Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (sumber: www.kemenkeu.go.id)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (sumber: www.kemenkeu.go.id)

Stabilitas dan Reputasi di Pasar Keuangan Harus Dijaga

Triyan Pangastuti, Kamis, 2 Januari 2020 | 11:43 WIB

JAKARTA, investor.id -  Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan perlu menjaga dan mempertahankan reputasi di pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor dalam menanamkan investasi di pasar modal.

Ia mengatakan, stabilitas dan reputasi harus dijaga sebab pembangunan Indonesia ke depan membutuhkan aliran modal asing masuk (capital inflow) yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri, guna menggerakkan perekonomian untuk tujuan pembangunan .

"Instrumen itu perlu memiliki track record dan valuasi yang memiliki integritas sehingga investor bisa buat keputusan yang sangat jelas mengenai tingkat risiko maupun return" jelasnya saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1).

Ia mengatakan bahwa kepercayaan pasar berasal dari penguatan integritas market dengan basis good corporate governance. Hal ini menjadi fondasi penting bagi pasar modal dalam negeri.

Oleh karena itu , Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, mengatakan akan terus bekerja sama dengan stakeholderterkait yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terdiri dari  Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Hal ini untuk membangun integritas dan kondisi stabilitas di sektor keuangan bagi para investor dalam negeri.

Adapun market confidence investor atas pasar modal Indonesia tergolong tinggi. Fakta ini diperkuat dari hasil survei Bloomberg terhadap 57 global investor dan trader yang menempatkan Indonesia di peringkat tertinggi dibandingkan dengan negara-negara emerging market lain.

Selain itu, pemerintah saat ini memiliki beragam instrumen investasi untuk mendorong kesadaran berinvestasi di masyarakat. Pasalnya diversifikasi investasi penting untuk pembiayaan di sektor real estate atau infrastruktur.

"Dengan mulai tumbuhnya masyarakat kelas menengah maka kesadaran mereka mendiversifikasi tabungan mereka itu menjadi sangat penting," kata Sri Mulyani.

Pada kesempatan yang sama, Ketua OJK, Wimboh Santoso mengatakan untuk tahun 2020 Indonesia masih dihadapkan pada kondisi downside risk dari perlambatan ekonomi global. Apabila tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok belum menemukan kesepakatan yang solid dan belum meredanya gejolak politik di beberapa kawasan serta perkembangan Brexit di Eropa.

Merespons kondisi tersebut, maka tahun 2020 ini penurunan tingkat suku bunga
acuan yang didukung dengan kebijakan quantitative easing masih akan berlanjut, terutama di Eropa.

"Kami menyampaikan apresiasi atas berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi dan daya saing perekonomian .kita melalui reformasi birokrasi yang berkelanjutan di berbagai sektor, termasuk
menyediakan insentif fiskal dalam pengembangan sektor-sektor prioritas" jelasnya.

Di samping itu ia juga menyambut baik berbagai insentif pajak yang telah diberikan dalam meningkatkan iklim investasi di pasar modal Indonesia, seperti insentif pajak terhadap produk investasi reksadana, DIRE, DINFRA dan KIK-EBA menjadi 5% sampai dengan 2020 dan 10% untuk tahun 2021 dan seterusnya.

"Kami juga mengapresiasi angin segar yang disampaikan oleh Ibu Menteri
Keuangan pada Penutupn Bursa 2019 lalu yang merencanakan pemberian insentif PPh Badan bagi perusahaan yang melantai di bursa saham dan juga pajak dividen" ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA