Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
sritex

sritex

Sritex Raup Laba Bersih US$ 87,65 Juta

Rabu, 1 April 2020 | 20:17 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) meraih laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 87,65 juta sepanjang 2019. Nilai ini bertumbuh 3,66% dari perolehan tahun 2018 senilai US$ 84,55 juta.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada Rabu, (1/4), pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan Sri Rejeki Isman (Sritex) sebesar 14,56% dari US$ 1,03 miliar pada 2018 menjadi US$ 1,18 miliar hingga akhir tahun lalu. Sedangkan pertumbuhan beban pokok penjualan hanya 11,34% dari US$ 850,16 juta menjadi US$ 946,58 juta.

Sritex juga membukukan kenaikan aset menjadi US$ 1,56 miliar tahun lalu, dibandingkan akhir 2018 senilai US$ 1,36 miliar. Peningkatan aset ini ditopang oleh aset lancar yang meningkat menjadi US$ 894,76 juta dan aset tidak lancar yang meningkat menjadi US$ 664,49 juta.

Liabilitas perseroan juga mengalami kenaikan menjadi US$ 966,58 juta dari US$ 848,02 juta pada akhir 2018. Liabilitas yang meningkat ditopang oleh peningkatan liabilitas jangka panjang menjadi US$ 784,04 juta, meski liabilitas jangka pendek menurun menjadi US$ 182,54 juta.

Sebelumnya, perseroan telah bernegosiasi dengan salah satu perusahaan fesyen terbesar di Amerika Serikat (AS) untuk menjadikan perseroan sebagai pemasok garmen atau pakaian jadi sejak tahun lalu. Apabila negosiasi berjalan lancar, nilai transaksinya diperkirakan mencapai US$ 1 miliar.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan mengatakan, penambahan pasar ekspor ke AS merupakan keuntungan dari efek perang dagang antara AS dan Tiongkok. Sebab, calon pembeli garmen dari Sritex ini memiliki bobot yang besar dari pemasok asal Tiongkok.

Dia mengakui, perseroan bukan satu-satunya yang mengincar peluang dari pasar AS. Meski demikian, perseroan meyakini bisa bersaing dengan perusahaan tekstil atau garmen lain di pasar global. Kepercayaan diri ini, lantaran perseroan memiliki basis produksi sendiri yang bisa menghemat waktu pengiriman barang. Hal ini diminati oleh calon mitra dari luar negeri.

Pada kesempatan sama, Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam menjelaskan, jika efek perang dagang AS-Tiongkok terus berlanjut, maka peningkatan ekspor perseroan dari pasar AS juga bakal berlanjut. Hal ini sudah terlihat dari peningkatan penjualan pada 2019.

Sebagai informasi, selain pakaian jadi, Sritex juga memproduksi seragam militer yang berkualitas tinggi. Hingga saat ini setidaknya sudah ada 35 negara yang memesan seragam untuk pasukan militernya ke Sritex.

Lebih lanjut, Welly menilai, perseroan masih memiliki ruang yang besar untuk melakukan penggalangan dana pada tahun ini. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dana ekspansi maupun refinancing selama 2020.

Pertengahan Oktober tahun lalu, perseroan sukses menawarkan global bond senilai US$ 225 juta yang memiliki kupon 7,25% dan akan jatuh tempo pada 2025. Minat investor yang tinggi dalam menyerap surat utang tersebut tercermin dari penawaran yang masuk mencapai lebih US$ 430 juta. Porsi investornya berasal dari Asia 71%, Eropa, Timur Tengah, 27% persen, dan AS sebesar 2%. Sritex memperoleh peringkat Ba3 dengan outlook stabil dari Moody's dan BB- stabil dari Fitch Ratings.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN