Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Sritex Perpanjang Jatuh Tempo Pinjaman Jadi Tahun 2024

Rabu, 18 November 2020 | 11:11 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex meminta perpanjangan jatuh tempo pinjaman sindikasi senilai US$ 350 juta menjadi tahun 2024. Sebelumnya, jatuh tempo pinjaman tersebut tahun 2022.

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengatakan, pihaknya sudah mengirim permintaan perpanjangan tenor kepada facility agent pada awal November 2020. Keputusan mengenai permohonan ini akan diperoleh pada Februari 2021.

“Kami meminta penambahan tenor sebelum jatuh tempo pada 2022. Kami sudah berdiskusi dengan mandated lead arranger (MLA) dan member dari sindikasi dan keputusannya akan diperoleh pada Februari 2021,” kata dia dalam acara webinar Samuel Sekuritas, Selasa (17/11).

Dengan perpanjangan waktu tersebut, Welly optimistis tidak akan menambah beban utang jatuh tempo pada 2024. Kendati pada 2024, Sritex juga memiliki obligasi global jatuh tempo sebesar US$ 150 juta.

Menurut dia, jatuh tempo kedua pinjaman tersebut tidak berdekatan. Pinjaman sindikasi akan jatuh tempo pada awal 2024 dan obligasi global akan jatuh tempo pada Mei 2024, sehingga perusahaan masih memiliki waktu untuk melakukan refinancing.

“Sritex juga tidak akan melakukan refinancing mendekati jatuh tempo dan untuk obligasi global ada call option, sehingga bisa juga dilunasi pada 2022. Kami selalu mencermati waktu untuk melakukan refinancing, tidak sampai menunggu waktu sampai jatuh tempo,” ucap dia.

Adapun tahun ini, Sritex memiliki utang jatuh tempo sebesar US$ 42 juta. Welly menjelaskan, utang jatuh tempo tersebut terdiri atas medium term notes (MTN) sebesar US$ 40 juta dan utang jangka pendek sebesar US$ 2 juta. Untuk MTN sebesar US$ 40 juta terdiri atas US$ 30 juta yang sudah dibayarkan pada Oktober 2020 dan US$ 10 juta yang akan dibayarkan pada awal Desember 2020.

Sementara itu, untuk tahun 2021, perseroan memiliki utang jatuh tempo sebesar US$ 33 juta. Utang jatuh tempo tersebut terdiri atas MTN sebesar US$ 25 juta dan pinjaman bank sebesar US$ 8 juta.

Lebih lanjut pada 2023, perseroan memiliki pinjaman bank jatuh tempo sebesar US$ 3 juta. Kemudian pada 2024, perusahaan memiliki obligasi jatuh tempo sebesar US$ 150 juta. Sritex tercatat memiliki obligasi global jatuh tempo lainnya pada tahun 2025 sebesar US$ 225 juta. “Untuk obligasi global, tenornya rata-rata jangka panjang sehingga tidak membebankan likuiditas perusahaan,” kata dia.

Kinerja Meningkat

Welly mengungkapkan, pinjaman yang diperoleh Sritex digunakan untuk mendukung kinerja perusahaan. Tahun depan, perusahaan menargetkan penjualan meningkat 5-7% dibandingkan proyeksi penjualan 2020. Namun, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk merevisi setelah melihat realisasi 2020 nantinya.

Perseroan juga sudah mempersiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 55 juta untuk mendukung kinerja tahun depan. Belanja modal ini akan digunakan untuk maintenance alat dan fasilitas yang ada di Sritex.

Terkait ekspansi pabrik, Welly menjelaskan, pihaknya terbuka untuk membangun pabrik baru ataupun mengakuisisi pabrik yang sudah ada. “Untuk ekspansi pabrik, sifatnya open bisa dengan membangun pabrik baru ataupun kalau ada kesempatan akuisisi. Namun, untuk rencana konkret belum ada dengan melihat perkembangan di pasar,” terang dia.

Hingga kuartal III-2020, Sritex mencatatkan penjualan sebesar US$ 907 juta, meningkat 1,34% dibandingkan kuartal III-2019 yang mencapai US$ 895 juta. Penjualan ini paling banyak dikontribusi oleh segmen pemintalan sebesar US$ 360 juta, segmen garmen sebesar US$ 250 juta, segmen finishing sebesar US$ 241 juta, dan segmen weaving sebesar US$ 56 juta.

Penjualan yang meningkat ini berkontribusi positif terhadap laba bersih Sritex yang tercatat sebesar US$ 73,8 juta hingga kuartal III-2020 atau meningkat 2,21% dibandingkan kuartal III-2019 yang mencapai US$ 72,2 juta. Segmen garmen menjadi penyumbang terbesar terhadap laba perseroan, yakni mencapai US$ 69 juta.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN