Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Krakatau Steel.

Krakatau Steel.

Selain INA, Ini Nama Investor Strategis yang Incar Saham Anak Usaha Krakatau Steel

Selasa, 6 Juli 2021 | 11:14 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Banyak investor strategis yang membidik 20-30% saham anak usaha PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), yaitu PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) yang akan berganti nama menjadi PT Krakatau Sarana Infrastruktur.

“Selain Indonesia Investment Authority (INA), ada beberapa investor strategis lain yang akan bergabung," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim kepada Investor Daily, Senin (5/7).

Dia mengungkapkan, dari unsur Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terdapat PT Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Taspen), PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), PT Danareksa, dan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF).

Sementara itu, dari investor asing dan swasta nasional, Silmy enggan menyebutkan karena mereka tidak berkenan untuk diungkap. Walaupun banyak yang menyatakan minat, Silmy menegaskan bahwa perseroan akan tetap menawarkan porsi 20-30% saham kepada investor strategis.

"Banyaknya institusi yang berminat ini dikarenakan performa subholding sarana infrastruktur dari Krakatau Steel ini memang bagus," ujar Silmy.

Perseroan telah membuka penawaran awal kepada investor strategis sejak awal semester II-2021. Mengenai komposisinya, dia mengaku tidak membatasi berapa jumlah investor dari unsur BUMN dan berapa investor non-BUMN. Perseroan menargetkan aksi korporasi tersebut terjadi pada Agustus-September 2021.

Krakatau Sarana Infrastruktur merupakan subholding yang terdiri atas PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Daya Listrik (KDL), dan PT Krakatau Tirta Industri (KTI). Per 30 September 2020, nilai aset sebelum eliminasi KDL tercatat US$ 245,38 juta, KBS senilai US$ 224,91 juta, dan KTI sebesar US$ 98,42 juta. Sementara, nilai aset KIEC sendiri mencapai US$ 178,46 juta.

Krakatau Steel telah melakukan penambahan modal terhadap KIEC dengan cara penyetoran modal dalam bentuk lainnya (inbreng) saham perseroan di masing-masing anak usahanya, yakni KBS, KDL, dan KTI. Langkah ini sebagai persiapan KIEC yang akan berubah menjadi Krakatau Sarana Infrastruktur dan melangsungkan IPO saham pada kuartal I-2022.

Dengan penatausahaan anak usaha tersebut, maka terdapat pengalihan 99,99% saham perseroan pada KBS, KDL dan KTI sebagai setoran modal perseroan dalam bentuk lainnya kepada KIEC yang merupakan perusahaan terkendali perseroan, dimana Krakatau Steel memiliki 99,99% saham KIEC. Adapun harga penyertaan untuk KBS sebesar Rp 3,85 triliun, KDL Rp 3,74 triliun, dan KTI Rp 2,08 triliun. Beralihnya saham ini efektif mulai 30 Juni 2021.

Silmy menegaskan, subholding sarana infrastruktur memiliki pondasi yang kuat secara finansial. Penggabungan empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2020 dan akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

“Dari pembentukan subholding ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun dalam lima tahun mendatang. Sementara, untuk EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun pada 2025,” tutur dia.

Anak-anak usaha yang tergabung dalam subholding ini memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri. Misalnya, KIEC yang mengelola 3.250 hektare lahan industri dengan 920 hektare lahan industri yang tersedia untuk pengembangan tiga tahun ke depan. KDL memiliki kapasitas 120 MW dan saat ini tengah membangun fasilitas energi terbarukan melalui energi surya terapung yang mulai beroperasi pada tahun 2023.

Lalu, KTI merupakan perusahaan penyedia jasa air industri terintegrasi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 3.000 liter per detik di Cilegon. Sedangkan KBS memiliki kapasitas bongkar muat pelabuhan sebesar 25 juta ton per tahun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN