Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi. (Rawpixel/Pixabay)

Foto ilustrasi. (Rawpixel/Pixabay)

Siap Merger dan Akuisisi, Hutchison 3 Dekati XL, Indosat, dan Smartfren

Gita Rossiana, Senin, 23 September 2019 | 20:23 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Hutchison 3 Indonesia siap melangsungkan merger dan akuisisi dengan salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Perusahaan yang dijajaki adalah PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT), dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Wakil Direktur Utama Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengatakan, perseroan sudah melakukan pembicaraan dengan tiga perusahaan telekomunikasi yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut. "Diskusi untuk saling menjajaki (sudah dilakukan), namun belum ada diskusi formal," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (23/9).

Danny menegaskan, penjajakan tersebut dilakukan sesuai imbauan pemerintah untuk melakukan konsolidasi di antara perusahaan telekomunikasi. Perseroan juga tidak menutup kemungkinan untuk semua opsi konsolidasi. "Semua skema konsolidasi open for discussion,” ujar dia.

Adapun menurut laporan Bloomberg, perusahaan asal Hong Kong CK Hutchison Holdings Ltd berencana melakukan konsolidasi bisnis seluler di Indonesia dengan unit bisnis Axiata Group Bhd di Indonesia, yakni XL Axiata. Hutchison memegang kendali atas Hutchison 3 Indonesia, pengelola operator merek 3.

Namun, Chief Executive Officer (CEO) Axiata Group Jamaludin Ibrahim menolak berkomentar mengenai hal ini. Secara terpisah, Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan juga enggan menyatakan pendapatnya. “Pertanyaan soal kabar itu (Hutchison) bisa ditanyakan langsung kepada Axiata Group selaku pengendali XL,” jelas dia kepada Investor Daily.

Adapun, menurut Jamaludin, saat ini perseroan fokus pada efisiensi operasional. Pihaknya menyakini keuntungan serta arus kas perseroan dalam keadaan tidak cukup baik, lantaran industri telekomunikasi yang melambat. “Selama tiga tahun terakhir, kami telah berbicara dengan pihak-pihak di kedua negara (Malaysia dan Indonesia). Salah satu aksi yang direncanakan yakni hampir terjadinya merger dengan Telenor,” pungkas dia.

Pada awal September lalu, Axiata dan Telenor sepakat mengakhiri diskusi untuk konsolidasi aset dan operasi di Asia. Semula, penggabungan aset infrastruktur ini perkirakan menghasilkan pendapatan US$ 13 miliar dan laba sebelum bunga dan pajak (EBITDA) hingga US$ 5,5 miliar.

Di sisi lain, XL Axiata menjajaki peluang penjualan 4.500 menara telekomunikasi miliknya. Jika berhasil dieksekusi, aksi ini akan menjadi yang ketiga kalinya, setelah perseroan berhasil melepas 6.000 menara pada 2014 dan 2016.

Semula, aset 4.500 menara ini masuk dalam kelompok aset strategis. Disebut strategis lantaran perseroan cukup bergantung pada menara dalam rancangan jaringan telekomunikasinya. Namun, seiring berjalan waktu, kini ketergantungan tersebut telah berkurang karena arsitektur jaringan XL lebih terdistribusi.

Pada 2014, XL Axiata telah menjual 3.500 menara melalui proses lelang seharga Rp 5,6 triliun kepada PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Selanjutnya, perseroan mengantongi Rp 3,56 triliun dari hasil penjualan 2.500 menara kepada anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), pada 2016.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA