Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sentimen Global dan Domestik Tekan Pasar Surat Utang

Senin, 14 Juni 2021 | 06:32 WIB
Nabil Al Faruq

JAKARTA, investor.id — Harga surat utang negara (SUN) pekan ini diproyeksikan melemah yang dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik. Adapun imbal hasil (yield) 10 tahun berada pada rentang 6,3-6,4%.

Associate Director of Reasearch and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, harga SUN pekan ini akan dipengaruhi sentimen dari dalam negeri, yakni data trade balance diproyeksi surplus dan data export YoY dan import YoY diproyeksi meningkat. “Investor juga akan menarti pertemuan Bank Indonesia (BI) 17 Juni mendatang,” ujar dia kepada Investor Daily, Minggu (13/6).

Sementara dari global, terutama Amerika, data retail sales advance MoM diproyeksikan turun. Kemudian data empire manufacturing diproyeksikan turun dan investor juga menanti pertemuan Bank Sentral Amerika yang akan dilakukan pada 17 Juni.

Untuk diketahui, Selasa (15/6), Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan melelang enam seri surat berharga syariah negara dengan target indikatif Rp 10 triliun. Masing-masing seri dalam lelang pekan ini memiliki jatuh tempo 3 Desember 2021, 15 Mei 2023, 15 Oktober 2025, 15 Maret 2034, 15 Februari 2037 dan 15 Oktober 2046.

Nico menilai, lelang yang diadakan pekan ini akan ramai permintaan yang disebabkan oleh data perekonomian Indonesia yang mulai membaik, sehingga mendorong optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi bertambah. Adapun total penawaran yang masuk diprediksi berkisar Rp 30 triliun - Rp 40 triliun.

“Meskipun kami menyadari, potensi taper tantrum akan terus menghantui. Apalagi pekan ini ada pertemuan Bank Sentral Indonesia, Bank Sentral Jepang, dan tentu saja The Fed,” ujar dia.

Perhatian akan tertuju terhadap pertemuan The Fed yang digosipkan akan memulai diskusi terkait dengan pengurangan pembelian obligasi di pasar. Artinya, akan mendorong taper tantrum untuk terjadi.

Sebagai informasi, sebelum taper tantrum itu terjadi, angin dari taper tantrum sudah akan memberikan tekanan terhadap pasar saham dan obligasi seperti yang terjadi di 2013 silam.

Ketika taper tantrum semakin mendekati, tentu saja volatilitas di pasar akan bertambah besar, oleh sebab itu untuk meredam gejolak tersebut dibutuhkan obligasi berdurasi jangka pendek di bawah 10 tahun . Obligasi seri ini yang akan menjadi target bagi pelaku pasar dan investor untuk menjaga volatilitas portfolionya.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Aria Maruto mengatakan, sentimen taper tantrum ini akan terus di pantau market. Pihaknya melihat untuk jangka pendek pergerakan harga SUN relatif akan stabil dan melemahnya pun tipis, dalam artian pergerakannya sempit.

Tapering itu berarti Amerika mengurangi pembelian aset dan pertumbuhan ekonominya lebih cepat. Dengan isu ini, ekonomi Amerika akan menarik dan investor global pun akan masuk kesana,” ujar dia. 

Dengan masuknya asing ke Amerika, sehingga memberikan tekanan ke dalam negeri. Ramdhan menilai, biasanya kalau asing keluar maka domestiknya pasti akan menahan diri, sehingga mereka wait and see. “Hal ini memberikan dampak penurunan volume dan pasar pun akan tertekan,” ujar dia. 

Untuk lelang pekan ini, target indikatif Rp 10 triliun akan tercapai dan diproyeksikan bisa masuk di atas Rp 20 triliun. Adapun investor akan memburu obligasi jangka menengah yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2025. Obligasi ini dinilai lebih likuid dan secara resiko lebih rendah.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN