Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sampoerna Agro. Foto: dok. Investor Daily

Sampoerna Agro. Foto: dok. Investor Daily

Sampoerna Agro dan New Forests Perkuat Bisnis Karet

Farid Firdaus, Rabu, 18 Desember 2019 | 22:37 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) siap melanjutkan kerja sama di bisnis karet dengan perusahaan asal Australia, New Forests Asset Management Pty Ltd. Kedua perusahaan sebelumnya telah mendirikan perusahaan patungan (joint venture/JV) sejak 2015.

Head of Investor Relations Sampoerna Agro Michael Kesuma mengatakan, JV dengan New Forests merupakan bagian dari strategi jangka panjang perseroan. Ke depan, perseroan juga berencana merancang hilirisasi bisnis karet. Perseroan menargetkan produksi karet bisa dimulai tahun depan. “Secara konsisten, kami mengembangkan kebun karet mulai dari nol pada 2013, hingga kini sudah seluas 20 ribu hektare (ha),” jelas Michael di Jakarta, Rabu (18/12).

Sebagai informasi, kebun karet milik Sampoerna Agro ini berlokasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Struktur kepemilikan saham pada JV ini adalah 70-75% porsi perseroan, sementara 25-30% merupakan porsi New Forests.

Jika produksi berjalan sesuai jadwal, lanjut dia, salah satu pengembangan usaha selanjutnya adalah pendirian pabrik. Namun, perseroan belum dapat menjelaskan detail target produksi dan investasi yang disiapkan lantaran prosesnya masih terlalu dini.

Sementara itu, Sampoerna Agro mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 600 miliar tahun depan atau sama dengan anggaran tahun 2019. Mayoritas pendanaan capex berasal dari kas internal.

Menurut Michael, dua pertiga capex akan disalurkan untuk anggaran pada aset perkebunan seperti pupuk dan segala sesuatu yang berkaitan tanaman termasuk penanaman baru. Sedangkan bagian satu pertiga capex bakal dimanfaatkan untuk aset tetap seperti pengadaan mesin, bangunan, dan pembangunan jalan.

“Manajemen fokus pada kegiatan operasional dan produktivitas terlepas dari harga. Terkait penanaman pada tahun depan, kami menargetkan 1.000 ha untuk kelapa sawit dan 4.000 ha pada karet,” jelas dia.

Saat ini, Sampoerna Agro memiliki portofolio kebun yang menyebar di Sumatera dan Kalimantan untuk minyak sawit dengan total lahan 242 ha dengan 137 ha area tertanam. Lima pabrik kelapa sawit (PKS) di Sumatera memiliki kapasitas 380 ton per jam, sedangkan tiga PKS di Kalimantan berkapasitas 135 ton per jam.

Untuk bisnis kebun sago di Riau, perseroan memiliki total lahan 21 ribu ha dengan lahan tertanam 13 ribu ha, yang didukung oleh satu pabrik berkapasitas 100 ton per hari. Adapun di bisnis karet, total lahan yang dikuasai perseroan tercatat sebanyak 100 ribu ha.

Kinerja

Selama Januari-September 2019, perseroan membukukan penjualan konsolidasian sebesar Rp2,26 triliun, atau 1% lebih rendah dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 2,28 triliun terutama disebabkan oleh penurunan harga jual yang signifikan. Harga jual rata-rata perseroan untuk minyak sawit dan inti sawit per September 2019 mengalami penurunan masing-masing sebesar 12% dan 33%, dibandingkan periode sama tahun lalu.

Namun, penurunan kinerja kedua produk tersebut dapat diredam sebagian dengan naiknya volume penjualan. Volume penjualan minyak sawt naik menjadi 292.198 ton pada kuartal III-2019 atau naik sebesar 19% dibandingan kuartal III-2018. Adapun inti sawit juga mengalami kenaikan sebesar 3% menjadi 64.440 ton hingga September 2019.

Penjualan minyak sawit dan inti sawit perseroan, yang menyumbang sebesar 96% dari penjualan konsolidasian, berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kinerja pada kuartal III-2019. Penjualan dari kedua produk andalan tersebut meningkat dari Rp 578,12 miliar pada kuartal II-2019 menjadi Rp 862,43 miliar pada kuartal III-2019 seiring dengan kenaikan volume penjualan yang melebihi penurunan harga jual.

Selama kuartal III-2019 saja, perseroan menjual minyak sawitnya dengan harga rata-rata sebesar Rp6.569 per kilogram (kg), atau 2% lebih rendah dibanding kuartal II-2019. Inti sawit juga membukukan harga jual rata-rata 4% lebih rendah, yakni sebesar Rp3.362 per kg. Akan tetapi, volume penjualan untuk keduanya secara kuartal melonjak, masing-masing sebesar 52% dan 50%, dengan jumlah produksi yang mencapai 117.123 ton dan 27.665 ton.

Menurut Michael, landasan utama peningkatan kinerja perseroan pada kuartal III-2019 terutama didukung lonjakan produksi yang disertai dengan pencapaian produktivitas operasional yang lebih tinggi.

“Peningkatan hasil panen tertinggi dibukukan oleh kebun perseroan di Sumatera Selatan dengan masuknya periode siklus panen tinggi, meskipun di tengah cuaca yang kian panas dan kekeringan yang cukup intens pada kuartal tersebut. Kebun Sumatera Selatan membukukan lonjakan produksi minyak sawit sebesar 32% secara kuartalan,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA