Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Sritex Tengah Merestrukturisasi Utang US$ 1,4 Miliar

Senin, 14 Juni 2021 | 17:47 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex tengah memproses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) mencapai US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 19,6 triliun.

Anggota tim administrator yang ditetapkan oleh Pengadilan Semarang Alfin Sulaiman menjelaskan, utang tersebut terdiri atas Rp 700 miliar dari kreditur terjamin dan sekitar Rp 19 triliun dari kreditur tidak terjamin. "Verifikasi utang masih dalam proses dan nilai akhir utang akan diumumkan segera," jelas Sulaiman berdasarkan laporan Bloomberg, belum lama ini.

Sritex sebelumnya mengajukan perpanjangan waktu proses penangguhan utang menjadi 120 hari dari sebelumnya 45 hari dan akan berakhir pada akhir 21 Juni 2021. Perpanjangan dilakukan didorong keinginan Sritex untuk menambah waktu terkait peninjauan secara komprehensif bisnis dan operasi perusahaan. Sritex akan menyerahkan rencana akhir kepada kreditur pada 7 Oktober 2021 dan melakukan voting pada 14 Oktober 2021.

Adapun, Sritex telah dikenakan status PKPU sejak akhir Mei setelah mitra bisnisnya, CV Prima Karya, mengklaim Sritex melakukan keterlambatan pembayaran utang sebesar Rp 5,5 triliun. Sebelum permohonan PKPU itu, Sritex telah menunda pembayaran pinjaman dalam denominasi dolar dan sedang mempersiapkan proposal restrukturisasi kepada peminjam.

Performa Sritex saat ini juga tidak begitu baik di pasar obligasi. Pasalnya, peringkat obligasi global 2025 dan 2024 sangat tertinggal, dibandingkan obligasi global lainnya di Indonesia. Penurunan tersebut dipengaruhi atas pandemi Covid-19 yang menekan penjualan ekspor perseroan.

Tahun lalu dicatat penurunan ekspor hingga 17% akibat pandemi dan meluasnya penyebaran virus corona ini menghambat proses pemulihan industri tekstil. Kondisi serupa juga dialami perusahaan tekstil lainnya, PT Pan Brothers Tbk (PRBX) selaku rival dari Sritex juga telah digugat Bank Maybank Indonesia terkait PKPU di Pengadilan Jakarta Pusat.

Menanggapi hal ini, Head of Corporate Communications Sritex Joy Citradewi mengatakan, pihaknya tidak bisa menginformasikan mengenai detail klaim kredit dan sedang menunggu verifikasi dari administrator.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Semarang mengabulkan permohonan PKPU kepada Sritex. Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara ini telah mengabulkan permohonan PKPU dari CV Prima Karya dan Sritex dikenakan PKPU sementara.

Patra M Zen, Kuasa Hukum Sri Rejeki Isman mengungkapkan, pihaknya selaku debitur akan bersikap kooperatif dan terbuka dalam proses PKPU ini, khususnya kepada perbankan, pemegang saham, obligasi dan vendor atau supplier.

"Debitur akan menerapkan kebijakan yang fair dan perlakuan sama (equal treatment) terhadap semua kreditur," jelas Patra.

Adapun Fitch Ratings menurunkan peringkat Sritex menjadi B- dari sebelumnya BB-. Faktor utama penekan peringkat adalah belum terselesaikannya perpanjangan sindikasi.

Sebagai informasi, pinjaman sindikasi US$ 350 juta diraih Sritex berdasarkan perjanjian pinjaman 2 Januari 2019 dan perubahan perjanjian 20 Maret 2019. Para kreditur yang terlibat sindikasi ini terdiri atas Citigroup Global Markets Asia Ltd, DBS Bank Ltd, PT Bank HSBC Indonesia serta HSBC Ltd. Sindikasi jatuh tempo pada 2 Januari 2022. Pinjaman ini merupakan pinjaman tanpa jaminan dan tanpa komitmen.

Dalam laporan keuangan Sritex dijelaskan, pandemi covid-19 membuat proses perpanjangan pinjaman menjadi lebih lama. Manajemen menilai, likuiditas perbankan menurun, sehingga penambahan fasilitas bank maupun pinjaman baru menjadi lebih sulit.

Selain itu, pandemi yang membuat pelanggan perseroan meminta relaksasi tagihan. Tak ketinggalan, perusahaan membeli bahan baku untuk kebutuhan yang lebih lama untuk menjamin ketersediaan bahan baku sekiranya ada lockdown di negara supplier.

Saat ini, permintaan pasar ekspor dan lokal dinilai mulai mengalami peningkatan ke arah normal, karena penutupan sementara atau berkurangnya jam kerja sudah tidak diberlakukan di berbagai negara dan provinsi.

Sritex juga memproduksi produk yang dibutuhkan dalam menghadapi Covid-19, yaitu produk masker dan pakaian pelindung diri anti-virus. Manajemen mencatat saat ini permintaannya sangat tinggi, sehingga perusahaan menambah jam kerja pada departemen-departemen terkait.

Tahun lalu, Sritex mengalami penurunan laba bersih sebesar 2,65% secara tahunan menjadi US$ 85,32 juta, dibandingkan akhir 2019 sebesar US$ 87,65 juta. Namun, pendapatan perseroan bisa meningkat sebesar 8,52% secara tahunan menjadi US$ 1,28 miliar, dari sebelumnya US$ 1,18 miliar. Sejalan dengan naiknya pendapatan, beban pokok penjualan juga naik menjadi US$ 1,05 miliar dari sebelumnya US$ 946,58 juta.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN