Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruth Semiono

Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruth Semiono

Sikapi Kabinet Jokowi Jilid II, Bagaimana Arah Pasar Saham?

Farid Firdaus, Senin, 21 Oktober 2019 | 08:15 WIB

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan tren bullish selama pekan ini, yang didorong oleh kepastian susunan kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin. Kalangan profesional yang menjabat menteri strategis diyakini akan mendorong optimisme pelaku pasar.

Analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta menjelaskan, pelantikan presiden dan wakil presiden serta pengumuman kabinet Jokowi jilid II setidaknya akan membawa kepastian arah kebijakan, terutama lingkup ekonomi selama lima tahun ke depan. Keputusan Jokowi terhadap menteri yang terkait langsung dengan ekonomi dipastikan melewati pertimbangan yang matang.

“Kami tahu posisi menteri juga akan diisi oleh politisi, karena ini kabinet gemuk. Tapi kementerian strategis selalu diisi oleh sosok profesional,” jelas Nafan kepada Investor Daily di Jakarta.

Pada penutupan perdagangan Jumat (18/10), IHSG berakhir di zona hijau dengan naik 0,17% ke posisi 6.191,94. Posisi tersebut juga mencerminkan kenaikan 1,44% selama sepekan. Namun, investor asing melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 338,58 miliar, yang membuat total net sell selama satu pekan mencapai Rp 1,35 triliun. Adapun posisi beli bersih (net buy) asing sepanjang tahun berjalan ini (year to date/ytd) sebesar Rp 49,32 triliun.

Penguatan IHSG tak diikuti oleh mayoritas bursa saham lainnya di Asia yang berakhir pada zona merah. Indeks Hang Seng turun 0,48%, indeks Kospi anjlok 0,83%, indeks Straits Times berkurang 0,38%, dan indeks Komposit Shanghai amblas 1,32%. Namun, Nikkei 225 masih mampu mengalami kenaikan 0,18%.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), Wall Street berakhir lebih rendah pada Jumat waktu setempat lantaran pelaku pasar mencermati sejumlah hasil kinerja emiten. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95% menjadi 26.770,2. Indeks S&P 500 menipis 0,39% menjadi 2.986,2. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 0,83% menjadi 8.089,5.

Pekan ini, kata Nafan, pihaknya memprediksi IHSG berpeluang bergerak pada kisaran 6.126,8-6.276,6. Meskipun faktor sentimen domestik cenderung lebih dominan, investor asing juga akan memperhatikan kondisi ekonomi global. “Kalau setelah pengumuman kabinet, tidak ada ricuh atau ketegangan politik, maka investor asing bisa yakin masuk ke pasar. Tapi mereka juga berharap ada kepastian di pasar internasional,” jelas dia.

Di global, kelanjutan dari aksi Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit kian menjadi perhatian. Pasalnya, data ekonomi terakhir Inggris mengalami kontraksi.

Kemudian, kata Nafan, langkah Bank Sentral Eropa (ECB) terhadap kebijakan moneternya juga tetap menjadi sorotan. September lalu, ECE telah memangkas suku bunga deposito sebesar 10 basis poin menjadi minus 0,5%, yang merupakan rekor terendahnya.

“Pelaku pasar juga selalu berharap ada kesepakatan yang bersifat parsial antara pemerintah AS dan Tiongkok yang mampu meredakan ketegangan akibat perang dagang,” pungkas dia.

Pekan ini, Nafan merekomendasikan investor untuk membeli saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) di area Rp 51.600-52.100, dengan target jangka pendek Rp 55.200 dan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di area Rp 3.450-3.490, dengan target di kisaran Rp 3.530, Rp 3.590, dan Rp 3.860.

Selain itu, saham PT HM Sampoerna Tbk (HMP) juga direkomendasikan beli di area Rp 2.130-2.170 dengan target jangka pendek di kisaran Rp 2.330, Rp 2.440, dan Rp 2.570. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) disarankan beli pada kisaran Rp 640-660 dengan target Rp 690-720.

Peluang Reli

Secara terpisah, Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan, secara teknis, IHSG selama Oktober berada pada tren bullish. Peluang penguatan akan semakin didorong oleh hasil kabinet yang sesuai ekspektasi pasar.

“Menurut pelaku pasar yang penting itu tentu saja posisi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan turunannya seperti Menteri Keuangan, Menteri BUMN, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral,” jelas dia.

Menurut Kiswoyo, apabila IHSG mampu menembus level resistennya yakni 6.250, maka akan lebih mudah bagi IHSG terdorong menembus level 6.500. Selama pekan ini, pihaknya memprediksi IHSG beradap pada rentang 6.100-6.350.

“Secara statistik, selama Oktober IHSG cenderung menghijau, sebelum nanti akan terkoreksi sebentar pada November dan kembali menguat saat periode window dressing pada Desember,” jelas Kiswoyo.

Lebih lanjut Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya berpendapat, pelaku pasar terus menyoroti prioritas Jokowi di masa pemerintahan Jilid II ini. Sebelumnya, Jokowi menyatakan ada revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan, Daftar Investasi Negatif, dan Undang-Undang Perpajakan yang dinilai menjadi perhatian utama untuk menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.

Hariyanto masih merekomendasikan saham-saham yang bersifat defensif atau tahan terhadap kontraksi pasar seperti saham BBCA, ICBP, INDF, SIDO, KLBF, EXCL, dan saham yang bergerak di tambang emas seperti MDKA.

“Kami percaya bahwa investor asing akan bertahan di posisi equity risk-off selama Oktober ini, mengingat ada kontraksi dari data manufaktur AS yang memiliki korelasi terhadap return indeks S&P 500 secara tahunan,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA