Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Smartfren.

Smartfren.

Smartfren Siap Saingi Telkomsel, Darmin Nasution Jadi Komut

Jumat, 14 Agustus 2020 | 20:56 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), unit usaha Grup Sinar Mas, bakal ekspansif dengan menggelar jaringan telekomunikasi, terutama berkompetisi pada lelang frekuensi 2.300 Mhz untuk implementasi 5G. Dukungan pemegang saham juga kian kuat dengan mengangkat mantan Menko Perekonomian Darmin Nasution sebagai komisaris utama perseroan.

Presiden Direktur Smartfren Telecom Merza Fachys mengatakan, Darmin Nasution menggantikan Gandi Sulistiyanto Soeherman, dan Gandi tetap bersama Smartfren dengan menduduki kursi wakil komisaris utama. Jajaran dewan komisaris pun dilengkapi oleh dua komisaris independen, yakni Sarwono Kusumaatmadja dan Reynold Manahan Batubara.

“Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) mengubah susunan dewan komisaris, dan Pak Darmin dengan segala prestasinya kami harap turut mengembangkan perseroan ke depan,” kata Merza, usai RUPST perseroan di Jakarta, Jumat (14/8).

Dia menegaskan, saat ini lelang frekuensi 2.300 Mhz masih menunggu pengumuman resmi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang diperkirakan tahun ini. Namun, kapan pun lelang dibuka, pihaknya siap berpartisipasi.

Sebagai informasi, International Telecommunication Union (ITU) menetapkan 2.300 Mhz sebagai frekuensi yang bisa dimanfaatkan untuk alokasi teknologi 5G. Pada frekuensi ini, Smarftren telah memiliki frekuensi selebar 30 MHz. Jika Smartfren ikut lelang dan berhasil menang, maka perseroan memiliki tambahan 30 Mhz. Alokasi ini dinilai mencukupi untuk implementasi teknologi 5G lebih dulu dibanding kompetitornya.

Namun, Smartfren bukan satu-satunya operator yang sudah punya 30 Mhz pada frekuensi 2.300 Mhz. Saat ini, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), juga tercatat memiliki 30 MHz pada frekuensi tersebut. Alhasil, dua operator seluler ini bakal bersaing ketat pada lelang nanti.

Sambil mempersiapkan diri untuk lelang, Smartfren tetap fokus meningkatkan kinerjanya. Sebab, perseroan masih menderita rugi bersih sebesar Rp 1,22 hingga semester I-2020 atau membesar dibanding rugi bersih semester I-2019 yang sebesar Rp 1,07 triliun. Namun, pendapatan usaha perseroan melonjak 41,01% menjadi Rp 4,3 triliun secara tahunan.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan, perseroan masih dalam fase ekspansi, sehingga belum membukukan keuntungan. Perseroan banyak mengeluarkan biaya operasional serta pemeliharaan jaringan. Namun, pihaknya optimistis kerugian bisa mengecil pada akhir tahun ini. “Kami berupaya meraih pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan biaya sehingga EBITDA bisa lebih baik,” jelas dia.

Hingga semester I-2020, perseroan telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 170-180 juta dari total anggaran US$ 250 juta. Mayoritas capex digunakan untuk membangun base transceiver station (BTS).

Per Juni 2020, perseroan telah memiliki 35,6 ribu BTS, melonjak 64% dibandingkan periode sama tahun lalu 23,7 ribu BTS. Penambahan ini seiring penambahan pelanggan Smartfren sebesar 46% menjadi 26 juta pelanggan, dari 17,8 juta pelanggan.

Antony menambahkan, pihaknya menilai struktur permodalan masih dalam posisi yang solid, sehingga perseroan belum berencana menjajaki utang baru dalam waktu dekat. Penjajakan pinjaman baru akan lebih dulu mencermati kondisi di tahun depan.

Konversi OWK

Sementara itu, pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menyetujui pemberian wewenang dan kuasa kepada dewan komisaris perseroan untuk menukar obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp 8 triliun yang diterbitkan pada 2014 dan 2017 menjadi saham baru seri C perseroan.

Seperti diketahui, hak konversi OWK sepenuhnya berada di tangan pemegang OWK. Alhasil, bukan manajemen yang menentukan periode penukaran OWK. Adapun OWK yang diterbitkan tahun 2017 mempunyai jangka waktu lima tahun sejak tanggal penerbitan.

Per 30 Juni 2020, pemegang OWK II tahun 2014 adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Dian Ciptamas Agung, Boquete Group S.A, PT Nusantara Indah Cemerlang, PT Andalan Satria Permai, PT DSSE Energi Mas Utama dan Hillmas Coal Pte Ltd. Sebagian pemegang OWK ini juga tercatat menggenggam OWK III tahun 2017.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN