Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi transaksi pelapak Bukalapak. (IST)

Ilustrasi transaksi pelapak Bukalapak. (IST)

Soal Saham Bukalapak, Pandangan Analis Terbelah

Senin, 12 Juli 2021 | 06:05 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah analis menyarankan kepada investor untuk mempelajari terlebih dahulu kinerja PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sebelum membeli saham start-up berstatus unicorn tersebut. Sementara itu, analis lainnya justru merekomendasikan untuk membeli saham Bukalapak karena bisnis e-commerce bakal bagus ke depannya.

Bukalapak melaksanakan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dengan target perolehan dana sekitar US$ 1,3-1,5 miliar atau setara Rp 19,32 triliun hingga Rp 21,9 triliun. Harga IPO berkisar Rp 750-850 per saham.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder dan CEO Finvesol Consulting Fendy Susiyanto mengatakan, harga IPO Bukalapak sangat mahal apabila dilihat dari dua indikator, yakni price to book value (PBV) dan price to sales ratio (PSR). Book value per price Bukalapak hanya sekitar Rp 16.

“Jadi, kalau harga yang ditawarkan Rp 750 kemudian book value-nya hanya Rp 16, maka PBV-nya kurang lebih sekitar 45-46 kali. Ini tinggi sekali,” kata dia, Minggu (11/7).

Sementara, Alibaba memiliki rasio PBV 3,9 kali dan eBay hanya 12 kali. Jika dibandingkan, perbedaannya jauh sekali alias terlalu mahal untuk Bukalapak dengan PBV 45 kali.

“Kemudian, investor bandingkan juga dengan price to sales atau price to revenue ratio. Apabila revenue Bukalapak mencapai Rp 1,3-1,7 triliun, maka price to revenue ratio juga sekitar 45 kali,” ujar dia.

Di lain pihak, analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, apabila ingin masuk ke saham Bukalapak, investor perlu memahami terlebih dahulu prospek bisnisnya dan meyakini pertumbuhan ke depannya. Namun, apabila belum sepenuhnya paham, lebih baik investor tidak masuk dan memahaminya terlebih dahulu.

“Investor perlu memahami prospek dan strategi bisnis Bukalapak. Yang namanya persaingan itu sama saja dengan perusahaan konvensional, bagaimana mereka dapat mempertahankan pangsa pasar maupun perluas pasar, sebarapa banyak mitra untuk masuk ke marketplace mereka dan apa saja ekspansinya untuk meningkatkan valuasi perusahaan,” jelas dia.

Reza menilai bahwa investor masih mampu untuk menyerap penawaran tersebut. Namun, apakah murah atau mahal, ini harus dilihat dari sisi valuasi. Untuk perusahaan seperti Bukalapak bisa jadi tidak bisa pakai cara valuasi konvensional, apalagi perusahaan juga masih mencatatkan rugi secara historis.

“Tentunya pasar akan melihat kinerjanya, betul rugi, tapi ini akan mejadi tantangan Bukalapak untuk bisa mewujudkan ekspektasi pelaku pasar untuk bisa menekan kerugian ke depannya dan memperoleh keuntungan,” tutur Reza.

Secara terpisah, analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengatakan, secara valuasi, harga IPO Bukalapak sebesar Rp 750-850 bisa masih wajar dengan bisnis sejenis. Pre-money valuation Bukalapak berkisar Rp 58-65,7 triliun, ini mengindikasikan price to sales pada level 36,5, sedikit diskon dari Shopify yang sekarang diperdagangkan pada level 40 kali plus sales.

Perlu dicatat, apabila Bukalapak divaluasi menggunakan metode valuasi konvensional seperti PER dan PBV ataupun EV/EBTDA, ini tentunya sangat tidak menarik. Tetapi, mengingat bisnis digital merupakan sektor yang akan bertumbuh pesat, tentunya dibutuhkan perubahan paradigma valuasi menggunakan metrik seperti price to sales dan lainnya sebagai tolok ukur penentu kemampuan perusahaan untuk menggapai laba di kemudian hari saat perseroan sudah menggapai economies of scale.

“Animo saham Bukalapak sangat besar dan kami mendengar bahwa penawaran awal sudah oversubscribed. Hal ini sudah menjadi sorotan partisipan pasar, dimana saham-saham dengan prospek dan rencana digitalisasi outperform perusahaan konvensional secara YTD,” jelas dia.

Lebih lanjut Andreas mengatakan, apabila mengacu pada prospektus IPO, Bukalapak sudah membukukan pertumbuhan revenue 32% yoy. Kemudian, nilai rugi operasi mengecil 17,8%, sehingga prospek Bukalapak cukup menggembirakan untuk menuju BEP dan profit.

Sementara itu, analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, Bukalapak secara valuasi juga dilihat dari PBV di atas 1 kali di 3,7-4,2 kali. Jika dibandingkan rata-rata industrinya masih di bawah rata-rata industri di 8,6 kali.

Menurut Sukarno, saham Bukalapak untuk jangka panjang masih bagus karena tren kinerjanya membaik dari tahun ke tahun. Meskipun saat ini masih rugi, tapi kerugiannya mulai berkurang dan tinggal menunggu untuk meraih laba.

IPO Bukalapak dikabarkan mengalami kelebihan permintaan dari investor pada hari peluncurannya, Jumat lalu. “Sebagai tech unicorn pertama yang IPO di Indonesia, hype khususnya dari investor ritel cukup tinggi,” kata Direktur Panin Asset Management Rudiyanto.

Berbeda dengan mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) Hasan Zein Mahmud. Dia menyoroti euforia IPO Bukalapak. Sebab dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar Bukalapak menjadi Rp 88 triliun.

Jika membandingkan dengan raksasa e-commerce asal Tiongkok, Alibaba Group, kapitalisasi yang layak bagi Bukalapak setelah dihitung menggunakan angka nisbah yang sama hanya sekitar Rp 7 triliun.

“Kapitalisasi Alibaba dihargai sekitar 5 kali pendapatan. Menggunakan angka nisbah yang sama, kapitalisasi yang layak bagi Bukalapak adalah 5 kali Rp 1,35 triliun. Sekitar Rp 7 triliun. Bukan Rp 88 triliun,” tulis Hasan dalam catatan kepada investor.

Tanpa menyangsikan prospek pertumbuhan bisnis Bukalapak di masa depan, Hasan mengingatkan, investor patut mempertanyakan tentang biaya ekspansi saat ini yang membutuhkan dana sekitar Rp 22 triliun tersebut.

“Jumlah itu sepuluh kali lipat dari nilai aset saat ini. Konsep keuangan yang benar mengajarkan bahwa biaya modal ekuitas harus lebih tinggi dari biaya modal utang. Perusahaan harus mampu mencatat kenaikan laba bersih minimal 7-8% per tahun,” ujar Hasan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN