Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah investor berada di galeri Bursa Efek Indonesia belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Sejumlah investor berada di galeri Bursa Efek Indonesia belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Sektor Infrastruktur dan Bank Kerek IHSG ke 6.400

Farid Firdaus/Arnold Kristianus, Rabu, 11 Desember 2019 | 13:56 WIB

JAKARTA, investor.id – Sektor infrastruktur, perbankan, dan barang konsumsi berpotensi mengerek indeks harga saham gabungan ke level 6.300-6.400 dalam 12 hari perdagangan tersisa tahun ini, dari posisi 6.183 pada Selasa (10/12). Tren penguatan IHSG di Bursa Efek Indonesia juga akan didukung aksi window dressing dan kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Demikian rangkuman keterangan Direktur dan Kepala Riset PT Citigroup Sekuritas Indonesia Ferry Wong, analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta, pengamat pasar modal Aria Santoso, dan Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana. Mereka dihubungi Investor Daily dari Jakarta secara terpisah.

Aria Santoso memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan menguat hingga akhir tahun ini. “Peluang untuk menembus 6.400 masih terbuka, masih ada 12 hari perdagangan,” kata Aria kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (10/12).

Seorang karyawan memperhatikan pergerakan indeks di Jakarta. Foto: Investor Daily/David
Seorang karyawan memperhatikan pergerakan indeks di Jakarta. Foto: Investor Daily/David

Sentimen window dressing diprediksi juga akan mendorong pergerakan IHSG menjelang tutup tahun ini. Selama 12 tahun terakhir, lanjut dia, IHSG rata-rata tumbuh sekitar 3,5% pada bulan Desember.

“Faktor pendorong yang dominan dari sentimen window dressing. Selain itu, kemungkinan tercapai kesepakatan atau trade deals antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, dalam rentang 10 tahun 1999-2009, IHSG naik 274,40% dari 676,91 menjadi 2.534,36. Berikutnya, pada 2009-2019, indeks meningkat 143,99% dari 2.534,36 ke 6.183,51 kemarin.

Saham Rekomendasi

Menjelang akhir tahun ini, Ferry mengatakan, pihaknya merekomendasikan sejumlah saham infrastruktur dan yang terkait. Ini misalnya saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Saham emiten barang konsumsi, seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), juga layak untuk dikoleksi.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta. Foto: youtube
Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta. Foto: youtube

Sedangkan Nafan Aji Gusta menyatakan, investor dapat mencermati saham-saham dari tiga sektor utama, di tengah meningkatnya aksi window dressing. “Sektor perbankan, consumer goods, dan infrastruktur akan mendapatkan katalis positif di tengah meningkatnya aksi window dressing,” ujar Nafan.

Dari sektor perbankan, Nafan merekomendasikan saham-saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI, PTBank Mandiri (Persero) Tbk

atau BMRI, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI.

“Kemudian, dari sektor consumer goods kami merekomendasikan untuk mengakumulasi saham HMSP, GGRM, dan INDF (PT Indofood Sukses Makmur Tbk). Untuk sektor infrastruktur kami merekomendasikan saham infrastruktur telekomunikasi TLKM, serta saham PGAS,” ucapnya.

Wawan Hendrayana menuturkan, tren pergerakan IHSG di akhir tahun ditopang menguatnya saham-saham big caps. Ini sejalan dengan aksi window dressing yang meningkat.

Outlook 2020

Seorang investor memotret pergerakan indeks di BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: DAVID
Seorang investor memotret pergerakan indeks di BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: DAVID

Ferry Wong mengatakan lebih lanjut, pihaknya memperkirakan IHSG berakhir di kisaran 6.200-6.300 di akhir 2019. Penguatan berlanjut tahun depan, dengan IHSG diperkirakan bisa berada di level 7.050 akhir tahun 2020.

Kenaikan IHSG pada tahun depan, lanjut dia, akan dipicu oleh peningkatan earnings per share (EPS) yang diproyeksikan sebesar 10,1%. Potensi aksi IPO dengan nilai emisi yang besar juga diproyeksikan membuat pasar lebih bergairah tahun depan.

“Mudah-mudahan ada calon emiten yang size perusahaannya di atas Rp 10 triliun. Menurut saya, semester I-2020 waktu yang tepat untuk aksi IPO, sebelum masuk ke semester II, dimana Amerika Serikat akan melangsungkan pemilu,” ungkap dia.

Pada kesempatan sama, Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi Alvin Pattisahusiwa mengatakan, RUU omnibus law yang menyederhanakan regulasi juga berpeluang diapresiasi oleh pasar, meski implementasi baru terasa pada 2021. Biasanya, pasar sudah melakukan price-in sekitar enam bulan sebelum sebuah kebijakan dimplementasikan.

“Kami menilai pada semester I-2020, pertumbuhan ekonomi akan cukup menantang. Di periode semester II-2020 ada peluang IHSG bisa bullish, sebelum nantinya dampak omnibus law terasa di 2021,” ujar dia.

Emiten Masih Laba

Hoesen. Foto; IST
Hoesen. Foto; IST

Pada kesempatan terpisah, Kepala Eksekutif Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan, sepanjang tahun berjalan ini (year to date), sejumlah indikator di pasar modal dinilai masih terjaga, kendati IHSG bergerak sangat fluktuatif. Perkembangan di pasar modal juga baik dari sisi jumlah emiten baru yang mencatatkan sahamnya di BEI yang mencapai 52 hingga saat ini.

Secara year to date, posisi nilai beli bersih (net buy) saham oleh investor asing mencapai Rp 41,67 triliun. “Data OJK juga menunjukkan, rata-rata laporan kinerja emiten hingga kuartal III-2019 masih mencatatkan laba, meski dari sisi pendapatan melambat. Nilai bersih (NAB) pada industri reksa dana juga naik 9% menjadi Rp 550 triliun per 5 Desember 2019. Sementara itu, di pasar obligasi, OJK mencatat rata-rata yield obligasi pemerintah turun 97 basis poin,” paparnya di sela seminar Economic Outlook 2020 di Jakarta, Selasa (10/12).

Dari sisi perlindungan investor, lanjut dia, OJK akan terus melanjutkan strategi transformasi ekosistem di pasar modal tahun depan. OJK akan tetap fokus meningkatkan kualitas keterbukaan informasi, kualitas audit, menyiapkan penerapan e-proxy dalam RUPS, serta mengusulkan sejumlah relaksasi perpajakan.

Sedangkan Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, ekonomi domestik diperkirakan masih terdampak oleh ketidakpastian global pada tahun depan. Hal ini terutama dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang menurunkan volume perdagangan dunia.

Selain perkembangan perang dagang AS-Tiongkok, faktor penurunan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), kian dicermati pelaku pasar. Sepanjang 2019, The Fed telah memangkas tiga kali suku bunganya menjadi 1,50-1,75%. Pergerakan suku bunga The Fed ini memengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia.

Investasi akan Meningkat

Bank Indonesia.
Bank Indonesia.

Sementara itu, di Manggarai Barat, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono mengatakan, BI ikut mendorong pertumbuhan investasi untuk meningkatkan laju perekonomian. Bila sikap pesimistis pengusaha berkurang, lanjut dia, maka investasi bisa menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi.

“Memang waktu awal 2019 pelaku usaha wait and see menunggu pemilu dan siapa yang akan jadi pemenang, kemudian mereka menunggu menterinya siapa. Setelah menteri ditunjuk, mereka menunggu programnya seperti apa, jadi wait and see dan sampai saat ini masih ada,” ujarnya di Ayana Hotel, Labuan Bajo, Manggarai Barat Senin (9/12).

Ia mengatakan, data Indeks Tendensi Bisnis (ITB) juga terus menurun, terutama komponen profit corporate. Tingkat investasi juga menurun dari sisi pengeluaran capital expenditure (capex) masih rendah. Order dari luar negeri juga masih belum ada perbaikan, sehingga mendorong pengusaha untuk wait and see.

“Namun, untuk tahun 2020 bisa membaik, terutama dari sektor properti yang sekarang dan ke depan lebih menggeliat. Lalu, kelanjutan PSN (Proyek Strategis Nasional) dan pembangunan smelter di beberapa daerah di Morowali, di Gresik, plus kelanjutan proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt,” ucap Endy.

Dody Budi Waluyo. Foto: IST
Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Sedangkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan, pihaknya akan menerapkan kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Sepanjang 2019, BI tercatat sudah memangkas suku bunga acuannya hingga 100 bps.

Menurut Dody, saat ini masih ada ruang untuk penurunan suku bunga acuan lagi. Namun demikian, BI akan cenderung lebih berhati-hari ke depan, atau menerapkan strategi kebijakan moneter dengan data dependent.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan sebelumnya, kondisi ekonomi global yang semakin tidak ramah pada 2019 kemungkinan akan berlanjut pada 2020. Ini terutama dipicu oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta perundingan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) yang menemui jalan buntu.

Perry Warjiyo. Foto: IST
Perry Warjiyo. Foto: IST

“Fenomena yang bercirikan antiglobalisasi dan lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dalam negeri (inward looking policy) ini belum menunjukkan tanda akan berakhir. Pertumbuhan ekonomi dunia yang menurun drastis pada 2019, kemungkinan belum pulih pada 2020,” kata Perry.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan turun dari 3,6% pada 2018 menjadi hanya 3% pada 2019 dan 3,1% pada 2020, akibat perang dagang AS dan Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi AS, Tiongkok, serta negara maju dan berkembang yang lain juga melambat. Bahkan, sejumlah negara telah atau berisiko mengalami resesi.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan sebelumnya, di tengah kondisi yang banyak tantangan saat ini, emiten BUMN ke depan dituntut memiliki kinerja keuangan yang baik, sehingga respons pasar akan positif. Hans mengungkapkan, kinerja saham emiten BUMN secara umum masih positif, terutama di sektor perbankan.

Karena itu, ia merekomendasikan saham bank besar BUMN, seperti BMRI, BBRI, dan BBNI. Selanjutnya sektor konstruksi, di antaranya, WIKA, WSKT, PTPP, dan ADHI. “Valuasi saham BUMN konstruksi masih murah, jadi bisa dipilih juga,” imbuhnya. (hut/is/en/ant)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA