Menu
Sign in
@ Contact
Search
Salah satu proyek konstruksi PT Adhi Karya Tbk (ADHI). (Foto ilustrasi: Perseroan)

Salah satu proyek konstruksi PT Adhi Karya Tbk (ADHI). (Foto ilustrasi: Perseroan)

Saham Sektor Konstruksi Masih Menjanjikan?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 17:06 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah emiten konstruksi meraih kinerja positif pada tahun 2022 sejauh ini, di antaranya dengan pencapaian pertumbuhan kontrak baru.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) merealisasikan perolehan kontrak baru hingga Juni 2022 sebesar Rp 12,2 triliun. Jumlah tersebut naik sebesar 82% dibandingkan perolehan kontrak pada Juni 2021 yang lalu sebesar Rp 6,7 triliun.

Sementara, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga meraih kontrak baru tumbuh 197,3% menjadi Rp 9,31 triliun hingga Juni 2022.

Baca juga: Kinerja Emiten Bank Mentereng, Saham Apa yang bakal Paling Cuan? Cek...

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) berhasil membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp 12,4 triliun hingga Mei 2022 atau melonjak 56,76% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan, emiten konstruksi swasta, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) raih kontrak baru sebanyak Rp 516,4 miliar pada kuartal II-2022. Angka itu meningkat hingga 169,8% dari Rp 191,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kendati demikian, di periode yang sama pendapatan perseroan menurun 21,01% menjadi Rp 508,7 miliar.

Dari sisi laba, WSKT membukukan laba periode berjalan konsolidasi Rp 294 miliar hingga semester I-2022 atau tumbuh 28,95% dari periode yang sama tahun lalu.

Lalu, anak usaha PT PP Tbk (PTPP), yakni PT PP Presisi Tbk (PPRE) catat kenaikan laba bersih hingga 33% menjadi Rp 89,9 miliar pada akhir Juni 2022. Sebelumnya, perseroan membukukan laba bersih Rp 67,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ditopang oleh jasa konstruksi pertambangan.

Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono menjelaskan, penguatan kinerja emiten konstruksi merupakan hal yang logis. Faktor pandemi Covid-19 selama ini sebenarnya yang menjadi hambatan proyek infrastruktur. Setelah pandemi mereda, kinerja emiten konstruksi pun otomatis membaik karena proyek-proyek infrastruktur berjalan kembali.

“Emiten konstruksi apalagi pelat merah hanya menunggu waktu opening. Niscaya pemerintah terus melakukan pembangunan. Selama pandemi banyak proyek tergantung ataupun terhenti bahkan gagal. Jadi memang sudah saatnya emiten konstruksi bangkit,” kata Wahyu kepada Investor Daily, Selasa (2/8/2022).

Kendati demikian, dia melanjutkan, saat ini ancaman datang dari sentimen global, terutama dari ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang terancam resesi dan bahkan stagflasi.

“Kenaikan suku bunga agresif The Fed atau anjloknya ekonomi AS keduanya jadi salah satu isu penting yang harus dicermati karena akan berdampak kepada ekonomi kita juga nantinya. Misal, larinya modal atau pelemahan rupiah atau dampak lainnya bisa jadi akan ada penghematan anggaran pemerintah di mana proyek infrastruktur dan konstruksi bisa terdampak,” sebut Wahyu.

“Apalagi ancaman sentimen negatif global tersebut memang sudah sempat berdampak negatif di mana IHSG sempat terkoreksi dekati 6.500,” tambah Wahyu.

Namun, kata dia, harapan atas meredanya agresivitas moneter The Fed terkait harapan meredanya inflasi memberi napas kepada rupiah, sekaligus juga IHSG sehingga belakangan rebound.

“Jadi support opening yang mantap bisa potensial digerus oleh sentimen negatif global,” imbuh dia.

Tetapi, untuk jangka panjang, saham emiten konstruksi ini jelas sangat potensial. “Saat turun, potensinya justru makin menarik, beli di harga lebih murah,” kata Wahyu.

Dia menilai, untuk saham WIKA saat ini masih konsolidasi sekitar Rp 900, resistance Rp 1.020, dan strategi masih buy on weakness.

“Jika WIKA bisa lebih cepat naik dan melompat ke harga Rp 1.500, fase bearish pada saham tersebut akan usai. Setelah itu, WIKA bisa langsung menguji level tertinggi Rp 2.400-2.500. Jika tembus Rp 2.500 artinya bullish, saham WIKA bisa menguji level Rp 3.130 dan ATH (all time high) pada Rp 3.600,” terang dia.

Dia juga menyebut, ADHI masih sedang konsolidasi sekitar Rp 700-an, resistance Rp 840, dan jika tembus bearish usai. Target Rp 955. Untuk strategi masih buy on weakness.

“Jika 955 lewat, level resistance kuat menanti di Rp 1.220, double top, jika break maka bullish, potensial lanjut ke 1.300, 1.600, dan bahkan 2.000. Strong support 650, highly recommended to long term buy dekat atau di bawahnya,” papar Wahyu.

Adapun, WSKT masih sedang konsolidasi sekitar Rp 500-an, resistance Rp 610 dan Rp 695. Strategi masih buy on weakness.

“Level kuat di 1.155 jika tembus bearish usai. Target 1.400, 1.660, bahkan 2.000. Strong support 480, highly recommended to long term buy dekat atau di bawahnya,” jelas Wahyu.

Baca juga: Mitratel (MTEL) Akuisisi 6.000 Menara Telkomsel, Nilainya Tembus Rp 10,28 Triliun

Sementara itu, PTPP masih konsolidasi sekitar Rp 900-an. Resistance Rp 1.000. Selanjutnya, di Rp 1.120 dan jika tembus lanjut ke Rp 1.165, Rp 1.320, dan Rp 1.370.

“Strategi masih buy on weakness. Level kuat di 1.370 jika tembus bearish usai. Target 1.500, 1.900, bahkan 2.360,” pungkas Wahyu.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com