Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi IPO. Foto: Pixabay.

Ilustrasi IPO. Foto: Pixabay.

Saham IPO Tetap Melaju di Tengah Pandemi

Thereis Love Kalla, Jumat, 10 April 2020 | 19:48 WIB

JAKARTA, investor.id – Tiga emiten baru melangsungkan pencatatan perdana saham (listing) secara bersamaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (9/4). Tiga emiten itu adalah PT Cahaya Bintang Medan Tbk (CBMF), PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), dan PT Aesler Grup Internasional Tbk (RONY).

Pada perdagangan hari pertama, RONY dan CBMF kompak terkena penolakan otomatis (auto rejection) batas atas. Harga CBMF melonjak Rp 56 (35%) ke level Rp 216, sedangkan harga RONY melejit Rp 35 (35%) ke posisi Rp 135. Sedangkan CSMI hanya naik tipis Rp 1 (0,5%) ke level Rp 197.

Penguatan harga tiga saham tersebut sekaligus melanjutkan tren positif perdagangan saham yang dilepas melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Hal itu juga menguatkan persepsi bahwa saham-saham IPO tetap melaju, meski di tengah pandemi Covid-19 beserta dampaknya terhadap perekonomian.

Cahaya Bintang Medan melepas sebanyak 375 juta saham ke publik, dengan harga IPO Rp 160 per saham. Perseroan memperoleh dana sebesar Rp 60 miliar. PT Indocapital Sekuritas dan PT Semesta Indovest Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Perseroan akan menggunakan 52% dana hasil IPO untuk membeli mesin operasional baru guna menunjang kegiatan usaha perusahaan yang bergerak di bidang industri mebel. Sisanya untuk modal kerja. “Pasar furnitur meningkat dari tahun ke tahun, yang didorong oleh penguatan permintaan rumah,” kata Direktur Utama Cahaya Bintang Medan Suwandi dalam penjelasan resmi.

Hingga kuartal III-2019, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 111,84 miliar, naik 111,6% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 52,85 miliar. Laba tahun berjalan meningkat 118,5% menjadi Rp 18,25 miliar dari Rp 8,35 miliar.

Sementara itu, Cipta Selera Murni selaku pengelola waralaba Texas Chicken melepas sebanyak 184,06 juta saham baru atau setara 22,55%. PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Cipta Selera Murni meraih dana sebesar Rp 36,07 miliar dari hasil IPO. Sesuai rencana, sebanyak 70% dana IPO akan digunakan untuk membuka lima gerai baru di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, serta merenovasi lima gerai lama. Sisanya akan digunakan untuk modal kerja, terutama untuk pembayaran kepada pemasok, franchisor, dan keperluan terkait gerai-gerai yang telah beroperasi saat ini dan akan datang.

Direktur Utama Cipta Selera Murni Arriola Arthur Raphael mengatakan, IPO merupakan salah satu strategi perseroan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan memperluas dan memperkuat jaringan gerai Texas Chicken. “Pertumbuhan gerai akan didukung oleh standar internasional yang telah diterapkan dari kebijakan Master Franchisor, Cajun Global LLC,” jelas dia.

Hingga kuartal III-2019, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 155,43 miliar, turun 10,87% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 174,4 miliar. Meski demikian, perseroan mampu menekan kerugian menjadi Rp 7,35 miliar dari Rp 13,88 miliar.

Di lain pihak, Aesler Grup Internasional melepas sebanyak 250 juta saham atau setara 20% kepada publik. Harga penawaran Rp 100 per saham. PT Indo Capital Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Presiden Direktur Aesler Jang Rony Yuwono mengungkapkan, dana yang terkumpul dari hasil IPO sebesar Rp 25 miliar, sebagian besar akan digunakan untuk pembelian alat seperti komputer untuk real-time rendering dan mesin fit-out. Hal itu diharapkan bisa memacu pertumbuhan pendapatan perusahaan yang bergerak di bidang aktivitas arsitektur tersebut.

Tahun ini, Aesler membidik pertumbuhan pendapatan hingga lima kali lipat atau sebesar 67,4%. “Dengan adanya penambahan teknologi, kami berharap dapat bekerja dengan lebih cepat dan efisien, sehingga bisa menghasilkan pendapatan lima kali lebih besar dibandingkan periode sebelumnya,” kata Rony.

Lebih lanjut dia mengatakan, perseroan menargetkan kenaikan laba bersih sebesar 38,26% tahun ini dibandingkan perolehan tahun 2019. Target tersebut juga akan ditopang oleh beberapa kontrak baru, serta tambahan pendapatan dari lini bisnis fit out yang akan mulai ditekuni oleh Aesler setelah IPO.

Hingga kuartal III-2029, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 9,78 miliar, naik 176,27% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 3,54 miliar. Laba bersih tercatat melesat 3.839% menjadi Rp 4,63 miliar dari Rp 117 juta.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan, beberapa kebijakan relaksasi dari otoritas pasar modal juga ikut mendorong minat korporasi untuk IPO di tengah dampak pandemi. “Misalnya, relaksasi batas waktu laporan keuangan dan laporan penilai,” kata dia kepada Investor Daily.

Di sisi lain, menurut Nyoman, masih tingginya minat IPO juga didorong oleh partisipasi investor pasar modal dalam IPO calon emiten baru. “Dalam kondisi makro yang dinamis seperti saat ini, kita patut bersyukur bahwa minat IPO di Indonesia bisa jadi yang tertinggi,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN