Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Sritex Jajaki Transaksi US$ 1 Miliar dengan Perusahaan Fashion Terbesar di AS

Farid Firdaus, Kamis, 31 Oktober 2019 | 22:04 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) tengah bernegosiasi dengan salah satu perusahaan fashion terbesar di Amerika Serikat (AS). Perseroan berencana menjadi pemasok garmen atau pakaian jadi ke perusahaan tersebut dengan potensi nilai transaksi hampir US$ 1 miliar pada tahun depan.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan mengatakan, bagi perseroan penambahan pasar ekspor dari AS merupakan keuntungan dari efek perang dagang antara AS dan Tiongkok. Sebab, calon pembeli garmen dari Sritex ini memiliki bobot yang besar dari pemasok asal Tiongkok.

“Kami harap bisa meraih order dari mereka tahun depan. Saya belum bisa sebut nama perusahaannya. Tapi mulai pendekatannya dari sekarang. Mereka selama ini berat di Tiongkok, dan mau exit dari sana,” jelas dia di Jakarta, Kamis (31/10).

Iwan mengakui, perseroan bukan satu-satunya yang mengincar peluang dari pasar AS. Namun, pihaknya meyakini mampu bersaing dengan perusahaan tekstil atau garmen lain di pasar global. Kepercayaan diri ini lantaran perseroan memiliki basis produksi sendiri yang bisa menghemat waktu pengiriman barang. Hal ini diminati oleh calon mitra dari luar negeri.

Pada kesempatan sama, Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam menjelaskan, jika efek perang dagang AS-Tiongkok berlanjut pada tahun depan, maka peningkatan ekspor perseroan dari pasar AS juga bakal berlanjut. Sepanjang tahun berjalan ini, peningkatan tersebut telah terlihat.

Sebagai informasi, selain pakaian jadi, Sritex juga memproduksi seragam militer yang berkualitas tinggi. Hingga saat ini setidaknya sudah ada 35 negara yang memesan seragam untuk pasukan militernya ke Sritex.

Tahun ini, perseroan optimistis target kontribusi penjualan dari pasar AS sekitar 8%-10%. Hingga kuartal III-2019, perseroan berhasil meraup total penjualan US$ 895,07 juta, naik 17,16% dibanding periode sama tahun lalu US$ 763,94 juta. Dari situ, kontribusi penjualan domestik mencapai US$ 360,53 juta, naik tipis 0,7% dari US$ 358,08 juta.

Sementara itu, penjualan dari luar negeri berkontribusi US$ 534,54 juta hingga kuartal III tahun ini, atau melonjak dibanding periode sama tahun lalu US$ 405,86 juta. Penyumbang penjualan ekspor terbesar Sritex paling besar per September 2019 adalah pasar Asia senilai US$ 323,25 juta, lalu disusul Eropa US$ 81,26 juta, Amerika Serikat dan Amerika Latin US$ 72,67 juta, Uni Emirat Arab dan Afrika US$ 55,91 juta, dan Australia US$ 1,42 juta.

Adapun laba bersih perseroan mengalami kenaikan sebesar 2,44% menjadi US$ 72,21 juta pada kuartal III-2019, dari kuartal III-2018 US$ 70,49 juta.

Dari sisi neraca, total aset perseroan mencapai US$ 1,45 miliar per 30 September 2019, bertambah 6,6% dibanding 30 Desember 2018 US$1,36 miliar.  Sementara total liabilitas perseroan menyentuh US$ 870,04 juta, meningkat 2,5% dari US$ 848,02 juta.

Global Bond

Menurut Welly, perseroan masih memiliki ruang yang besar untuk melakukan penggalangan dana pada tahun depan. Namun, pihaknya belum menentukan alias masih menghitung berapa besar dana yang dibutuhkan untuk ekspansi maupun refinancing selama 2020.

Pertengahan Oktober lalu, perseroan sukses menawarkan global bond senilai US$ 225 juta yang memiliki kupon 7,25% dan akan jatuh tempo pada 2025. Minat investor yang tinggi dalam menyerap surat utang tersebut tercermin dari penawaran yang masuk mencapai lebih US$ 430 juta. Porsi investornya berasal dari Asia 71%, Eropa, Timur Tengah, 27% persen, dan AS sebesar 2%.

Sritex memperoleh peringkat Ba3 dengan outlook stabil dari Moody's dan BB- stabil dari Fitch Ratings. Transaksi ini merupakan emisi obligasi global keempat yang dilaksanakan oleh Sritex. Aksi penerbitan global bond itu ditangani oleh Citigroup, Credit Suisse, dan HSBC sebagai joint global coordinators dan joint bookrunners.

Sesuai rencana, perseroan menggunakan sebagian dari hasil penerbitan surat utang untuk membayar utang US$ 175 juta yang tersisa dari surat utang US$ 350 juta yang jatuh tempo pada 2021. Selain itu, perseroan juga memanfaatkan sisanya untuk modal kerja dan kebutuhan umum lainnya. Transaksi ini dinilai membantu Sritex secara efektif memperpanjang profil utang jatuh tempo.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA