Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Surat utang. Foto ilustrasi: DAVID

Sentimen Tapering Kerek Yield SUN

Senin, 25 Oktober 2021 | 05:40 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) pekan ini diproyeksikan turun, seiring dengan kenaikan imbal hasil (yield) yang dipengaruhi oleh sentimen negatif pelaksanaan tapering off oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, dalam waktu dekat.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana mengatakan, tapering kemungkinan dilaksanakan awal November 2021 yang bisa berimbas langsung terhadap kenaikan yield SUN. Hal itu mulai terlihat dari kenaikan yield pada lelang treasury AS, baru-baru ini.

“Pemodal juga disarankan untuk tetap memantau sejumlah sentimen, seperti rilis data soal jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) Indonesia, serta data penjualan new home sale AS. Investor juga perlu mencermati pengumuman tingkat suku bunga European Central Bank dan rilis data gross domestic product (GDP),” kata Fikri kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Apabila data M2 menunjukkan hasil positif, kenaikan yield kemungkinan terkendali atau tidak terlalu tinggi, yakni berada pada kisaran 20-30 basis poin. Dengan begitu, yield obligasi bertenor 10 tahun diperkirakan hanya naik dari 6,2% menjadi 6,3% atau 6,4% pada pekan ini.

Pergerakan harga SUN juga akan dipengaruhi oleh lelang SUN rupiah, Selasa (26/10), yang diperuntukkan bagi memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021. Pemerintah akan melelang 7 seri, yaitu SPN03220126 yang jatuh tempo pada 26 Januari 2022 dengan imbalan diskonto, SPN 12220707 yang jatuh tempo pada 7 Juli 2022 dengan imbalan diskonto, dan FR0090 yang jatuh tempo pada 15 April 2027.

Selain itu, FR0091 yang jatuh tempo pada 15 April 2032, FR0088 jatuh tempo pada 15 Juni 2036, FR0092 yang jatuh tempo pada 15 Juni 2036, FR0092 yang jatuh tempo pada 15 Juni 2042, dan terakhir FR0089 yang jatuh tempo pada 15 Agustus 2051. Sedangkan target indikatif lelang kali ini mencapai Rp 8 triliun dan maksimal Rp 12 triliun.

Menurut Fikri, jumlah penawaran yang masuk kemungkinan tetap rendah atau melanjutkan penawaran pada lelang sebelumnya, yakni berkisar Rp 46 triliun. Namun, angka tersebut masih jauh di atas target pemerintah, sehingga target indikatif tersebut masih mudah untuk terpenuhi.

“SBN seri jangka menengah akan banyak diminati pemodal, yakni FR0090, FR0091, dan FR0088 ketimbang seri lainnya. Pasalnya, pada seri jangka panjang akan dipengaruhi oleh risiko pemulihan ekonomi yang belum stabil,” jelasnya.

Adapun yield curve obligasi tenor jangka menengah relatif lebih tinggi dibandingkan yang lain. Harganya cenderung lebih murah dibandingkan awal tahun 2021. Hal itu tentu menjadi incaran para investor. “Investor institusi dan perbankan diperkirakan tetap mendominasi lelang kali ini, karena didukung oleh likuiditas yang sangat besar,” tuturnya.

Pandangan senada diungkapkan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus. Menurut dia, yield obligasi berpotensi naik pada rentang 5-5,15% untuk tenor 5 tahun. Sedangkan obligasi bertenor 10 tahun pada kisaran 6-6,10%, 15 tahun di 6,3-6,35%, dan 20 tahun di 6,95-7,1%.

Tingginya ketidakpastian akibat risiko dari taper tantrum membuat para investor cenderung menahan diri. Meski demikian, target indikatif pada lelang obligasi negara diproyeksikan tetap terpenuhi, asalkan rentang yield yang diminta pada saat penawaran dapat terpenuhi.

“Total penawaran yang masuk bisa berkisar Rp 40-55 triliun. Bahkan mungkin bisa lebih, seiring situasi dan kondisi. Apalagi, pada tanggal yang sama, Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang akan menggelar pertemuan,” ujar Nico.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN