Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sentimen The Fed dan Evergrande telah Diantisipasi Pasar

Jumat, 24 September 2021 | 00:17 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,56% ke posisi 6.142,7 pada perdagangan Kamis (23/9). Sebab selama ini pelaku pasar telah mengantisipasi rencana The Fed soal tapering. Sementara itu, penanganan terhadap potensi gagal bayar (default) raksasa properti Tiongkok, Evergrande, mulai menunjukkan kabar baik.

Adapun The Fed dikabarkan mempertahankan suku bunga acuan di level 0,25% dan menegaskan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) tersebut segera melakukan tapering secara bertahap mulai Desember sampai pertengahan tahun 2022.

Founder dan CEO Finvesol Consulting Fendy Susiyanto menegaskan, persoalan tapering atau pengurangan pembelian obligasi sudah terantisipasi sejak beberapa bulan yang lalu. “Dampaknya lebih banyak less volatile, artinya tidak terlalu banyak berdampak terhadap IHSG,” kata dia.

Adapun pergerakan IHSG hingga akhir tahun ini diproyeksikan berada pada rentang 6.100-6.600. Level support diperkirakan berada di 6.050. Apabila terjadi kejadian yang sangat ekstream, level support IHSG bisa berada di sekitar 5.800. Sedangkan resistance di 6.300-6.600.

Mengenai efek Evergrande, Fendy juga mengatakan bahwa sentimen itu tidak terlalu mempengaruhi pergerakan IHSG saat ini. Meski demikian, bisa mempengaruhi sektor komoditas, apabila kasus tersebut tidak segera dituntaskan.

“Indonesia memiliki hubungan perekonomian yang sangat kuat dengan Tiongkok, jadi pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu akan mendorong juga cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama ekspor komoditas,” jelas Fendy.

Dengan demikian, apabila pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat, maka akan berdampak pada penurunan permintaan ekspor komoditas Indonesia. Hal ini bisa menekan harga jual produk komoditas, sehingga akan menurunkan kinerja ekspor, dan secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam menyelesaikan kasus Evergrande, Pemerintah Tiongkok kemungkinan akan melakukan bail out terhadap utang yang dimiliki perusahaan tersebut. Selain itu, pemerintah akan melakukan restructuring supaya efek dominonya tidak terlalu lama.

Secara terpisah, Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee juga mengatakan, efek Evergrande tidak terlalu mempengaruhi IHSG, namun berpengaruh terhadap sektor komoditas apabila kasus tersebut tidak segera ditangani.

Menurut Hans, Tiongkok berada di posisi 5 besar dalam hal mengonsumsi komoditas. “Jadi kalau terjadi sesuatu, tentu komoditas akan rontok banyak dan akan terjadi krisis multidimensi di Asia dan dunia. Tapi kemungkinan ini tidak akan terjadi karena akan di bail out,” ujar dia.

Hans menambahkan, posisi utang Evergrande sebesar US$ 300,05 miliar atau setara Rp 4.000 triliun, dimana setara dengan 2/3 utang Indonesia. Size ini cukup besar, tapi Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa ini bisa sistemik, artinya Tiongkok dan Bank Sentral akan melakukan bail out.

Mengenai tapering, Hans pun juga mengatakan bahwa itu tidak akan mempengaruhi laju IHSG. Sebab pasar sudah siap menghadapi itu, sehingga tidak terlalu panik. “Tapering November ini nampaknya akan mulai, tapi memang kalau tapering terjadi pada November setidaknya sudah didiskon pasar, jadi orang sudah tahu. Mungkin goyang sedikit nanti pasarnya, tapi tidak jatuh-jatuh amat atau bisa dibilang wajar,” ujar dia.

Sementara itu, analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, kabar dari The Fed soal tapering dan rincian mengenai rencana ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar sejak lama. Sebelum tapering dilakukan, IHSG masih berpeluang menguat. “Ini juga sejalan dengan pernyataan The Fed yang menyebutkan bahwa tidak akan mengulangi kesalahan yang terjadi pada tapering tahun 2013,” jelas dia.

Nico menambahkan, yang menjadi kekhawatiran sesungguhnya setelah tapering pada November 2021. Volatilitas yang tinggi dan kecilnya selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat bukan tidak mungkin akan terjadi capital outflow yang besar di pasar saham maupun obligasi. “Meski secara perekonomian, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa Indonesia sudah siap dengan tapering,” ujarnya.

Di lain pihak, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, tapering justru memiliki dampak yang positif di pasar. Pasalnya, The Fed cenderung untuk menunggu hingga setidaknya akhir tahun dan data ekonomi untuk membaik sehingga tidak menyebabkan kepanikan para pelaku pasar.

“Saham-saham big cap seperti BBNI dengan target harga Rp 8.000, BMRI Rp 8.900, ADRO Rp 1.700, UNTR Rp 26.600 dan saham-saham komoditas berpotensi terdongkrak,” pungkasnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN