$12,91 juta pada kuartal ketiga 2019 menjadi US$ 20,25 juta pada periode yang sama tahun ini.

"PER BIPI (disetahunkan secara proporsional) menjadi 5,6 x. PBV 0,49. Menurut saya, harga gocap dan sekitarnya, sangat murah," kata mentor Investas yang juga mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud. Menurut dia, dengan menyalanya harga batubara, akan ikut menyulut top line BIPI.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN