Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Sritex Bidik Kontribusi Bisnis Ritel 60%

ah, Senin, 30 Maret 2015 | 12:32 WIB

JAKARTA – PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex membidik kontribusi dari sektor ritel mencapai 60% pada 2018. Perseroan bakal mengonsolidasikan usahanya dari hulu ke hilir dalam jangka panjang.


Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengungkapkan, hingga saat ini perseroan belum memiliki pendapatan dari bisnis ritel. Dalam tiga tahun ke depan, Sritex mengembangkan bisnis baru di sektor ritel melalui distribusi produk pakaian dari garmen langsung ke pembeli.


“Pada akhirnya kami bakal menjadikan mayoritas pendapatan berasal dari bisnis ritel,” ungkap Welly kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (17/3).


Dengan memperkuat bisnis di midstream (spinning, weaving, dyein gfinishing dan garmen) Sritex berambisi menjadi satu-satunya

perusahaan tekstil di dunia yang terintegrasi penuh dari bahan baku sampai ritel.


Sementara itu, pada awal tahun ini perseroan berhasil meraih tender pakaian militer dari Malaysia dan Jerman senilai US$ 26,4 juta, meningkat 15% dari tahun lalu sebesar US$ 23 juta.


Beberapa waktu lalu, Sritex memperpanjang jangka waktu ekspansi dari dua tahun menjadi tiga tahun. Total investasi pun diperbesar 54% menjadi US$ 245 juta atau sekitar Rp 3,2 trilun, yang akan diserap hingga 2016. Sebelumnya, perseroan telah menyiapkan dana sebesar US$ 159 juta yang dialokasikan untuk ekspansi pabrik yang berlangsung sejak tahun lalu.


Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan Lukminto mengungkapkan keadaan perekonomian saat ini menjadi peluang tepat bagi perseroan untuk melakukan ekspansi.


“Saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan ekspansi karena biaya produksi di Tiongkok sudah tinggi dan pembeli banyak yang memindahkan order ke negara-negara di Asia Tenggara khususnya Indonesia, sebab Indonesia merupakan pemain lama dalam bidang tekstil,” ungkap Iwan, disela acara peletakan batu pertama (groundbreaking) perluasan pembangunan pabrik di Sukoharjo, Jawa Tengah.


Acara peletakan batu pertama tersebut disaksikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin, dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Rusdi Kirana.


Iwan menegaskan dengan memperkuat bisnis Sritex di midstream (spinning, weaving, dyein finishing dan garmen) maka akan memudahkan langkah perseroan untuk menjadi satu-satunya perusahaan tekstil di dunia yang terintegrasi penuh dari bahan baku sampai ritel.


Sementara itu, Welly mengungkapkan dana ekspansi sebesar US$ 245 juta akan terserap dalam tiga tahun. “Sritex menganggarkan dana sebesar US$ 55 juta pada 2014, US$ 104 juta untuk tahun ini, dan sekitar US$ 86 juta yang dialokasikan untuk 2016,” ungkap dia.


Dia menjelaskan, sumber dana untuk ekspansi di semua lini bisnis perseroan ini berasal dari dana segar yang diperoleh perseroan usai menerbitkan obligasi global (global bond) pada tahun lalu. Sisanya, akan dibiyai oleh kas internal perseroan.


Pada kuartal II-2014, Sritex berhasil mendapatkan pendanaan global bond sebanyak US$ 200 juta dengan kupon 9%. Saat itu, Sritex menggunakan 40% dari dana tersebut untuk ekspansi.


Selain mengandalkan dana tersebut, Sritex juga mengalokasikan Rp 1,5 triliun yang diperoleh dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Sisa dana global bond dialokasikan untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang perseroan.


Ekspansif

Seiring dengan kinerja perseroan yang semakin ekspansif, Welly mengungkapkan, kapasitas produksi pada semua lini produksi Sritex ditargetkan akan meningkat signifikan pada akhir 2016.


“Kapasitas produksi spinning akan meningkat sebesar 16%, 50% untuk weaving, 100% untuk dyeing finishing, dan 120% untuk

garmen,” ungkap dia.


Sebelum ekspansi, kapasitas produksi perseroan tercatat sebanyak 566.000 bales untuk spinning , 120 juta meter untuk weaving, 120 juta yard untuk dyeing-finishing, dan 14 juta potong dari produksi garmen. Lebih lanjut, Welly mengemukakan penambahan kapasitas produksi akan menopang peningkatan pendapatan perseroan secara bertahap.


Hal ini juga didukung oleh tingginya permintaan pasar. “Perseroan menargetkan pendapatan akan meningkat sebesar 12% pada tahun ini, 16% pada 2016, dan 20% pada 2017 nanti,” jelas dia.


Hingga kuar tal III-2014, perseroan membukukan penjualan bersih (neto) sebesar Rp 4,81 triliun, tumbuh 37,61% dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 3,49 triliun. Sedangkan laba hingga September 2014 tercatat naik tipis 5,74% menjadi Rp 264,82 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 250,44 miliar. (fik)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA