Menu
Sign in
@ Contact
Search
Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) atau STA Resources menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sekaligus paparan publik secara daring pada Jumat, 15 Juli 2022.

Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) atau STA Resources menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sekaligus paparan publik secara daring pada Jumat, 15 Juli 2022.

STA Resources (STAA) Fokus Hilirisasi, termasuk Bangun Pabrik Minyak Goreng

Jumat, 15 Juli 2022 | 18:06 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

MEDAN, investor.id – Emiten perkebunan kelapa sawit yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) atau STA Resources akan fokus mengembangkan hilirisasi pada tahun ini, sehingga memberikan nilai tambah dari produk baru dan terjadi diversifikasi basis pelanggan.

“Kami telah melakukan hilirisasi usaha ke industri pabrik pengolahan inti sawit, pabrik ekstraksi ampas inti sawit, dan segera membangun industri pabrik minyak goreng,” kata Direktur Utama STA Resources, Mosfly Ang, saat paparan publik secara daring, Jumat (15/7/2022).

Di bidang pemasaran, STA Resources akan meningkatkan kinerja bisnis hulu (upstream) dan ekspansi di bisnis hilir (downstream) melalui pembangunan refinery berkapasitas 2.000 MT CPO/hari, bersamaan dengan pembangunan fasilitas dermaga dan tangki timbun berkapasitas 35.000 MT yang akan selesai pada Oktober 2023.

Mosfly mengakui, tahun lalu kondisi usaha di seluruh dunia belum normal akibat pandemi Covid-19. Namun, di tengah ketidakpastian itu, perseroan mampu membukukan kenaikan kinerja yang signifikan seiring dengan kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai produk utama perseroan di pasar dunia.

Baca juga: Mantap! Laba Bersih Sumber Tani (STAA) Melesat 154% di Kuartal I

Tahun 2021, emiten berkode saham STAA ini berhasil menjual 574.539 ton produk, yang meliputi minyak sawit, minyak inti sawit, tandan buah segar (TBS), inti sawit, bungkil sawit, dan ampas sawit. Namun, jumlah volume penjualan itu turun tipis 4,73% dari tahun 2020 sebesar 603.051 ton.

Menurut dia, pencapaian kinerja STAA sangat diuntungkan dengan harga CPO di pasar internasional yang pernah mencatat level tertinggi dalam sejarah Indonesia yaitu US$ 1.435 per ton di CIF Rottterdam dan 5.400 per ton ringgit Malaysia di Malaysian Derivatives Exchange (MDEX).

Mosfly meyakini prospek sawit sangat menjanjikan, apalagi produk CPO dan turunannya masih menjadi komoditas unggulan penyumbang devisa Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bahkan mengungkapkan nilai ekspor CPO menembus US$35 miliar pada 2021, naik 52,8% dari US$ 22,9 miliar pada 2020.

“Harga CPO juga akan tetap menguat dengan dimulainya kembali program Biodiesel 35 (B35) Indonesia atau B40 sesuai kebijakan pemerintah ke depan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan STA Resources, Lim Chi Yin mengungkapkan kinerja kuartal I-2022 yang sangat positif dengan pendapatan Rp 1,63 triliun, naik 44,24% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,13 triliun. Laba bersih mencapai Rp 432,39 miliar, melesat 155% dari tahun sebelumnya Rp 169,67 miliar.

Baca juga: Saham CPO, Bagaimana Nasibnya?

Dengan kinerja yang kuat, STAA juga meringankan tingkat utangnya dengan pelunasan sebesar Rp 117 miliar kepada Bank Mandiri. “Aset kami solid Rp 7 triliun dengan kewajiban Rp 2,83 triliun, ekuitas Rp 4,17 triliun, sehingga rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) kami terjaga di level 0,67 kali,” ungkap Lim.

Penjualan terbesar pada kuartal I-2022 masih dari produk minyak sawit Rp 1,31 triliun atau 80,36% dari total pendapatan. Sisanya disumbang inti sawit, lalu TBS, bungkil sawit, dan ampas sawit. Penjualan ke pasar lokal dominan mencapai Rp 1,61 triliun, sisanya Rp 22,54 miliar untuk ekspor.

Dia mengatakan, bisnis CPO berpotensi besar dapat menguntungkan produsen karena margin laba yang besar, permintaan internasional yang tinggi diikuti dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia sebesar 9,6 miliar pada tahun 2050, lalu tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibanding minyak nabati yang lain, dan gencarnya kampanye penggunaan biofuel secara global.

“Sejumlah faktor tersebut diiringi dengan harapan membaiknya perekonomian Indonesia dan upaya pemerintah mengatasi pandemi. Kami optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja yang stabil di masa mendatang,” jelasnya.

Bagikan Dividen

STA Resources menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sekaligus paparan publik secara daring pada Jumat, 15 Juli 2022.

Sejumlah agenda penting disetujui di antaranya pengesahan laporan tahunan tahun buku 2021 dan penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2021 yang senilai Rp 1,08 triliun.

Para pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 359,03 miliar. Hal ini setara dengan 33,34% Dividend Payout Ratio (DPR) dan 2,87% Dividend Yield (per harga saham Rp 1.250).

Baca juga: Minyak Kelapa Sawit Berkontribusi Hingga 54% ke Neraca Perdagangan Juni 2022

Dividen ini terdiri atas Rp 250 miliar sebagai dividen interim yang sudah dibagikan kepada para pemegang saham sebelum perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) saham dan Rp 109,03 miliar atau setara dengan Rp 10 per saham yang akan dibagikan sebagai dividen tunai.

Menurut Mosfly Ang, perseroan memang berkomitmen akan membagikan dividen kepada para pemegang saham sesuai dengan komitmen saat perusahaan memutuskan untuk listing di BEI. Saham STAA pertama kali resmi tercatat (listing) di papan perdagangan BEI pada 10 Maret 2022. Selain itu, perseroan juga berkomitmen untuk membagikan dividen dengan rasio 30% pada tahun mendatang.

“Setelah IPO, kami berencana membagikan dividen kas kepada pemegang saham dikisaran 30% dari laba bersih dengan tidak mengabaikan tingkat kesehatan keuangan kami dan tanpa mengurangi hak dari RUPS untuk menentukan lain sesuai dengan anggaran dasar perseroan,” jelasnya.

Adapun dari laba bersih 2021 akan dialokasikan Rp 218,07 miliar untuk dana cadangan wajib perusahaan dan sisa dana yang belum ditentukan penggunaannya akan ditetapkan sebagai laba ditahan untuk mnambah modal kerja perusahaan.

Baca juga: Pemerintah Berbalik Dukung Industri Sawit, Begini Dampaknya terhadap Saham Emiten CPO

Tahun lalu, perseroan berhasil membukukan penjualan neto Rp 5,88 triliun, naik 39,96% dari penjualan neto tahun 2020 sebesar Rp 4,2 triliun. Dari penjualan tersebut, laba periode tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,08 triliun, meroket 162,72% dari Rp 410,03 miliar pada 2020.

Di sisi lain, dalam RUPST tersebut juga disampaikan laporan realisasi penggunaan dana bersih hasil IPO sebesar Rp 526,69 miliar. Per Juni 2022, dana IPO sudah dipakai untuk pembangunan refinery Rp 1,48 miliar (0,28% dari target alokasi), pembangunan fasilitas dermaga Rp 304 juta (0,06%) dan tangki timbun Rp 25,50 juta (0,00%). Dengan demikian, dana IPO baru terpakai Rp 1,81 miliar dan tersisa Rp 524,88 miliar yang belum digunakan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com