Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
lustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruht Semiono

lustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruht Semiono

Sepekan ke Depan, IHSG Bersiap Tembus Level 6.400

Farid Firdaus, Minggu, 8 September 2019 | 19:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat dalam sepekan ke depan, dengan potensi menembus level tertinggi (resistance) 6.400. Sentimen positif datang dari meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, serta nada dovish dari Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell terkait suku bunga acuan.

Ekonom dan analis PT Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, setelah melewati periode koreksi yang cukup banyak pada Agustus, IHSG diprediksi akan kembali rebound pada September ini. Jika pekan ini IHSG mampu menembus level 6.370, maka peluang ke 6.400 kian besar.

“Karena IHSG mengalami penurunan Agustus kemarin, jadi banyak saham yang sudah murah dan investor bisa beli lagi. Hal ini juga didukung oleh tensi AS-Tiongkok yang sudah berkurang,” jelas dia kepada Investor Daily, Sabtu (7/9).

Pada perdagangan Jumat (6/9), IHSG ditutup menguat 0,03% ke level 6.308,9 dengan pergerakan yang bervariasi dari sejumlah sektor. Indeks sektor kimia dan industri dasar mengalami penguatan paling tinggi sebesar 1,71%, sedangkan sektor infrastruktur dan transportasi menjadi yang anjlok paling dalam 1,41%. Investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) saham sebesar Rp 353,9 miliar. Alhasil, posisi beli bersih (net buy) asing sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) menjadi Rp 57,46 triliun.

Di Asia, beberapa indeks acuan kompak berakhir di zona hijau. Indeks Kopsi di Korea Selatan naik 0,22% dan Nikkei 225 di Tokyo, Jepang menguat 0,54%. Sementara itu, indeks Shanghai SE di Tiongkok terpantau naik 0,46% dan Hang Seng di Hong Kong melonjak 0,66%.

Sementara itu, setelah Jerome Powell berpidato di Universitas Zurich, Swiss pada Jumat waktu setempat, saham-saham di Wall Street New York ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones Industrial 0,26% menjadi 26.797,4. Sedangkan S&P 500 naik sebanyak 0,09% menjadi 2.978,7. Indeks Komposit Nasdaq turun 0,17% menjadi 8.103,07.

Pada pidatonya, Powell mengatakan, The Fed akan bertindak sebagaimana mestinya untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS. Faktor politik juga tidak bakal berperan dalam penentuan keputusan terkait suku bunga.

Menanggapi itu, Lana Soelistianingsih mengatakan, pernyataan Powell tersebut membuat pelaku pasar menerka ada peluang penurunan suku bunga The Fed pada pertemuan yang digelar 17-18 September 2019.

Secara terpisah, analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta menjelaskan, IHSG diproyeksikan bergerak dalam kisara 6.161-6.404 selama sepekan ke depan. Meredanya sentimen perang dagang antara AS dengan Tiongkok dengan adanya agenda pertemuan bilateral antara kedua negara tersebut di Washington DC pada Oktober mendatang disikapi positif oleh pelaku pasar.

Sepekan ke depan, laju IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data-data makro ekonomi global yang memberikan efek besar ke pasar seperti level pertumbuhan GDP Inggris, crude oil inventories AS, posisi neraca perdagangan Tiongkok, OPEC meetings, serta penetapan suku bunga bank sentral Eropa.

“Sedangkan dari sentimen domestik, para pelaku pasar mengapresiasi peran pemerintah yang terus berkomitmen dalam menjaga stabilitas fundamental makroekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan,” ujar dia.

Di sisi lain, data penjualan ritel per Juli yang diproyeksikan meningkat dari minus 1,8%  menjadi 2,3% diyakini akan terus memberikan efek positif bagi kinerja IHSG maupun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Nafan merekomendasikan, saham-saham sektor agribisnis, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang pergerakan harganya bertahan di atas garis bawah dari Bollinger. Secara teknis terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. Investor disarankan akumulai beli saham AALI pada kisaran Rp 10.350-10.450.

Selain itu, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. Investor disarankan melakukan akumulasi beli pada level Rp 1.150-1.170.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN