Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu gerai RS Hermina dari PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).. Foto: IST

Salah satu gerai RS Hermina dari PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).. Foto: IST

Saham Sektor Kesehatan Prospektif

Rabu, 4 Agustus 2021 | 22:20 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Meningkatnya laba bersih PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) sebesar Rp 545 miliar pada semester I-2021, melesat 422,5% secara yoy dibanding tahun lalu sebesar Rp 104 miliar, telah memperlihatkan bahwa sektor kesehatan memiliki prospek bagus pada semester II-2021.

"Jadi, kalau ada yang bilang sektor kesehatan selesai, setelah pandemi Covid-19, menurut saya kacau. Jadi sebenarnya, bidang kesehatan masih oke karena pada dasarnya nature dari sektor kesehatan itu undersupply. Jadi memang prospek ke depan masih bagus untuk investasi jangka panjang," kata Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael, Rabu (4/8).

Sementara dari sisi revenue HEAL juga mencatatkan kinerja positif dengan meraup Rp 3,1 triliun atau sebesar 81% dari estimasi. Yang menarik lagi, pada kuartal II-2021, pendapatan perusahaan dari non-Covid juga mulai melambung menjadi Rp 919 miliar dari sebelumnya Rp 800 miliar.

Kontribusi tersebut, kata Joshua, sudah melebihi pendapatan non-Covid. Dengan demikian, kontribusi terhadap total inpatient revenue pun menjadi 61% dibandingkan revenue pada kuartal I-2021 sebesar 51%. Kenaikan non-Covid ini dipicu oleh banyaknya penyakit kronis yang pengobatannya tertunda.

Sementara data operasi inpatient day pada kuartal II-2021, Medikaloka mengantongi sebesar 287 ribu dan outpation day sebesar 13.000. Pendapatan inpatient day menurun dari Rp 6,4 juta menjadi Rp 2,5 juta. Meskipun demikian, angka tersebut masih cukup tinggi.

Selanjutnya, kinerja moncer Medikaloka terlihat dari pendapatan per outpatient yang rata-ratanya di 336, turun dibandingkan kuartal I-2021 di angka 382. Begitu juga dengan inpatient day lantaran Covid mulai menurun.

"Jadi untuk prediksi kita revisi di 2021 ini karena kasus Covid pada Juli ternyata jauh lebih tinggi daripada estimasi kita. Jadi, Juli saja sudah melebihi kuartal I dan II," papar Joshua.

Untuk 2022 di mana Covid diperkirakan mereda, Joshua justru melihat pengobatan dari penyakit kronis akan menjadi pondasi solid untuk pencapaian Medikaloka di 2022. Maka dari itu, ia menaikkan target pendapatan net Covid termasuk Rp 964 miliar revenue dari covid dan Rp 90 miliar dari vaksinasi gotong royong. 

Secara terpisah, Associate Researcher CIPS Andree Surianta menyampaikan, sektor kesehatan seperti industri farmasi masih menjadi pusat perhatian karena krisis kesehatan yang saat ini terjadi.

Karenanya, Andre justru mendorong agar  pemerintah mengembangkan research and development center untuk global value chain di industri farmasi. Sebab, jika suplai bahan baku obat dipermudah baik melalui impor ataupun kapasitas lokal, investor asing akan tertarik untuk berinvestasi.

Di samping itu, ketersediaan obat dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan sektor kesehatan juga akan membaik dan harga obat di Indonesia akan bisa bersaing di pasar global.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN