Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO & Co-Founder PT Satu Global Investama Calvin Lutvi (tengah) dan  Managing Director PT Satu Global Investama Wilma Willantara saat  diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (26/2/2021).  PT Satu Global Investama optimis pasar modal di Indonesia pasca satu tahun pandemi akan terus tumbuh dan melahirkan lebih banyak lagi perusahaan yang akan go public. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

CEO & Co-Founder PT Satu Global Investama Calvin Lutvi (tengah) dan Managing Director PT Satu Global Investama Wilma Willantara saat diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (26/2/2021). PT Satu Global Investama optimis pasar modal di Indonesia pasca satu tahun pandemi akan terus tumbuh dan melahirkan lebih banyak lagi perusahaan yang akan go public. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Satu Global Investama Pegang Mandat Dua IPO

Senin, 1 Maret 2021 | 04:30 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - PT Satu Global Investama (SGI), perusahaan financial advisor dan investment, yang membiayai Pre-IPO financing sampai listing akan mengantarkan dua calon emiten untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu dekat ini.

CEO & Co-Founder Satu Global Investama Calvin Lutvi menjelaskan pada awal April 2021, SGI akan mengantarkan PT Lima Dua Lima Tiga, calon emiten dari industri food and beverage (F&B) untuk melantai di bursa papan akselerasi.

Adapun dana segar yang akan dibidik dari aksi korporasi ini sebesar Rp 30 miliar. Di mana, dana tersebut akan digunakan perusahaan untuk ekspansi outlet barunya baik di Jakarta dan luar Jakarta.

Lima Dua Lima Tiga merupakan pemilik dari kafe Lucy In The Sky di kawasan SCBD, Jakarta. Tahun ini, direncakan perseroan akan melakukan ekspansi outlet ke kawasan Little Tokyo Blok M, Sarinah, lalu Surabaya dan Medan. Perseroan juga akan mendirikan kafe dengan konsep Park by Lucy In The Sky di Senopati, Jakarta tahun ini.

Sementara pada tahun 2022 perseroan dengan konsep pantai akan mendirikan outlet Lucy By The Beach di PIK 2 dan Bali.

Adapun komposisi pemegang sahamnya terdiri dari Felly Imransyah 45,81%, PT CRA 29,68%, dan sisanya 24,52% oleh Surya Andarurachman P.

CEO & Co-Founder PT Satu Global Investama Calvin Lutvi (kanan) berbincang dengan  Managing Director PT Satu Global Investama Wilma Willantara usai diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (26/2/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
CEO & Co-Founder PT Satu Global Investama Calvin Lutvi (kanan) berbincang dengan Managing Director PT Satu Global Investama Wilma Willantara usai diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (26/2/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Selain itu, perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas pada awal Juli 2021 juga akan listing lebih dari Rp 320 miliar yang masuk ke dalam papan pengembangan. Dana tersebut akan digunakan perusahaan melakukan pengembangan, serta meningkatkan produksi minyak dan melakukan ekspansi pabrik Methanol di Aceh. Perseroan juga telah memiliki kerjasama dengan PT Pertamina (Persero) selama puluhan tahun.

“Selain dua perusahaan tersebut, kami masih memiliki beberapa calon emiten lainnya yang sudah meminta kami untuk melakukan proses IPO, namun perusahaan tersebut masih dalam tahap analisa terkait kelayakan perusahaan tersebut untuk dapat melantai di bursa,” kata Calvin dalam diskusi “Proyeksi Pasar Modal Indonesia di Tahun 2021” di Jakarta, akhir pekan lalu.

Di sisi lain, Calvin mengungkapkan proyeksi pasar modal Indonesia terus mengalami pertumbuhan positif pasca pandemi,

“Pada awal pandemi, pasar modal sempat terjadi koreksi penurunan yang sangat dalam, namun saat ini telah mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Kita bisa lihat, tahun 2020 pasar modal Indonesia mampu mencatatkan perusahaan IPO tertinggi se-Asean sebanyak 51 perusahaan, di mana tiga perusahaannya berhasil diantarkan IPO oleh kami yaitu perusahaan yang bergerak di bidang properti dan digital media. Kami berharap tahun 2021 lebih banyak lagi perusahaan yang melakukan listing seiring dengan dipermudahnya regulasi oleh Bursa Efek Indonesia,” jelasnya.

BEI kini sedang merampungkan Peraturan I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat. Revisi ini ditujukan untuk dapat mengakomodasi berbagai macam karakteristik perusahaan yang ingin melakukan IPO.

Adapun selain memberikan kemudahan dari segi regulasi, BEI juga meluncurkan program IDX Incubator, Papan Akselerasi, dan Papan Pengembangan untuk memfasilitasi perusahaan rintisan dalam proses melakukan IPO.

“Dengan semakin dipermudahnya regulasi untuk perusahaan melakukan IPO, saya yakin makin banyak perusahaan yang akan melakukan IPO. Kendala terbesar dalam perusahaan ingin melakukan IPO bukan hanya dari sisi regulasi, tapi dari modal yang akan dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. Untuk itu, Satu Global Investama sebagai perusahaan pre-IPO financing sampai listing pertama di Indonesia dapat memfasilitasi hal tersebut, dengan membiayai perusahaan yang ingin melakukan IPO dan semakin meningkatkan jumlah perusahaan terbuka di Indonesia,” ungkap Calvin.

Berdasarkan data dari BEI, hingga 30 Desember 2020 telah terdapat 713 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI, dengan mengalami peningkatan jumlah investor yang terdiri dari investor saham, obligasi, maupun reksadana, sebesar 56% atau mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID) hingga 29 Desember 2020.

Selain itu, berdasarkan catatan BEI, per 29 Januari 2021, investor usia muda di bawah 40 tahun mendominasi sebanyak 1.393.014 atau 75% dari total investor domestik. Namun di balik peningkatan jumlah investor muda di Indonesia jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Indonesia masih sangat rendah.

“Perusahaan terbuka di Indonesia masih kalah jauh dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Di mana, per Juli 2020 terdapat 932 perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Malaysia. Maka dari itu kami justru mendorong berbagai perusahaan dapat melakukan IPO. Perusahaan yang kami biayai untuk melakukan IPO tentunya yang memiliki prospek bisnis yang menjanjikan di masa depan. Karena kami juga menilai sejauh mana perusahaan ini dapat mengembangkan bisnisnya setelah mendapatkan dana dari publik. Kami juga fokus terhadap perusahaan yang masih berskala kecil untuk dapat melakukan IPO. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang ingin melakukan IPO, tentunya akan meningkatkan performa dari perusahaan tersebut untuk dapat mengekspansi lebih besar lagi skala bisnisnya,” ujar Calvin.

Sedangkan, tahun ini, BEI merilis target perusahaan yang akan melakukan IPO, lebih rendah dibanding tahun 2020 yaitu hanya 30 emiten.

“Setelah tahun lalu mengantarkan tiga perusahaan ke lantai bursa (PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS), PT Planet Properindo Jaya Tbk (PLAN), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)), tahun 2021 ini kami optimis dapat mendukung target BEI untuk membawa dan membiayai perusahaan rintisan yang ingin melantai di bursa,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN