Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya perdagangan efek di sekuritas, Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau jalannya perdagangan efek di sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Sentimen The Fed dan Neraca Perdagangan Kerek Harga SUN

Gita Rossiana, Senin, 15 Juli 2019 | 08:47 WIB

JAKARTA, investor.id– Harga surat utang negara (SUN) selama pekan ini diperkirakan masih menguat, meskipun penguatannya mulai terbatas. Sinyalemen penurunan suku bunga oleh The Fed dan data neraca perdagangan Indonesia menjadi sentimen terhadap pergerakan harga SUN.

“Data ekspor, impor, dan trade balance akan keluar pada 15 Juli. Secara proyeksi, kami melihat bahwa data trade balance yang akan keluar berpotensi untuk surplus sebesar US$ 660 juta," kata Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico kepada Investor Daily, Minggu (14/7).

Nico menegaskan, jika data yang muncul sesuai perkiraan, akan menjadi hal yang sangat bagus. Pasalnya, hal tersebut juga bisa memicu penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Sementara itu, dari luar negeri, sentimen yang mempengaruhi harga SUN pekan ini adalah beberapa data makro ekonomi Amerika Serikat, yaitu data empire manufacturingretail sales advance, dan data industrial production. "Data indikator ekonomi ini menjadi penting sebelum pertemuan FOMC pada akhir bulan," ucap dia.

Tidak hanya dari AS, data inflasi Eropa juga akan dinanti investor selama pekan ini. Data inflasi ini akan menjadi stimulus terhadap pemangkasan suku bunga acuan bank sentral Eropa.

Menurut Nico, apabila The Fed dan bank sentral Eropa benar-benar akan memangkas tingkat suku bunga mereka, dana asing berpeluang masuk ke Indonesia. "Ketika itu terjadi, investasi di negara emerging market yang memiliki tingkat volatilitas yang tinggi akan menjadi pilihan, termasuk Indonesia," tutur dia.

Sentimen-sentimen tersebut akan membuat pergerakan harga SUN meningkat. Akibatnya, imba hasil (yield) SUN pekan ini bakal menurun. Untuk SUN tenor lima tahun, Nico memprediksi yield-nya berkisar 6,55-6,68%. Sementara, untuk tenor 10 tahun, yield berpotensi menuju 7,15%. Sedangkan untuk tenor 15 tahun, yield akan berada dalam rentang 7,46-7,56% dan untuk tenor 20 tahun di kisaran 7,71-7,82%.

Di antara seri SUN tersebut, menurut Nico, seri obligasi acuan (benchmark) masih akan menjadi minat para investor. Seri obligasi tersebut akan menjadi pendorong bagi pergerakan obligasi lainnya. "Calon obligasi acuan untuk tenor 15 tahun tentu juga akan diminati, yaitu FR 80, FR 77, FR 78, FR 68, FR 79, dan FR 80," papar dia.

Di lain pihak, Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, dalam satu-dua bulan ini, harga SUN memang masih terbuka untuk menguat. Adanya sinyal penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa pekan terakhir menjadi faktor pendorong hal tersebut.

"Sinyal penurunan suku bunga sudah lama muncul yang memacu dana asing masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, karena rate Indoneisa paling menarik di kawasan," kata dia.

Lebih lanjut Ramdhan mengungkapkan, SUN tenor 10-15 tahun akan menjadi seri SUN yang akan banyak dicari, karena likuiditasnya lebih tinggi dan range perubahan harganya lebih besar, sehingga investor lebih mudah dalam melakukan profit taking.

Pergerakan yield SUN seri tersebut akan bergerak terbatas pada level 7,2%. Namun, apabila dana asing masuk ke Indonesia, yield-nya akan begerak ke posisi 7% atau di bawah 7%. "Yang menggerakkan yield adalah dana asing yang sudah mulai terasa setelah libur panjang," ungkap dia.

Sementara itu, kondisi domestik turut membantu pergerakan harga SUN. Sebab, setelah pemilihan presiden, tidak ada gejolak yang berarti. "Namun, memang kebijakan pemerintah untuk menjaga cadangan devisa dan neraca perdagangan menjadi lebih positif, itu sangat penting," ujar Ramdhan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN