Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Layar elektronik menampilkanharga saham di  Bursa Efek Indonesia (BEI). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Foto ilustrasi: Layar elektronik menampilkanharga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Saham Perbankan Terkena Tekanan Jual

Listyorini, Kamis, 16 April 2020 | 15:38 WIB

JAKARTA, Investor.id – Saham-saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (16/4/2020) terkena tekanan jual yang cukup besar. Hampir semua saham perbankan terkoreksi dengan besaran 4-5%.

Investor khawatir terhadap penurunan kinerja perbankan sebagai dampak kerusakan ekonomi yang ditimbulkan oleh virus corona (Covid-19). Indeks Harga Saham Gabungan turun 145.29 poin atau 3,14% menjadi 4.480,607. Asing mencatatkan penjualan bersih di pasar reguler sebesar Rp 1,08 triliun.

Sentimen negatif yang melanda saham perbankan adalah, laporan keuangan kuartal pertama perbankan di bursa Wall Street yang diprediksi bisa menimpa emiten perbankan di Indonesia. Selain itu, informasi tidak benar (hoax) tentang analisis kondisi perbankan akibat dampak Covid-19, yang isinya menggambarkan kondisi perbankan nasional dengan berbagai skenario, berseliweran di media sosial.

"Sentimen negatif semacam ini menghantui investor di tengah ketidakpastian ekonomi," kata Hari Prabowo, ketua komunitas investor pasar modal. Menurut dia, pasar saham hari ini anomali, di tengah indeks Dow Jones berjangka yang bergerak dalam teritori hijau.

Sejumlah saham perbankan mengalami tekanan jual cukup besar. Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 5,43% menjadi Rp 2.610, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 4,47% menjadi Rp 26.100, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 4,32% menjadi Rp 4.210, dan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 5,24% menjadi Rp 3.980.

Semalam, harga saham perbankan di bursa Wall Street juga terkenan tekanan jual dan terkoreksi berkisar 4-5%. Investor kecewa karena turunnya laba dari bank-bank besar, seperti Bank of America (BAC.N), Citigroup Inc (C.N), JPMorgan Chase & Co (JPM.N), dan Wells Fargo & Co (WFC.N). Juga, laba kuartalan Goldman Sachs Group Inc (GS.N) hampir berkurang separuhnya.

Informasi Tidak Benar

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa informasi tentang analisis kondisi perbankan akibat dampak virus corona (Covid-19) adalah tidak benar atau hoax.

Saat ini beredar informasi di masyarakat terkait analisis kondisi perbankan akibat dampak Covid-19 yang isinya menggambarkan kondisi perbankan nasional dengan berbagai skenario, yang seolah-olah dikeluarkan oleh Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK.

"Dokumen dan informasi yang beredar tersebut adalah informasi hoax dan tidak benar," demikian penegasan Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK, Anto Prabowo, dalam rilisnya Kamis (16/4/2020).

Sebagaimana diketahui bahwa sejak 13 Maret 2020 OJK menerapkan kebijakanpemberian stimulus bagi perekonomian dengan diterbitkannya POJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

Melalui kebijakan restrukturisasi ini, perbankan memiliki ruang mengendalikan potensi kredit bermasalah sebagai langkah countercyclical dampak penyebaran virus corona untuk menopang sektor riil dan kinerja perbankan guna menjaga stabilitas sistem keuangan.

Hal tersebut juga ditopang dengan kebijakan OJK mengenai penerapan PSAK 71 yang menggolongkan debitur yang mendapatkan restrukturisasi dalam stage-1 dan tidak diperlukan tambahan CKPN.

Selain itu, OJK dalam penerapan PSAK 68, menunda pelaksanaan harga pasar (mark to market) selama 6 (enam) bulan dan menggunakan kuotasi per 31 Maret 2020 untuk penilaian surat-surat berharga yang dimiliki oleh bank.

"Dengan berbagai kebijakan stimulus yang telah dikeluarkan oleh OJK tersebut, dengan ini ditegaskan bahwa dokumen yang berisikan analisis yang beredar dimasyarakat adalah hoax dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Anto.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN