Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Sritex Incar Produsen Garmen di Jerman

Rabu, 27 April 2016 | 19:20 WIB

JAKARTA – PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex berencana mengakuisisi perusahaan seragam asal Jerman. Perseroan memperkirakan dapat menyelesaikan akuisisi tersebut tahun depan.


Wakil Presiden Direktur Sri Rejeki Isman (Sritex) Iwan Kurniawan Lukminto mengatakan, proses akuisisi perusahaan asal Jerman saat ini dalam tahap awal. Nantinya perusahaan produsen seragam Jerman itu akan menjadi salah satu perpanjangan tangan bisnis Sritex di Eropa.


“Ini sekaligus memperbesar network kami di sana,” kata Iwan kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (26/4).


Saat ini, nilai ekspor Sritex di Eropa mencapai 15% dari total pendapatan ekspor perseroan. Dia mengungkapkan, perusahaan yang bakal diakuisisi merupakan perusahaan seragam militer. Iwan menjelaskan, ekspor perseroan ke Eropa tidak terlalu besar karena prinsip Sritex adalah mendiversifikasi usahanya.


Dia mengatakan, perseroan selalu mendiversifikasi bisnisnya sehingga penjualannya tidak tergantung pada satu area tertentu. Meskipun begitu, penjualan perseroan di Eropa tergolong masih kuat meskipun tidak sebesar penjualan Sritex di Asia.


Tahun lalu, Sritex membukukan pertumbuhan ekspor tumbuh 23%. Penjualan ke luar negeri tercatat mencapai 48% dari total penjualan 2015, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 39%.


Penjualan Sritex pada 2015 naik 12% year-on-year (yoy) menjadi US$ 622 juta. Kontribusi terbesar berasal dari segment spinning sebesar 39,3%, kemudian 11,6% dari tenun, 27,3% dari finishing, dan 21,8% dari garmen. Sedangkan laba bersih tercatat US$ 55,7 juta atau naik 10,3% yoy.


Menurut dia, saat ini perseroan merupakan pengekspor kapas ke Tiongkok. Perseroan mengekspor kapas yang kualitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang diproduksi di Tiongkok. Kapas produksi Tiongkok kurang bagus karena masih terkontaminasi, sedangkan produksi perseroan bebas kontaminasi.


Nantinya, perseoran akan mengembangkan bisnis di Tiongkok di sektor hilir, yaitu garmen. Menurut dia demand di Tiongkok cukup besar karena jumlah penduduknya sangat banyak. Terkait dengan persaingan bisnis di industri tekstil, dia memandang bahwa setiap negara memiliki spesialisasi masing-masing. Dari setiap produk negara pasti memiliki diferensiasi. Dia memandang tidak akan ada head to head competition di masa mendatang.


Saat ini fokus pengembangan produk perseroan adalah di sektor rayon. “Rayon adalah produk yang paling cocok untuk berkembang di Indonesia,” katanya.


Sunrise Industri

Iwan berpendapat, industri tekstil Tanah Air saat ini sedang mengalami sunrise (cemerlang). Dia melihat industri tekstil dalam negeri sangat potensial. “Memang kalangan perbankan dalam 10 – 15 tahun terakhir menganggap industri tekstil sudah mengalami sunset (meredup), karena industri tekstil Indonesia kalah bersaing dengan India dan Tiongkok,” tuturnya.


Namun, saat ini industri tekstil Tiongkok sudah mengalami kesulitan. Pada 2012, data menunjukkan bahwa market share Tiongkok terhadap tekstil dan produk tekstil dunia mencapai 38%. Indonesia hanya memiliki 3% market share tekstil dunia. Akan tetapi market share Tiongkok terus menurun.


Apabila Indonesia bisa mengambil 2% saja market share Tiongkok, jumlah itu sudah dua kali lipat dari kapasitas tekstil yang ada di Indonesia sekarang. “Jadi sangat potensial, kemungkinan besar Indonesia bisa mengambil pangsa pasar Tiongkok,” kata dia.

BAGIKAN