Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melayani pelanggan di galeri Smartfren di Jakarta.  Foto ilustrasi: Dok Investor Daily

Karyawan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melayani pelanggan di galeri Smartfren di Jakarta. Foto ilustrasi: Dok Investor Daily

Smartfren Ekspansi US$ 250 Juta Tahun Ini

Senin, 20 Januari 2020 | 20:53 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 250 juta tahun ini. Salah satu sumber pendanaan ekspansi tersebut adalah pinjaman dari China Development Bank (CDB) yang ditargetkan lebih dari US$ 200 juta.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan, anggaran capex 2020 tidak jauh berbeda dari realisasi 2019. Untuk status pinjaman CDB, perseroan tengah melakukan finalisasi dan berharap mampu merampungkan kesepakatan pada Januari ini.

“Mayoritas capex 2020 akan digunakan untuk menambah jaringan atau coverage di kota-kota yang tinggi permintaan datanya,” jelas Antony kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (20/1).

Adapun perjanjian pinjaman dengan CDB yang diharapkan segera rampung tersebut akan menjadi perjanjian fase IV. Sebelumnya, CDB secara konsisten menjadi kreditur emiten di bawah kendali Sinarmas Group ini.

Tercatat, perjanjian terakhir yakni fase III dilakukan pada Juni 2015. Pinjaman ini dikenakan suku bunga LIBOR enam bulan ditambah margin tertentu. Pembayaran pokok dan bunga terakhir akan jatuh tempo 30 Juni 2023. Suku bunga efektif rata-rata untuk periode per September 2019 sebesar 5,88%.

Antony menilai, industri telekomunikasi tetap bertumbuh pada 2020 lantaran layanan data yang kian bertambah. Saat ini, strategi perseroan adalah berusahaan menggaet pelanggan baru, seperti kelompok generasi milenial dengan memberikan layanan data yang stabil dan berkualitas.

Sebelumnya, riset Fitch Ratings menyatakan, strategi Smartfren dalam mengakuisisi pelanggan akan bergantung pada kemampuanya untuk mempertahankan investasi besar dalam mendukung kapasitas layanan data. Sejak tahun lalu, strategi Smartfren dalam menawarkan paket data tak terbatas (unlimited) 4G memicu persaingan dengan operator telekomunikasi yang lebih besar, seperti PT Indosat Tbk (ISAT).

Menurut Fitch, meningkatnya persaingan di pasar mobile Indonesia menyebabkan perlambatan pertumbuhan pendapatan emiten di kuartal III-2019. Namun, fokus emiten telekomunikasi yang lebih menitikberatkan profitabilitas cenderung mendorong monetisasi data.

Fitch memprediksi, akan ada arus kas negatif bagi perusahaan telekomunikasi, yang dipicu oleh besarnya belanja modal (capital expenditure/capex). Intensitas capex rata-rata emiten telekomunikasi, yang tidak termasuk biaya frekuensi, pada 2020 kemungkinan akan tetap tinggi sebesar 28%.

Smartfren tercatat memiliki target membangun base transceiver station (BTS) sekitar 5.000-6.000 BTS tahun ini. Mayoritas BTS dibangun pada kota-kota utama. Tak ketinggalan, perseroan juga membangun BTS di sejumlah kota-kota lapis dua.

Obligasi Wajib Konversi

Selain pinjaman, Smartfren memiliki opsi pendanaan lain untuk mendanai ekspansinya, yakni  yakni penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) IV senilai Rp 1,2 triliun. Perseroan sebelumnya telah mengantongi persetujuan pemegang obligasi (bondholders) pada Desember 2018. Sehingga, perseroan mempunyai periode tenggat waktu hingga Desember 2020 untuk mengekekusi OWK IV tersebut.

Selain itu, perseroan juga masih memiliki sisa plafon pinjaman kredit dari Niven Holdings Ltd. Per September 2019, kas bersih perseroan yang diterima dari aktivitas pendanaan sebesar Rp 2,89 triliun. Pinjaman dari Niven bermula sejak 2017, ketika Niven sepakat memberikan pinjaman senilai US$ 30 juta.

Kemudian, pada Maret 2018, Smartfren memperbaruhi perjanjian tersebut, yakni menambah fasilitas pinjaman menjadi US$ 350 juta. Selama 2018, perseroan melakukan penarikan sebanyak US$ 280 juta, dan melunasi semua pinjaman pada 20 November 2018.

Pada Juni 2019, perseroan kembali memperbaharui perjanjian tersebut, yakni periode ketersediaan pinjaman diperpanjang menjadi paling lambat 7 Juni 2021. Pada tahun lalu, perseroan tercatat melalukan penarikan pinjaman Niven sebesar US$ 204 juta.

Hingga kuartal III-2019, Smartfren berhasil memangkas kerugian menjadi sebesar Rp 1,63 triliun, dibandingkan periode sama tahun 2018 sebesar Rp 2,5 triliun. Sementara itu, hingga kuartal III-2019, Smartfren berhasil meraih pendapatan Rp 4,97 triliun, naik dibandingkan periode sama tahun 2018 sebesar Rp 3,94 triliun. Andalan pendapatan Smartfren hingga kuartal III-2019 adalah layanan data sebesar Rp 4,71 triliun, non-data Rp 211,3 miliar, interkoneksi Rp 34,3 miliar, dan lainnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN