Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana kerja di pabrik tekstil PT Sritex Tbk. Foto: Investor Daily/DAVID.

Suasana kerja di pabrik tekstil PT Sritex Tbk. Foto: Investor Daily/DAVID.

Bedah Emiten

Sritex Ketiban Rezeki dari Perang Dagang

Frans S Imung, Senin, 8 Juli 2019 | 09:50 WIB

Jakarta, investor.id - Sudah sekian tahun pasar tekstil dunia, termasuk pasar gemuk Amerika Serikat (AS), dikuasai produsen asal Tiongkok. Belakangan, pemasok asal Vietnam pun terus meningkatkan penetrasi. Namun, produsen dari dua negara itu ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Sebab, produsen tekstil asal Vietnam umumnya merupakan perusahaan hasil ekspansi raksasa tekstil asal negeri Tirai Bambu.

Namun, perang dagang yang ditabuh AS melawan Tiongkok dan “hegemoni” bisnisnya di Vietnam berimbas negatif pada produsen tekstil dari kedua negara. Produsen tekstil ternama asal Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang selama ini sudah punya basis pasar di negeri Paman Sam pun responsif menjemput peluang bisnis tersebut.

Perusahaan dengan moto Clothing the world itu pun intensif melakukan pendekatan dengan para buyer AS agar mengalihkan pesanan ke Indonesia.  Hasilnya positif. Relokasi pesanan terjadi. Selain pembeli lama yang selama ini menyebar permintaan dari berbagai produsen, emiten berkode SRIL pun menggaet sejumlah pembeli baru.

Corporate Secretary Sritex, Welly Salam membenarkan bahwa  perang dagang Tiongkok-AS  berhasil dimanfaakan perusahaan  untuk meningkatkan ekspor. “Pada 2018 porsi permintaan dari AS meningkat dari single digit ke doubel digit. Tren peningkatan ini akan berlanjut tahun 2019 ini,” ujar Welly.

Perusahaan yang berdiri pada 1966 ini menargetkan penjualan ekspor bisa berkontribusi sekitar 58%-60% dari total penjualan  tahun 2019 ini. Jika terealisasi, porsi ekspor akan meningkat sekitar 4% dari  posisi tahun lalu sekitar 56%.

Kejelian memanfaatkan peluang dari perang dagang sudah terefleksi pada kinerja perseroan selama 2018. Penjualan perusahaan  Sritex  tahun lalu sebesar USD 1,03 miliar  atau meningkat sekitar 36% dari tahun 2017 sebesar USD 759,3 juta. Jika dirupiahkan, penjualan perusahaan setara Rp 14,97 triliun, naik dari Rp  10,28 triliun.

Seiring dengan peningkatan tersebut, produsen tekstil dan garmen terintegrasi ini berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih 32,84% dari Rp 890,91 miliar pada 2017 menjadi Rp 1,25 triliun pada 2018. Pada periode yang sama, perseroan juga mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 22,24% dari Rp 16,16 triliun pada 2017  menjadi Rp 19,76 triliun pada 2018.

 

Ekspor Meningkat

Sistem bisnis terintegrasi yang diterapkan perusahaan memungkinkan Sritex  punya rantai produksi yang kuat  mulai dari bahan baku hingga barang jadi. Keunggulan ini, menurut manajemen, berdampak pada efisiensi dan keunggulan mutu produk perseroan.

Selain memperbesar pasar AS, Welly mengatakan, perusahaan akan memperluas pangsa pasar dan jaringan pelanggan di kawasan Asia, Eropa, maupun Afrika. Untuk merealisasikan rencanaa bisnis tersebut, perseroan memperkuat posisi pasar melalui  penetrasi pasar lama dan mencari peluang pasar baru.  Strategi intensifikasi dan ekstensifikasi ini diharapkan mendongkrak  volume penjualan melalui pelanggan baru baik pasar Amerika,  Eropa, mapun Tiongkok.

Saat ini penetrasi pasar Sritex diklaim sudah mencapai 100 negara. Untuk tahun 2019 ini, Sritex menargetkan  penjualan tumbuh menembus angka 30%, melampaui angka penjualan USD 1 miliar yang dicapai tahun lalu. Target  tersebut diyakini bisa teralisasi karena dukungan dari strategi bisnis yang ditempuh perusahaan pada 2018. Tahun lalu Sritex mengakusisi dua perusahaan di bidang pemintalan benang, PT Primayudha Mandirijaya dan PT Bitratex Industries. Kedua perusahaan sudah punya pangsa pasar kuat dan  diposisikan untuk menambah kapasitas produksi segmen usaha pemintalan.

Akuisisi ini memperkuat sistem integrasi yang dirancang manajemen,  sehingga perusahaan bisa menguasai rantai produksi mulai dari bahan baku hingga barang jadi. Perusahaan juga senantiasa berinovasi dalam proses manufaktur dengan memodifikasi cara kerja agar produk yang dihasilkan lebih sempurna. “Dengan bertambahnya kapasitas dari perusahaan ini, kita bisa mendapatkan ekstra diskon dari supplier karena kita membeli dalam jumlah besar. Ini membantu penjualan menembus USD 1 miliar,” ujar Welly Salam.

Untuk modal kerja, Welly menjelaskan Sritex memiliki siklus capex (capital expenditure) setiap lima tahun. Dan siklus capex selanjutnya pada tahun 2020. “Kita lihat pada 2020, Sritex akan mulai lagi untuk menyiapkan penambahan kapasitas untuk support pertumbuhan di 2021. Ketika kita sudah siap kapasitasnya, customer juga sudah siap dengan order ke kita,” tambahnya.

Untuk mendukung ekspansi bisnis berjalan optimal, perseroan akan menata  utang melalui rencana refinancing senilai US$ 174,51 juta pada tahun ini.  Opsi untuk merealisasikan rencana ini melalui penerbitan obligasi global (global bond), sindikasi, serta pinjaman luar negeri. Sisa utang dari  global bond tahun 2016 akan dibeli kembali (buyback) melalui global bond baru  dengan bunga  5,6% dibanding seri lama dengan bunga 8,25%.

Seiring strategis bisnis yang berjalan optimal, saham emiten berkode SRIL ini layak jadi buruan. Sebab, dilihat dari sisi PER (price to erning ratio), SRIL merupakan saham dari kelompok LQ45 dengan PER terkecil, sekitar 4%. Dengan level seperti ini, saham ini layak mendekati angka Rp 500 per saham.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN