Menu
Sign in
@ Contact
Search
Founder EMtrade Ellen May. Sumber: BSTV

Founder EMtrade Ellen May. Sumber: BSTV

Simak, Jurus Jitu Ellen May untuk Trading Saham

Kamis, 14 Juli 2022 | 13:55 WIB
Yunia Rusmalina (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Founder dan CEO Emtrade Ellen May mengatakan, jika ingin berhasil dalam trading saham tidak harus memiliki latar belakang capital market atau finance. Sebab ilmu keuangan bisa dilatih secara otodidak. Terlebih, menghadapi market bukan hanya diperlukan secara behavior dan psikologi, tapi juga harus diimbangi oleh strategi dan metode secara fundamental, teknikal, dan money management. Lalu, apa jurus jitu Ellen May lainnya saat trading saham?

“Dari pengalaman yang saya hadapi, jika saham naik justru harus di-hold. Jika pasar saham sedang turun, harus menyiapkan cash untuk membeli saham tersebut,” ungkapnya di sela acara Beritasatu Next Gen Fest 2022 sesi ‘Learn How to Invest Your First Income’, Rabu (13/7/2022).

Ketika belajar investasi saham harus diperjelas berapa uang yang akan dimasukkan ke dalam saham dengan syarat uang ‘dingin’, tetapi harus siap dengan risiko dengan perkiraan turun 40%. Selain itu, masalah yang dihadapi oleh investor saham  baru adalah ketidaktahuan mengalokasikan uang untuk pembagian setiap saham yang akan dibeli.

“Sehingga jika ada saham yang memiliki fundamental kuat dan memiliki kapitalisasi besar harus dialokasikan lebih besar untuk jangka panjang. Contohnya, seperti empat saham bank besar yang bisa dialokasikan dana lebih besar,” paparnya.

Baca juga: Yuk Pahami Risiko Spekulatif dan Risiko Murni Dalam Trading...

Selain itu, investasi jangka panjang dan trading semestinya dibagi, tidak selalu investasi memiliki kapasitas yang lebih banyak. Sebaiknya jika pasar turun, dialokasikan lebih besar di investasi. Namun jika pasar naik, maka lebih banyak dialokasikan di-trading karena paling menguntungkan untuk jangka pendek karena valuasi saham lebih mahal.

Di sisi lain, Ellen menambahkan cara memilih saham dan menyusun portofolio harus disesuaikan dengan tujuan. Jika untuk pemula investasi saham sebaiknya melihat fundamental yang disukai oleh investor besar, salah satunya saham perbankan dengan kisaran 30% dari portofolio. Kemudian untuk saham seperti ASII, INDF, TLKM, bisa dialokasikan juga 30%, selebihnya 40% dialokasikan ke saham yang lain.

Untuk kondisi sekarang, lanjut dia, lebih baik 60% dialokasikan ke saham blue chip untuk jangka panjang, selebihnya 40% dialokasikan untuk saham yang lebih kecil, namun memiliki fundamental yang bagus untuk jangka panjang. Misalkan, ambil 20% untuk sektor yang lain seperti properti BSDE, PWON, dan SMRA.

Kondisi global dan domestik perlu diperhatikan seperti kondisi inflasi yang sangat tinggi, karena menjadi salah satu katalis negatif dalam jangka pendek sampai menengah. Tetapi untuk jangka panjang, ini menjadi katalis positif. Sebab perekonomian Indonesia belum mengalami recovery, sementara kondisi The Fed saat ini untuk mendapatkan keseimbangan perekonomian. Jika langkah The Fed diikuti degan naiknya daya beli masyarakat, maka di tahun 2023 ekonomi akan lebih sehat.

“Situasi seperti sekarang bisa dijadikan kesempatan untuk investasi jangka panjang pada saham bervaluasi murah. Jadi dalam rentang waktu 1-2 bulan, market masih mengalami bearish. Jadi lebih baik investasi jangka panjang,” papar Ellen.

Baca juga: Lo Kheng Hong: Banyak yang Dengarkan Influencer dan Pompom, Tapi Tak Ada yang Ikuti Saya

Untuk memulai berinvestasi saham untuk para pemula, lanjut Ellen, idealnya satu portofolio terdiri atas lima saham dengan jumlah uang satu saham Rp 4 juta, sehingga untuk modal yang ideal untuk diversifikasi sekitar Rp 20 juta. Namun, jika modalnya kurang dari Rp 5 juta, sebaiknya pilih saham perbankan. Selain itu, jika modal di bawah Rp 1 juta disarankan untuk memilih reksa dana saham dengan berbagai macam saham. “Jadi, jika ingin berinvestasi  jangka panjang bukan hanya di saham, karena lebih penting adanya diversifikasi,” tuturnya.

Ellen menegaskan perlu diperhatikan adanya rencana. Misalnya, memiliki batas pembelian saham. “Saat memilih  investasi saham, goal-nya bukan racing seberapa cepat pertumbuhan, tetapi konsistensi dan sustainability,” jelasnya.

Kunci lainnya yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi adalah sabar dan belajar. Dengan berbagai informasi yang mudah didapatkan justru harus selektif. Untuk memilih sekuritas, pastikan online trading-nya bagus untuk investor ritel. Selain itu, dari komisi transaksi harus diperhatikan. Untuk pemula, tidak perlu menggunakan fasilitas margin trading. Selanjutnya bukan hanya teknologi, tetapi pastikan bisa transaksi melalui dilernya.

Baca juga: Lo Kheng Hong: Jual Saham Wonderful Company Terus Beli Crypto, Itu juga Tragedi!

Lebih lanjut Ellen mengatakan, sekuritas yang bagus memiliki komisi yang murah. MKBD yang masuk ke dalam top 10 bisa dipertimbangkan. Selain itu, online trading yang tidak bermasalah dan memiliki customer service untuk membantu transaksi. Cara mengurangi risiko dalam berinvestasi saham adalah kembali dengan aset alokasi uang dingin dan siap dengan risiko, mengetahui cara diversifikasi atau rumus 10%, atau 1 saham maksimal 10%, serta mengetahui cara membatasi risiko.

“Sabar dan konsisten untuk jangka panjang. Capital market dan edukasi sangat penting untuk mengubah pola pikir dalam berinvestasi,” tutupnya

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com