Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indointernet atau Indonet.

Indointernet atau Indonet.

Saham Indonet Diborong, Nilai Transaksi Rp 1,9 Triliun

Jumat, 11 Juni 2021 | 23:07 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pada perdagangan di BEI, Jumat (11/6), terjadi transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Indointernet Tbk (EDGE) atau Indonet bernilai jumbo. Berdasarkan data Bloomberg, aksi jual dan beli saham emiten teknologi yang terafiliasi dengan Toto Sugiri itu senilai Rp 1,99 triliun.

Transaksi crossing saham di pasar negosiasi itu diperantarai oleh BCA Sekuritas, yang melibatkan sebanyak 189,92 juta saham atau 47% dari total saham Indonet yang mencapai 404,05 juta saham. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi soal transaksi tersebut.

Hingga 31 Maret 2021, pemegang saham Indonet terdiri atas Toto Sugiri (38,89%), Han Arming Hanafia (17,49%), Bing Moniaga (15,14%), Marina Budiman (3,85%), Sanjaya (2,14%), Halim Soelistio (1,92%), Augustinus Haryawirasma (0,31%), Sudjiwo Husodo (0,26%), dan publik (20%). Pada penutupan perdagangan Jumat, saham Indonet berkode EDGE melonjak 20% ke posisi Rp 21 ribu.

Sebelumnya, perusahaan yang juga terafiliasi dengan Toto Sugiri, yaitu PT DCI Indonesia Tbk (DCII), diborong sahamnya oleh Anthoni Salim, CEO Grup Salim. Anthoni memborong 8,09% saham DCI senilai Rp 1,01 triliun atau pada harga Rp 5.277 per saham. Dengan demikian, kepemilikan Anthoni di DCI menjadi 11,12% dari sebelumnya 3,03%.

Data Center

Sementara itu, Indonet telah menambah modal anak usahanya, yakni PT Ekagrata Data Gemilang (EDG), sebesar Rp 350 miliar. Penambahan modal ini untuk mendukung pembangunan data center.

EDG merupakan anak usaha Indonet dengan kepemilikan 99,83% saham. Saat ini, EDG bergerak dalam aktivitas hosting dengan fokus usahanya adalah pembangunan data center. Dalam membangun data center tersebut, Indonet sebelumnya sudah menggunakan dana dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

"Dikarenakan EDG baru beroperasi pada 2021, EDG masih memerlukan tambahan modal dari pemegang saham untuk pembangunan Edge Data Center dan pembangunan data center selanjutnya," ungkap manajemen Indonet dalam keterangan resmi, baru-baru ini.

Tambahan modal tersebut tidak berpengaruh terhadap kondisi keuangan Indonet. Pasalnya, dana setoran modal berasal dari hasil kinerja perseroan. Sebaliknya, tambahan modal itu bisa menunjang pengembangan entitas usaha anak yang pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan dan laba secara konsolidasi.

Direktur Utama Indonet Djarot Subiantoro pernah mengatakan, bisnis pusat data dan interkoneksi memiliki potensi yang besar ke depan. Hal ini dipicu oleh perkembangan ekonomi digital, yang membawa perubahan di berbagai aspek usaha. “IPO sesuai dengan strategi perusahaan. Kami berkomitmen berinovasi, melakukan transformasi digital, dan memberikan return of investment yang baik kepada pemegang saham,” kata dia.

Sementara itu, berdasarkan prospektus, sekitar 90% dana IPO akan digunakan Indonet sebagai tambahan setoran modal kepada anak usahanya, EDG yang akan digunakan untuk pembangunan Edge Data Center (EDC) dan pengembangan selanjutnya.

Total dana yang dibutuhkan untuk pembangunan EDC sebesar Rp 468,9 miliar dan periode pelaksanaan pembangunannya telah dimulai pada 2020. Proses pembangunan gedung EDC telah selesai sekitar 90%.

Data center terbaru yang berlokasi di Jakarta Selatan ini dirancang berada dekat dengan pusat pertukaran koneksi dan sentra lokasi pelanggan. Proyek ini menambah aset data center Indonet, dimana perseroan sebelumnya telah memiliki dua lokasi data center utama masing-masing di Jakarta dan Tangerang Selatan. Dua fasilitas tersebut telah berjalan sejak 2001 dan 2011 dengan kapasitas 99%. “Tujuan dari EDC adalah menghubungkan konsumen akhir kepada pusat pengolahan data secara mudah dan dinamis, dengan kemampuan memberikan waktu respons yang lebih singkat,” kata Djarot.

Indonet juga siap menyerap sekitar 6% dana IPO untuk belanja modal berupa pembelian perangkat untuk pengembangan digitalisasi network, yang merupakan salah satu layanan utama perseroan. Indonet berencana meningkatkan layanan koneksi lama dengan layanan konektivitas HSX.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN