Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rupiah. Foto: IST

Rupiah. Foto: IST

UJI LEVEL DI BAWAH RP 13.600/US$

Sentimen Positif Dorong Penguatan Rupiah

Tri Listyarini/Imam Suhartadi, Sabtu, 18 Januari 2020 | 08:08 WIB

JAKARTA, investor.id  -- Nilai tukar rupiah ke depan masih baik, didukung sentimen positif secara global maupun data-data ekonomi domestik yang cukup baik. Dalam beberapa hari terakhir, rupiah selain tren menguat terhadap dolar AS, juga terhadap beberapa mata uang lain seperti dolar Singapura, yen Jepang, euro, dan pound sterling.

“Rupiah ke depan sentimennya masih baik atau positif, secara global maupun domestik dengan data-data ekonomi yang cukup baik. Kami optimistis, sepanjang 2-3 pekan ke depan rupiah masih akan stabil di kisaran Rp 13.600-13.700 per dolar AS. Mungkin akan menguji level di bawah Rp 13.600, apabila dari global tidak ada volatilitas yang signifikan,” kata Senior Financial Market Analyst Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto dalam wawancara dengan BeritaSatu TV di acara IDX Opening Bell, di Dealing Room Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analist Bank Mandiri. Sumber: BSTV
Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analist Bank Mandiri. Sumber: BSTV

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat (17/1), rupiah menguat menjadi Rp 13.648 per dolar AS, dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 13.658 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat sekitar 1,59% secara year to date, ke level Rp 13.645 per dolar AS pada Jumat malam. Rully menjelaskan, penguatan rupiah juga didukung beberapa data yang cukup baik seperti defisit neraca perdagangan yang mengecil.

“Sepanjang 2019, defisitnya turun cukup signifikan sekitar US$ 3 miliar dibanding 2018 yang sekitar US$ 8-9 miliar. Cadangan devisa juga terus menguat, inflasi juga stabil, dan masih ada ruang Bank Indonesia untuk melakukan kebijakan yang akomodatif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu,” ujarnya.

Tunggu Sinyal BI

Rully mengatakan, pasar forex kini masih menunggu apa yang akan dilakukan atau sinyal-sinyal dari Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur yang akan digelar minggu depan.

“Saya melihat BI akan tetap akomodatif, karena masih ada peluang bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, ke 4,75%,” katanya.

Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analist Bank Mandiri. Sumber: BSTV
Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analist Bank Mandiri. Sumber: BSTV

Sementara itu, di perdagangan obligasi, Rully mengatakan pada awal tahun 2020 pasar masih sangat positif. Capital inflow-nya juga cukup besar, hampir di atas Rp 10 triliun sudah masuk sejak 1 Januari lalu. Sedangkan ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan, penguatan nilai tukar rupiah patut diwaspadai, meski sifatnya hanya sementara (temporer). Alasannya, kenaikan nilai tukar rupiah yang terjadi akhir-akhir ini terlalu tajam.

Kondisi tersebut tidak baik bagi pelaku usaha, karena bisa membuat produk Indonesia di pasar internasional menjadi lebih mahal. Idealnya, menurut dia, Bank Indonesia (BI) segera mengendalikan pergerakan nilai tukar rupiah tersebut sehingga tidak mengalami apresiasi terlalu berlebihan.

Sedot Dolar

Teller menghitung mata uang Dolar di money changer, Jakarta, belum lama ini.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza
Teller menghitung mata uang Dolar di money changer, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Bhima menjelaskan, penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini bersifat temporer, sebagai dampak dari faktor eksternal terutama karena tercapainya kesepakatan pertama antara AS-RRT dalam meredakan perang dagang. Faktor lainnya dari dalam negeri, terkait pelebaran defisit APBN yang membawa konsekuensi pada kenaikan front loading utang pemerintah dengan bunga yang masih tinggi, di atas 6-7%.

“Kondisi tersebut telah menyedot dolar dari luar negeri, sehingga rupiah menjadi kuat. Sementara itu, defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan masih cukup lebar, sehingga pembalikan arah rupiah dapat terjadi sewaktu-waktu,” ungkap Bhima saat dihubungi Investor Daily di Jakarta, Jumat (17/1).

Menurut Bhima, penguatan rupiah bagus apabila terjadi secara bertahap. Sebaliknya, penguatan nilai tukar rupiah yang terlalu tajam seperti saat ini justru merugikan para pelaku usaha.

“Rupiah yang menguat terlalu tajam akan membuat produk ekspor Indonesia di pasar internasional lebih mahal. Di satu sisi, asumsi pelaku usaha dalam perencanaan bisnis pada tahun ini bisa terganggu, kontrak pembelian bahan baku impor dan mesin juga terpengaruh. Buat para eksportir ini disinsentif,” paparnya.

Bhima Yudhistira. Foto: IST
Bhima Yudhistira. Foto: IST

Dia menegaskan, rupiah yang menguat tapi tidak ditopang faktor fundamental juga berbahaya, karena mudah melemah kembali di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi sepanjang 2020. Karena itulah, Bhima menyarankan agar BI mengendalikan pergerakan kurs rupiah agar tidak mengalami apresiasi terlalu berlebihan dalam jangka pendek.

“Nilai tukar yang ideal bagi ekonomi dan pelaku usaha adalah yang stabil, yang terpenting stabil. Misalnya, nilai tukar itu bisa Rp 13.700 per dolar AS dalam satu tahun dan tidak bergerak jauh dari angka itu,” ujar Bhima.

Mata Uang Lain Menguat

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana juga meyakini penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi akhir-akhir ini bersifat sementara. Alasannya, penguatan mata uang terhadap dolar AS yang terjadi saat ini bukan hanya terjadi pada rupiah, tapi juga mata uang lainnya sebagai dampak dari kebijakan politis AS.

“Kalaupun penguatan nilai tukar rupiah berlangsung sampai tiga bulan, itu masih bisa ditoleransi, pelaku usaha tidak terlalu sensitif. Lain halnya apabila penguatan nilai tukar berlangsung selama enam bulan, pelaku usaha pasti akan melakukan penyesuaian rencana bisnis,” ungkap Danang.

Danang Girindrawardana. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Danang Girindrawardana. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Dampak penguatan rupiah juga tidak bisa dipukul rata untuk semua pelaku usaha. Bagi pelaku usaha yang telah menyimpan barang modal, tentu hal ini merugikan, sebaliknya bagi yang hendak membeli barang modal maka penguatan rupiah adalah kabar bagus buat mereka.

“Buat yang stocking barang modal sejak nilai tukar di posisi Rp 14.200 per dolar AS tentu nilai barangnya menjadi turun. Intinya, dalam konteks penguatan nilai tukar rupiah, tidak semua pelaku usaha senang. Tapi dari pengalaman, penguatan nilai tukar rupiah ini tidak akan bersifat jangka panjang, jarang yang bertahan lebih dari tiga bulan, satu atau dua bulan rupiah kembali melemah,” ucap dia.

Capital Inflow Besar

Anggota Komisi XI DPR dari F-PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan, penguatan rupiah karena capital inflow yang cukup besar. “Salah satu faktor karena investasi pada SUN (Surat Utang Negara) dinilai berimbal hasil menarik,” kata Hendrawan kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (17/1).

Dia melihat hal tersebut sangat positif. Sebab, sebagai emerging market, ekonomi Indonesia dinilai stabil.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P Profesor Hendrawan Supratikno. Foto: tokohindonesia.com
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P Profesor Hendrawan Supratikno. Foto: tokohindonesia.com

Di sisi lain, Hong Kong dan Timur Tengah agak goyah. Faktor pendukung penguatan rupiah lainnya, lanjut dia, ekspektasi terhadap dampak rencana pembentukan omnibus law yang dianggap akan mengurangi hambatan dalam perizinan dan birokrasi. Penguatan rupiah jangka pendek, lanjut dia, membuat kegiatan produksi lebih murah karena harga barang modal turun.

Selain itu, mendorong kegiatan konsumsi domestik. Namun, dia mengakui, penguatan ini jika berlangsung terus akan berdampak pada daya saing ekspor, karena produk ekspor sensitif pada nilai tukar. Penetrasi produk-produk impor juga akan menguat.

“Dampaknya dirasa berat untuk eksportir. Eksportir selalu berharap rupiah melemah. Ini juga tantangan berat untuk industri yang daya saingnya rendah. Produk-produk UMKM juga semakin tertekan dan dituntut lebih efisien,” katanya. (en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA