Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Smartfren.

Smartfren.

Smartfren Tukar Utang Jadi Saham Rp 3,9 Triliun

Selasa, 13 April 2021 | 21:36 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melakukan konversi atas sejumlah obligasi wajib konversi (OWK) menjadi saham perseroan dengan nilai transaksi Rp 3,9 triliun. Aksi ini membuat salah satu pemegang OWK tersebut, yaitu PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), menambah kepemilikan saham di Smartfren menjadi 19,9% dari sebelumnya 15%.

Smartfren melaksanakan konversi OWK II dan OWK III sebanyak 39 miliar saham seri C dengan harga pelaksanaan Rp 100 per saham. Pencatatan saham hasil konversi tersebut di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilakukan pada 12 April. Setelah transaksi ini, saham Smartfren yang tercatat di BEI seluruhnya mencapai 302,26 miliar saham.

Smartfren tidak menjelaskan detail pemegang OWK II dan III yang melakukan konversi. Namun, Dian Swastatika berserta anak usahanya menyatakan menukar OWK menjadi saham, yang membuat kepemilikan perseroan dan anak usaha di Smartfren bertambah menjadi 19,9%.

“Investasi ini akan dicatatkan dalam laporan posisi keuangan sesuai dengan nilai pasar saham tersebut,” kata Sekretaris Perusahaan Dian Swastatika Sentosa Susan Chandra dalam keterangan tertulis, Selasa (13/4).

Selain Dian Swastatika, pemegang OWK II dan III Smartfren per 31 Desember 2020 antara lain Neat Action Finance Ltd, PT Nusantara Indah Cemerlang, PT Andalan Satria Permai, dan Cascade Gold Ltd.

Aksi penukaran OWK Smartfren telah melalui persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Agustus 2020. Sebelumnya, perseroan melaksanakan konversi sebanyak 34 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 3,4 triliun pada September 2020. Adapun target konversi OWK yang disetujui adalah 80 miliar saham.

Sebagai catatan, OWK II diterbitkan Smartfren pada 2014 senilai Rp 3 triliun dan OWK III dirilis pada 2017 senilai Rp 5 triliun. Ketika itu, aksi ini merupakan strategi perseroan dalam menambah modal dan melakukan pelunasan utang supaya rasio-rasio keuangan menjadi lebih baik. OWK yang diterbitkan pada 2017 mempunyai jangka waktu lima tahun sejak tanggal penerbitan.

Rights Issue

April ini, Smartfren juga bersiap menggalang dana senilai Rp 840 miliar dari penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Perseroan akan menerbitkan hingga 7 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 120 per saham. Pada saat yang sama, perseroan juga menerbitkan waran seri III hingga 91,99 miliar. Rights issue ini telah meraih restu pemegang saham pada 2 Maret 2021.

Sesuai rencana, Smartfren akan menyerap sekitar 82% dan hasil rights issue untuk pembayaran utang bunga dan sisanya 18% akan digunakan untuk modal kerja perseroan dan anak usaha.

Smartfren menjadwalkan pemegang saham yang berhak memperoleh HMETD pada 21 April dan pencatatan HMETD di BEI pada 22 April. Kemudian, perdagangan HMETD ditargetkan berlangsung selama 23-29 April.

Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya setelah pelaksanaan HMETD dapat mengalami penurunan persentase kepemilikan atau dilusi saham sampai maksimum 27,33%. Persentase ini dengan asumsi bahwa seluruh waran seri III yang diterbitkan dilaksanakan oleh pemegang waran seri III.

Tahun ini, Smartfren menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 200-300 juta. Perseroan diperkirakan akan bergantung pada pendanaan eksternal untuk kebutuhan ekspansi maupun membayar utang jatuh tempo sepanjang 2021.

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings menilai, industri telekomunikasi Indonesia membutuhkan investasi yang tinggi secara terus menerus agar tetap kompetitif, terutama karena jangkauan jaringan Smartfren masih tergolong terbatas dibandingkan tiga operator besar lain.

Fitch menilai, pengurangan investasi dapat mengakibatkan Smartfren menjadi tertinggal lebih jauh dibanding dengan kompetitor-kompetitornya yang lebih besar dan berdampak pada momentum pertumbuhannya, walaupun belanja modal pada dasarnya bersifat fleksibel.

Fitch mencatat, perseroan memiliki utang jatuh tempo sebesar US$ 37,5 juta pada semester I-2021, dan US$ 37,5 juta pada semester II-2021. Kemudian,  arus kas bebas negatif Smartfren diprediksi akan bertahan dalam jangka menengah. Hal ini karena perusahaan berencana untuk mempertahankan belanja modal yang signifikan untuk memperkuat cakupan 4G long-term evolution (LTE).

“Kami memperkirakan arus kas dari operasi (cash flow from operation/CFO) Smartfren akan tetap tidak mencukupi untuk menutupi belanja modal tahunan yang diproyeksikan sekitar Rp 2-4,5 triliun untuk 2021-2023, meskipun Smartfren telah menunjukkan perbaikan CFO,” jelas Fitch. (lov)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN