Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Saham Undervalued, Time to Buy

Tri Murti/Gita Rossiana, Selasa, 18 Februari 2020 | 14:08 WIB

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan rebound dari 5.867,5 menuju level 6.000 pada akhir Maret mendatang. Hal ini akan didukung rilis laporan kinerja keuangan emiten tahun 2019 di Bursa Efek Indonesia yang diperkirakan masih tumbuh, meredanya kekhawatiran terhadap virus korona Covid-19, serta perbaikan sektor manufaktur, pariwisata, dan penerbangan.

Bila epidemi virus korona Covid-19 mereda, IHSG diperkirakan cenderung bergerak menguat ke sekitar 6.250 hingga akhir Juni 2020, didukung faktor musim pembagian dividen serta penerbitan omnibus law cipta kerja dan perpajakan.

Berikutnya, indeks akan bergerak hingga 6.450 akhir September nanti, setelah undang-undang baru tersebut berhasil mendorong masuknya investor asing yang telah menunggu. Indeks selanjutnya masih bisa menguat ke level 6.550-6.675 pada Desember mendatang, setelah selesainya pemilihan presiden Amerika Serikat dan faktor window dressing.

Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV
Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV

Analis PT Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan saat ini, pihaknya merekomendasikan investor untuk melakukan pembelian (time to buy), karena harga saham sedang murah (undervalued).

Adapun rekomendasinya antara lain adalah PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) dengan target harga Rp 1.875 per unit, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 1.930, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga Rp 8.525, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 5.125, dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan target harga Rp 68.925.

Selain itu, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan target harga Rp 10.925, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan target harga Rp 1.860, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 3.430.

“Kami juga merekomendasikan saham seperti PT PP Persero Tbk dengan target harga Rp 1.945, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 4.740, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan target harga Rp 24.000,” kata Nafan Aji di Jakarta, Senin (17/2/2020).

Perbankan dan Properti

Penguatan IHSG
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pada kesempatan terpisah, Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan, sentimen yang paling dominan terhadap pergerakan IHSG berasal dari Tiongkok terkait wabah virus korona.

Pasalnya, virus tersebut sudah menjangkiti 29 negara dan jumlah kematian sudah mencapai di atas 1.700 orang. Sedangkan jumlah yang terinfeksi tercatat 70 ribuan.

Dalam menghadapi pergerakan IHSG yang cenderung melemah, apabila ingin berinvestasi dalam jangka yang panjang, Wisnu menyarankan untuk melakukan aksi buy on weakness, serta memilih saham-saham yang berfundamental baik dan rajin membagikan dividen dengan konsisten.

Sektor perbankan dan industri barang konsumsi hingga saat ini masih menjadi favorite. Meski demikian tidak tertutup kemungkinan sektor properti juga menjadi pilihan.

“Sektor properti itu hari ini ada keliatan naik. Sentimen dari stakeholder sebenernya sudah bagus, misalnya soal pajak hunian barang mewah, yang kini kelompok hunian mewah yang nilainya di bawah Rp 30 miliar bebas pengenaan pajak (pertambahan barang mewah/PPnBM),” ujar dia.

Wisnu menambahkan, para investor perlu memperhatikan Indeks High Dividen 20 (IDXHIDIV20) sebelum mereka berinvestasi. Beberapa emiten yang tergabung dalam indeks ini adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Selain itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), dan PT Pcrusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

“Ada pula PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR),” imbuhnya. (bil/der/ant/en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN