Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di lantau Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Suasana di lantau Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Emiten Teknologi Belum Jadi Rujukan

Saham LQ45 Semakin Seksi

Rabu, 4 Agustus 2021 | 07:00 WIB
Nabil Al Faruq ,Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com) ,Muhammad Ghafur Fadillah

JAKARTA, Investor.id — Kinerja 45 saham paling likuid di bursa (LQ45) tetap menjanjikan. Koreksi yang terjadi saat ini justru membuat saham-saham LQ45 semakin seksi karena valuasinya murah. Dengan fundamental kuat dan kinerja keuangan yang terus membaik, saham-saham LQ45 masih menjadi rujukan para investor, khususnya investor institusi.

Para investor di lantai bursa juga belum berpaling dari saham LQ45 meski perhatian mereka sedang tertuju ke saham berkapitalisasi kecil dan menengah (medium and small caps), terutama saham-saham teknologi. Lonjakan harga saham teknologi di tengah pelemahan saham LQ45 saat ini disikapi secara hati-hati oleh para investor institusi. Mereka harus memastikan emiten teknologi memiliki fundamental kokoh dan punya prospek bisnis yang cerah dalam jangka panjang.

Euforia investor terhadap saham-saham sektor teknologi terjadi karena masyarakat, khususnya kalangan milenial, sedang demam teknologi. Kondisi itu didukung aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham unicorn, PT Bukalapak.com Tb (BUKA), yang akan disusul IPO decacorn, GoTo, dan perusahaan-perusahaan bigtech lainnya.

Bursa saham domestik saat ini belum bisa dikategorikan sedang bermetamorfosis ke saham-saham digital. Alhasil, emiten-emiten teknologi belum menjadi rujukan. Metamorfosis baru terjadi jika saham teknologi mencetak keuntungan besar dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi setiap tahun. Sebab pada akhirnya, valuasi yang tinggi harus bisa dijustifikasi oleh kemampuan emiten dalam mencetak keuntungan.

Hal itu diungkapkan Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Direktur PT Avrist Asset Management Tubagus Farash Akbar Farich, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, dan analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Selasa (3/8).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham LQ45 selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal tahun hingga 3 Agustus 2021 tergerus 10,31%. Alhasil, saham-saham LQ45 kini memiliki price to earning ratio (PER) yang relatif rendah. Pada periode yang sama, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 2,53%, sedangkan indeks IDX Sector Technology yang beranggotakan 21 saham teknologi melesat 947,99%.

Pelemahan indeks LQ45 jauh lebih dalam dari indeks IDX SMC Liquid yang melemah 6,03% (ytd). IDX SMC Liquid, terdiri atas 50 saham emiten, adalah indeks harga saham berlikuiditas tinggi yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah. (Lihat tabel)

Kinerja  LQ45, IHSG, SMC Liquid, dan IDX Sector Technology
Kinerja LQ45, IHSG, SMC Liquid, dan IDX Sector Technology

Belum Berpaling

Menurut Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, kinerja saham LQ45 masih menjanjikan. Ke depan, saham-saham LQ45 pun masih mampu bersaing dengan saham-saham teknologi yang telah melambung tinggi.

“Transaksi saham-saham LQ45 masih tinggi, sehingga kurang tepat jika investor dianggap sudah berpaling dari saham LQ45 ke saham teknologi. Terkadang ada waktu di mana saham medium small caps, terutama di sektor teknologi, bank digital, dan kesehatan meningkat, sehinga menarik perhatian besar dari para investor,” kata dia.

Rudiyanto mengungkapkan, kinerja harga saham LQ45 secara umum masih bagus. Laporan keuangan emiten LQ45 pun pada 2021 rata-rata membaik seiring meningkatnya harga komoditas. Apalagi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 yang diterapkan pemerintah mulai berhasil meredam penularan Covid-19, sehingga pelonggaran dapat segera dilakukan secara bertahap.

“Valuasi saham-saham LQ45 yang semakin murah tentu akan semakin menarik investor yang lebih menekankan aspek valuasi dan fundamental,” ujar dia.

Rudiyanto menjelaskan, bursa saham domestik saat ini belum bisa dikategorikan sedang bermetamorfosis, di mana emiten-emiten teknologi menjadi rujukan. Skenario metamorfosis baru akan terjadi jika saham teknologi mencetak keuntungan besar dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi setiap tahun. “Jika tidak bisa maka berpotensi bubble,” tegas dia.

Melonjaknya harga saham sektor teknologi akhir-akhir ini, menurut Rudiyanto, terjadi karena teknologi sedang menjadi tren. Kondisi itu didukung aksi IPO saham Bukalapak dengan target dana Rp 21,9 triliun yang digadang-gadang bakal memecahkan rekor tertinggi nilai IPO saham di pasar saham domestik.

Dia menambahkan, euforia terhadap saham teknologi akan meningkat setelah unicorn (startup dengan valuasi US$ 1-10 miliar) lain dan centaur (startup bervaluasi US$ 100 juta - US$ 1 miliar) merealisasikan rencana IPO-nya. Terlebih jika GoTo, satu-satunya decacorn (valuasi US$ 10-100 miliar) asal Indonesia, melantai di bursa saham domestik. Nilai IPO GoTo diperkirakan jauh lebih besar dari Bukalapak.

“Ada sebagian investor yang memang senang mengikuti tren, sehingga pemainnya semakin banyak. Namun pada akhirnya, valuasi yang tinggi harus bisa dijustifikasi oleh kemampuan mencetak laba dan pertumbuhannya,” tutur dia.

Sesuai Ekspektasi

Direktur Avrist Asset Management, Tubagus Farash Akbar Farich mengemukakan, kinerja indeks LQ45 masih bagus. Sebagian besar investor masih menggunakan strategi investasi yang merujuk indeks LQ45 atau IDX30.

“Kinerja keuangan mayoritas saham LQ45 atau IDX30 pada semester I-2021 sesuai ekspektasi. Profit bertumbuh, eksepsi hanya beberapa saham discretionary, seperti consumer goods yang membukukan penurunan net profit,” papar dia.

Dari sisi valuasi, kata Farash, kinerja saham LQ45 juga masih sangat menarik. Saham-saham LQ45 belum bergerak banyak, bahkan turun, padahal labanya secara tahunan (year on year/yoy) bertumbuh. Pada akhirnya, investor akan mengevaluasi kemajuan bisnis emiten versus valuasinya.

“Secara sektoral, sektor perbankan, telekomunikasi, basic industries, selected metal dan tambang, selected consumers, serta otomotif masih mengalami progres. Itu terlihat pada pertumbuhan profit sementara. Valuasinya pun tidak mahal. Technology selected juga menarik,” ujar dia.

Farash menambahkan, saham teknologi saat ini banyak diminati karena adanya pertumbuhan skala bisnis, pendapatan (revenue), dan laba kotor (gross profit) dalam tahap tinggi. “Apabila masih loss, investor tentu akan memantau bagaimana losses ini dapat konsisten berkurang tiap bulannya, atau bahkan mulai turn around membukukan monthly profit,” ucap dia.

Cermati Fundamental

Sementara itu, Ketua Umum ADPI, Suheri mengatakan, lonjakan harga saham-saham teknologi dan anjloknya saham-saham LQ45 disikapi secara hati-hati oleh investor institusi, termasuk para pengelola dana pensiun (dapen).

“Kami akan berhati-hati dan terus mengamati sisi fundamental saham-saham teknologi yang naik tajam. Sebagai institusi, kami harus tetap hati-hati karena uang yang kami pegang bukanlah uang untuk dispekulasikan. Apalagi kami belum punya pengalaman terkait saham-saham teknologi di Indonesia,” tutur dia.

Meski demikian, menurut Suheri, bukan berarti investor institusi seperti dapen tidak tertarik. “Kami masih mencermati dan terus mempelajari pola-pola yang terjadi. Lebih baik terlambat asalkan tidak mengalami kerugian. Kenaikan saham-saham teknologi ini luar biasa, namun secara fundamental kami belum tahu persis apakah akan bertahan atau tidak,” tegas dia.

Suheri mengakui, dengan teknik valuasi yang berbeda, pihaknya tetap melihat emiten berdasarkan kemampuan menghasilkan laba dan prospek pertumbuhan bisnisnya. Alhasil, kendati saat ini harga saham LQ45 anjlok 10,31% (ytd), para investor tetap berpikir rasional. “Jika keluar, mereka akan rugi. Jika tambah investasi, mereka juga takut karena belum mengetahui kapan akan rebound,” tandas dia.

Suheri menambahkan, investor saham-saham non-LQ45 yang bergerak di pasar umumnya investor ritel atau pendatang baru milenial yang ingin mendapatkan keuntungan dari trading saham dalam jangka pendek.

“Kita tahu persis dapen harus berpikir jangka panjang dan prudent. Jadi, jangan karena fluktuasi pasar, kemudian masuk dan keluar, lalu terus begitu. Hal itu justru bisa membahayakan portofolio. Barangkali ada sekian persen di antara investor yang kelola sendiri, di-trading-kan. Tapi itu bukan jumlah yang besar karena memang konsentrasi ke jangka panjang,” papar dia.

Suheri menegaskan, investor institusi seperti dapen harus bermain hati-hati, mengingat uang yang dikelolanya bukanlah milik pribadi, melainkan milik banyak orang. Dengan demikian, mereka tidak bisa seenaknya menginvestasikan dana tersebut pada instrumen investasi yang terlalu berisiko.

“Untuk itu, kami sangat hati-hati dan selalu melihat sisi fundamental. Kalau sudah masuk LQ45 atau IDX80, seharusnya fundamental para emitennya bagus,” ujar dia.

Dia menjelaskan, saham-saham LQ45 atau IDX80 melemah sejalan dengan minimnya transaksi. Artinya, saham-saham tersebut turun karena peminatnya adalah investor institusi dan invesor asing. Sedangkan para investor ritel baru akan masuk jika situasinya sudah benar-benar menguntungkan.

Prospek saham LQ45 ke depan, kata Suheri, sangat bergantung pada laba perusahaan dan penanganan pandemi Covid-19. Jika laba emiten turun, investor biasanya akan menghindar, sehingga harga sahamnya melemah. “Makanya gap antara IHSG, indeks LQ45, dan IDX 80 saat ini cukup lebar,” ucap dia.

Suheri menekankan, jika laba emiten membaik, berarti penanganan pandemi Covid-19 membuahkan hasil. Itu sebabnya, masyarakat diharapkan berbondong-bondong mengikuti vaksinasi guna mencapai kekebalan komunal (herd immunity), sehingga industri dan ekonomi bergerak kembali.

“Kalau angka Covid menurun dan ekonomi kembali bergerak, investor pasti akan masuk lagi, termasuk investor asing. Investor institusi pasti akan taruh uangnya di sana (pasar saham). Vaksinasi itu kunci yang dapat menggerakkan ekonomi. Begitu ada pengetatan, saham-saham jumbo drop. Kondisi sebaliknya terjadi begitu ada pengenduran,” papar dia.

Kinerja saham LQ45
Kinerja saham LQ45

Peluang Menguat

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengungkapkan, secara teknikal, indeks LQ45 belum menunjukan tanda-tanda bakal rebound dalam waktu dekat. Proyeksi itu sejalan dengan posisi indeks yang masih di bawah MA20 dan MA60 berdasarkan time frame mingguan.

“Akan tetapi, apabila dilihat menggunakan metode stochastic, LQ45 masih punya peluang untuk menguat meskipun masih berada di zona oversold-nya,” kata dia.

Menurut Herditya, sejak akhir 2020, para investor di pasar modal domestik cenderung mencermati saham-saham berbasis teknologi. “Saham-saham teknologi tidak memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar, namun pergerakan sahamnya dapat melampaui saham-saham konvensional, termasuk big caps. Ini tentunya lebih menarik bagi para investor dari sisi return,” ujar dia.

Dia mencontohkan saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA), PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW), PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS), dan PT Bank Artha Graha Internasinal Tbk (INPC). “Saham-saham ini diproyeksikan menguat, namun para investor tetap harus memperhatikan volume dan kapitalisasinya karena kecenderungannya volatile dan mini,” tutur dia.

Analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani mengakui, potensi pertumbuhan yang besar merupakan daya tarik utama bagi para investor untuk mengoleksi saham-saham teknologi. Apalagi dalam waktu bersamaan, saham-saham konvensional melemah akibat pandemi dan PPKM.

“Pertumbuhan saham-saham tersebut akan ditopang oleh pangsa pasar yang relatif masih kecil. Juga oleh perubahan perilaku masyarakat yang mengandalkan digital transaction ketimbang conventional transaction,” kata Hendriko.

Meski demikian, menurut Hendriko, saham-saham konvensional masih memiliki peluang untuk menguat. Hal itu ditunjukkan oleh perbaikan kinerja bisnisnya saat ini dibanding tahun silam.

“Titik terang pandemi menjadi kunci penguatan harga saham-saham LQ45. Dalam waktu dekat, kami memproyeksikan saham-saham LQ 45 masih mengalami tekanan harga,” ucap dia.(az)

Baca juga: Mau Tahu Indeks Saham LQ45 Terbaru? Baca Ini!

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN